
Oleh Popi Sri Mulyani*
Self-love atau cinta terhadap diri sendiri seringkali disalahpahami sebagai bentuk egoisme. Padahal, dalam konteks yang sehat, self-love adalah sikap menghargai, merawat, dan menghormati diri sebagai anugerah Allah.
Dalam Islam, mencintai diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan, melainkan bentuk syukur atas penciptaan Allah. Para ahli psikologi pun menekankan pentingnya self-love sebagai landasan kesehatan mental dan keseimbangan hidup.
Dalam Islam, konsep mencintai diri sendiri sejalan dengan ajaran tawazun (keseimbangan) dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(QS. At-Tin: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan dengan nilai yang tinggi dan berharga. Maka mencintai diri sendiri adalah bentuk penghargaan terhadap ciptaan Allah, bukan sebagai bentuk kesombongan, tetapi sebagai bentuk syukur dan tanggung jawab.
mencintai diri sendiri dalam Islam juga terkait dengan menjaga diri dari keburukan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu…”(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa mencintai diri diwujudkan dalam bentuk menjaga kesehatan, istirahat, makan yang baik, serta menjauhi hal-hal yang merusak diri.
Self-love tidak berarti menuruti hawa nafsu, tetapi justru bagian dari penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Islam mendorong umatnya untuk mengenali, memperbaiki, dan mencintai diri agar bisa memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)
Penyucian jiwa merupakan proses mencintai diri, dalam bentuk yang paling luhur—yakni memperbaiki akhlak, meninggalkan dosa, dan memperkuat iman.
Para ahli psikologi modern melihat self-love sebagai dasar kesehatan mental. Menurut Kristin Neff, seorang peneliti self-compassion, self-love adalah menerima diri apa adanya, tidak menghakimi diri sendiri secara keras, dan memahami bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari kemanusiaan.
Sementara itu, Abraham Maslow dalam teorinya tentang hierarki kebutuhan, menempatkan penghargaan terhadap diri (self-esteem) sebagai salah satu kebutuhan penting yang mendasari aktualisasi diri.
Dalam konteks psikologi Islam, Prof. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa keseimbangan antara cinta diri dan cinta kepada Allah adalah kunci kesehatan jiwa. Ia menegaskan bahwa seseorang yang tidak memiliki self-love akan cenderung memiliki harga diri rendah, pesimis, dan sulit mencapai kebahagiaan yang hakiki.
Islam mengajarkan umatnya untuk mencintai diri secara proporsional. Self-love yang sehat akan mendorong seseorang untuk:
- Mensyukuri nikmat Allah, termasuk mensyukuri semua yang ada pada diri sendiri.
- Merawat tubuh dan jiwa dengan hal-hal yang bermanfaat, berzikir, berpuasa, mempercantik diri, olahraga, makan sehat, berkumpul dengan orang-orang positif, menghindari circle toxic, tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
- Menjaga kehormatan diri, tidak merendahkan atau menyiksa diri.
- Menghindari sikap berlebihan (ghurur) yang menjurus pada kesombongan.
- Mengembangkan potensi diri, sebagai bentuk amanah dari Allah.
Rasulullah SAW sendiri adalah teladan self-love yang benar. Beliau menjaga diri, merawat kesehatan, berdzikir untuk ketenangan hati, dan tidak membiarkan diri larut dalam kesedihan.
Self-love dalam Islam bukanlah bentuk egoisme, melainkan bagian dari amanah spiritual untuk menjaga, menghormati, dan menyucikan diri. Islam mengajarkan bahwa mencintai diri adalah fondasi untuk mencintai orang lain dan mencintai Allah SWT secara utuh.
Dengan memahami dan mengamalkan konsep self-love secara Islami, seseorang akan lebih mampu menjalani hidup dengan tenang, bijak, dan penuh makna.
*Penulis adalah mahasiswa KPI B semester VIII





