
Oleh Dede KS*
Salah satu pesan penting dalam Al-Qur’an adalah perintah berbakti kepada orang tua. Bahkan Allah sandingkan perintah tersebut dengan ketauhidan. Dia berfirman:
“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan berbuat baiklah kepada orang tua.” (QS. An-Nisa: 36).
Hal ini menunjukan betapa mulianya berbakti kepada orang tua.
Bagaimana tidak, sepanjang hidup orang tua memberikan pengorbanan yang tak ternilai untuk anak-anaknya. Ibu rela kehilangan waktu tidurnya karena tangisan kita. Ayah rela mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan kita. Dan tak terhitung do’a-do’a yang selalu mereka langitkan untuk kebaikan kita.
Sungguh, hati orang tua selalu dipenuhi cinta untuk anak-anaknya. Mereka adalah orang yang paling bahagia ketika kita lahir ke dunia, dan seringkali menjadi orang yang paling khawatir akan kehilangan kita.
Karena luasnya kasih sayang mereka, hingga kita tidak bisa mengukurnya dengan kata-kata. Bahkan ketika kita salah, mereka membalasnya dengan maaf dan do’a.
Tapi, semua itu sering kita lupakan ketika kita dewasa. Kita seringkali terlalu sibuk mengejar mimpi dan membahagiakan diri. Hingga kita lupa ada jalan surga yang harus kita tapaki.
Nabi Saw. bersabda, “Sungguh terhina, seorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya yang masih hidup ketika mereka telah dewasa, namun ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim).
Artinya, berbakti kepada orang tua bukanlah sekadar kewajiban, melainkan jalan keselamatan. Siapa yang menapaki jalan itu, maka surga baginya. Dan siapa yang lalai maka akan dijauhkan dari rahmat-Nya.
Ketika Orang Tua Sudah Tiada
Tidak selamanya orang tua akan ada bersama kita. Ada saatnya kursi yang biasa mereka duduki kosong, ruang yang mereka tempati sepi, dan pesan agar kita hati-hati di jalan tidak terdengar lagi. Ketika saat itu tiba, tidak berarti selesai tugas kita untuk berbakti kepadanya.
Seorang sahabat Nabi, Abu Usaid Malik bin Rabi’ah bercerita:
بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا».
“Ketika aku sedang duduk di sisi Rasulullah Saw., datanglah seorang lelaki dari kaum Anshar lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, adakah masih tersisa bagiku kewajiban berbakti kepada kedua orang tuaku setelah kematian mereka, yang dengannya aku bisa berbakti kepada mereka?’ Beliau Saw. menjawab: ‘Ya, ada empat perkara: mendoakan keduanya, memohonkan ampunan bagi keduanya, menunaikan janji mereka, memuliakan sahabat-sahabat mereka, dan menyambung silaturahmi yang tidak tersambung kecuali melalui keduanya. Itulah yang masih tersisa bagimu dari bakti kepada mereka setelah wafatnya.’” (HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi penegasan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti dengan berakhirnya kehidupan mereka di dunia. Justru saat itulah seorang anak diuji, apakah ia akan terus mengenang orang tuanya dengan doa dan amal baik, atau melupakannya begitu saja?
Setiap manusia tidak ada yang luput dari kesalahan, namun tidak setiap manusia memiliki kesempatan untuk memohon ampunan. Adakalanya kematian itu datang secara tiba-tiba, tanpa sempat kita mengurai dosa-dosa kita dan memohon ampunan kepada-Nya.
Dalam hal ini, sebagai bakti kepada orang tua, maka tugas seorang anak adalah menjadi pelanjut kalimat istighfar bagi orang tua yang sudah tiada.
Kelak istighfar itu akan mengangkat derajat mereka di surga. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah benar-benar akan mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga. Lalu ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, dari mana aku mendapatkan (derajat) ini?’ Maka Allah berfirman, ‘Karena istighfar anakmu untukmu.’”
Demikianlah cara kita berbakti kepada orang tua yang sudah tiada. Wallahu ‘alam.
*Penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Hadits Institut Agama Islam Persis Bandung
Temukan tulisan lainnya dari penulis:





