
Wacana perubahan nama RSUD Al-Ihsan menjadi RSUD Welas Asih di Jawa Barat telah memicu perdebatan sengit di ruang publik. Bagi sebagian orang, pergantian nama dianggap sepele dan tidak esensial. Namun di balik diskusi yang tampak sederhana ini, tersembunyi pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ini sekadar soal nama, atau sebenarnya merupakan cerminan pertarungan identitas budaya dan keagamaan di Indonesia?
Tulisan ini tidak hendak memihak salah satu kutub, melainkan mengajak kita semua menyikapi perdebatan ini secara lebih proporsional, rasional, dan jernih. Kita perlu melampaui reaksi emosional, karena yang dipertaruhkan bukan hanya papan nama rumah sakit, tetapi wajah dan arah keberagamaan serta kebudayaan kita ke depan.
Bahasa Bukan Sekadar Simbol, tapi Identitas
Nama bukan hanya tanda; ia adalah representasi nilai, makna, dan ikatan emosional. “Al-Ihsan” dalam bahasa Arab bermakna kebaikan moral, sebuah konsep luhur dalam Islam. Sementara itu, “Welas Asih” adalah ungkapan dalam bahasa Sunda yang sarat nuansa kasih sayang, kehangatan, dan kedekatan emosional.
Dalam pelayanan publik, penggunaan bahasa ibu atau bahasa lokal bukan sekadar formalitas, tetapi sarana membangun ikatan psikologis yang lebih kuat. Berbagai penelitian komunikasi menunjukkan bahwa bahasa lokal meningkatkan kenyamanan, kepercayaan, dan kualitas interaksi, terutama dalam konteks layanan kesehatan.
Pribumisasi Islam atau Nativisasi?
Sebagian pihak mencemaskan bahwa perubahan nama ini adalah bentuk “nativisasi,” semacam upaya menyingkirkan simbol Islam universal demi nilai-nilai lokal. Namun sejarah panjang Islam di Nusantara justru membuktikan hal sebaliknya: penerjemahan nilai-nilai Islam ke dalam konteks budaya lokal adalah bagian dari strategi dakwah yang cerdas dan bijaksana.
Para Walisongo tidak memaksa masyarakat Jawa menanggalkan identitas budayanya. Mereka memanfaatkan wayang, gamelan, bahasa lokal, hingga arsitektur Hindu-Buddha sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai tauhid. Ini bukan kompromi pada akidah, melainkan metode komunikasi yang kontekstual dan efektif, yang mempermudah penerimaan Islam.
Alienasi Budaya dan Politik Identitas
Ketika simbol-simbol Islam hanya disampaikan dalam bahasa atau bentuk budaya Arab, muncul risiko terjadinya jarak psikologis. Bahasa dan simbol yang tidak akrab bisa menimbulkan rasa asing dan memicu alienasi budaya. Padahal Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan sebagai budaya eksklusif bangsa Arab.
Alienasi semacam ini menjadi lahan subur bagi munculnya politik identitas yang eksklusif dan memecah belah. Dalam jangka panjang, hal ini melemahkan persatuan umat dan mengikis kepercayaan publik terhadap layanan pemerintah.
Bahasa Publik dan Filosofi Pelayanan
Pelayanan publik yang baik tidak hanya bergantung pada infrastruktur dan sistem administratif, tetapi juga soal bahasa dan pendekatan. Nama rumah sakit bukan sekadar label administratif, tetapi juga representasi filosofi layanan yang diusung.
Nama “Welas Asih” menawarkan makna empati, kasih sayang, dan kedekatan yang lebih mudah dirasakan masyarakat Sunda. Dalam konteks rumah sakit, keakraban bahasa bisa menjadi langkah awal membangun rasa nyaman, memperkuat kepercayaan pasien, dan menghadirkan layanan yang lebih berorientasi pada kemanusiaan.
Strategi Dakwah Kultural yang Terbukti
Islam di berbagai belahan dunia telah menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansinya. Masjid-masjid di Tiongkok dibangun dengan atap khas dinasti Ming, atau di Afrika yang dipenuhi tarian sufi. Semua itu bukan bentuk kompromi akidah, tetapi strategi dakwah kultural yang membuat Islam lebih dekat, diterima, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Perubahan nama menjadi “Welas Asih” dapat dibaca sebagai kelanjutan dari strategi ini: menghadirkan nilai-nilai Islam dalam bahasa yang membumi, akrab, dan menyatu dengan jiwa masyarakat Sunda. Ini adalah bentuk komunikasi budaya yang menghindari kesan Islam sebagai sesuatu yang asing atau jauh.
Membutuhkan Sikap Proporsional dan Bijak
Kita perlu menyadari bahwa perdebatan soal nama rumah sakit rawan ditarik ke ranah politik identitas atau fanatisme simbolik. Oleh karena itu, perlu dihindari sikap reaktif yang hanya berfokus pada permukaan. Pergantian nama tidak serta-merta menghapus nilai-nilai yang dijunjung rumah sakit tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai itu diinternalisasi dan diwujudkan dalam pelayanan.
Sebaliknya, polemik ini bisa menjadi momentum pembelajaran publik untuk membicarakan hal-hal yang lebih substansial: bagaimana membangun negara yang inklusif, yang mampu merangkul keragaman budaya sambil meneguhkan nilai-nilai keislaman.
Mengapa Kita Harus Berdiskusi Lebih Dalam
Pergantian nama RSUD Al-Ihsan menjadi RSUD Welas Asih bukan akhir dari perdebatan, melainkan awal dari dialog yang lebih luas tentang masa depan wajah Islam di Indonesia. Apakah kita ingin Islam tampil eksklusif, kaku, dan terasa asing di tanah airnya sendiri? Atau kita ingin Islam yang welas asih, ramah, membumi, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat?
Kita memerlukan Islam yang memberi bukan hanya kepada mereka yang sepakat, tetapi juga kepada yang berbeda. Islam yang menyapa, bukan mendikte. Islam yang menyatu, bukan menjauh. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kita membutuhkan Islam yang welas asih—dan barangkali, inilah saat yang tepat untuk memulainya, bahkan dari sebuah nama.
*Artikel hasil diskusi Ihsan Nugraha dan Herdiana.





