
Oleh Herdiana*
Ada kalanya waktu berhenti berdetak—
bukan jarum jam terpaku pada angka,
melainkan napas tertahan di tengah doa:
embun pagi menggantung, enggan jatuh ke bumi.
Beginilah kiranya waktu
bagi tujuh pemuda yang memilih gua—
ketika dunia di luar terlalu keras:
keras seperti batu karang memecah gelombang,
keras seperti guntur membelah langit.
Iman mereka masih rapuh—
seperti daun muda yang baru berkuncup,
tapi bergetar menantang angin.
Di zaman Raja Decius sang penyembah berhala,
kebenaran dianggap sesat,
dan kesesatan dipuja bak dewa.
Suara hati mereka berbisik tentang Yang Satu,
sementara telinga dipaksa mendengar
mantra patung-patung batu yang dingin—
dingin seperti salju di puncak gunung,
dingin seperti mata tanpa cahaya.
Lari mereka bukanlah pengecut,
melainkan hijrah:
tubuh dan jiwa yang bergerak
menuju gua di Bukit Rakim—
tempat di mana doa tak perlu berteriak,
di mana langit bisa mendengar bisik.
Gua itu menjadi saksi keheningan
yang lebih berharga dari emas,
lebih tenang dari danau di fajar.
Qitmir, si anjing setia,
menjaga mulut gua dengan kewaspadaan—
seolah tahu tuannya sedang menjalani
misinya yang paling suci.
Lalu Allah turunkan tidur panjang:
lebih jauh dari musim,
lebih dalam dari samudra.
Tiga ratus sembilan tahun—
melampaui napas manusia fana,
melampaui usia pohon tertua.
Matahari menggeser posisi:
membelai wajah di pagi hari,
lalu berpindah ke sisi gua saat senja.
Alam pun ikut menjaga,
seperti ibu yang menidurkan anaknya
dengan lagu tanpa suara.
Ketika mata terbuka, dunia telah berganti rupa.
Raja yang dulu ditakuti—kini debu,
debu yang terbang menari dengan angin,
debu yang kembali memeluk tanah.
Masyarakat yang mereka tinggalkan
kini menyembah Tuhan yang sama.
Uang kuno di genggaman
menjadi artefak yang membuat pedagang terperangah.
Mereka bagai mimpi yang tersasar di realitas baru.
“Berapa lama kita di sini?” tanya seorang.
“Sehari, atau setengah hari,” jawab yang lain.
Waktu—mainan di tangan Sang Pencipta,
seperti tanah liat di genggaman pematung,
seperti nada di jemari pemetik kecapi.
Ironi yang mengharu:
dulu diburu karena iman,
kini terbangun di dunia
di mana iman mereka berdiam di altar-altar.
Allah tunjukkan: kebenaran tak akan terkubur,
meski harus menunggu tiga abad lamanya.
Dan di akhir kisah,
mereka memilih kembali ke gua—
menutup mata untuk selamanya,
menyerahkan jiwa pada Sang Khalik.
Bukan untuk dikenang,
tapi untuk menggenapkan sunyi:
hidup bukan demi gemuruh tepuk tangan,
tapi untuk senyum-Nya di keabadian.
Gua Ashabul Kahfi kini
menjadi tanda:
Allah pelindung hamba-hamba-Nya
yang mencari gua-gua keheningan
di tengah gurun kesibukan dunia.
Kadang, menemukan Tuhan,
kita perlu menyepi—
tak perlu tiga abad;
cukup sesaat sejernih air mata,
sesunyi bulan di langit sepi.
*Penulis adalah dosen dan pemerhati komunikasi budaya Islam






