Website Berita dan Opini
Indeks

Acil Bimbo Tutup Usia: Bandung Kehilangan Harmoni, Indonesia Kehilangan Suara Hati

Acil Bimbo Tutup Usia: Bandung Kehilangan Harmoni, Indonesia Kehilangan Suara Hati
Foto TIMES Indonesia

Oleh Nurdin Qusyaeri

Bandung kembali diliputi duka. Senin malam, 1 September 2025, pukul 22.13 WIB, di Rumah Sakit Hasan Sadikin, salah satu putra terbaiknya berpulang: Darmawan Dajat Hardjakusumah, yang akrab disapa Acil Bimbo. Kabar ini membuat banyak orang tertegun.

Sebab, Acil bukan hanya musisi. Ia adalah simbol budaya, suara nurani, dan wajah harmoni dari Kota Kembang yang tak pernah lekang oleh zaman.

Jejak Seorang Anak Priangan

Lahir di Bandung, 20 Agustus 1943, Acil tumbuh dalam keluarga Sunda yang hangat. Dari pasangan Raden Dajat Hadjakusumah dan Uken Kenran, ia dibesarkan sebagai anak kedua dari tujuh bersaudara. Sejak muda, darah seni mengalir deras dalam dirinya. Di usia belasan, ia sudah tampil di panggung musik SMA dengan grup The Alulas, bahkan menjuarai festival band di Hotel Homann.

Namun takdir membawanya lebih jauh. Bersama Sam dan Jaka—dua saudaranya—serta Iin Parlina, mereka membentuk Trio Bimbo pada 1966, yang kelak menjelma menjadi Bimbo, salah satu grup musik paling berpengaruh di Indonesia.

Baca Juga:  Kabut Gas di Tamansari: Ketika Kampus Jadi Korban

Harmoni yang Tak Pernah Padam

Bimbo dikenal lewat harmonisasi vokal yang khas, lirik puitis, serta musik yang menembus ruang dan waktu. Dari tangan dan suara mereka lahir lagu-lagu abadi: Tuhan, Sajadah Panjang, Ada Anak Bertanya pada Bapaknya, Melati dari Jayagiri, hingga Rindu Rosul

Acil Bimbo adalah sosok sentral. Suaranya yang khas, rendah tapi tegas, menjadi pengikat harmoni. Bersama puisi Taufiq Ismail, Bimbo melahirkan lagu-lagu yang bukan sekadar hiburan, melainkan doa, renungan, bahkan kritik sosial. Lagu seperti Surat untuk Reagan dan Brezhnev atau Antara Kabul dan Beirut menunjukkan keberanian Acil dan Bimbo menyuarakan nurani bangsa.

Cinta Budaya, Peduli Lingkungan

Di luar panggung, Acil adalah seorang budayawan sejati. Ia mendirikan LSM Bandung Spirit yang peduli pada lingkungan dan sosial. Ia juga kerap lantang menolak privatisasi air, termasuk dalam forum Konferensi Asia Afrika ke-60 pada 2015. Baginya, seni harus hadir di tengah masyarakat, memberi cahaya dan jalan keluar, bukan sekadar untuk dikenang.

Musik itu bukan hanya nada, tapi sikap,” begitu ia pernah berkata dalam satu wawancara. Dan memang, sikap itulah yang membuatnya menjadi panutan bagi generasi muda Sunda, bahkan Indonesia.

Momen Kepergian

Kabar wafatnya diumumkan keluarga melalui cucunya, Adhisty Zara, yang juga dikenal sebagai aktris muda. “Innalillahi wa innailaihi rojiun. Darmawan Kusumawardhana Hardjakusumah… Senin, 1 September 2025 jam 22.13 WIB,” tulis Zara di Instagram, memantik ribuan doa dan ucapan belasungkawa.

Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Biologi No. 4 Bandung, disalatkan di Masjid Al Mualimin, dan dimakamkan di TPU Cipageran, Cimahi, Selasa pagi. Kota Bandung pun berduka. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan, “Turut berduka cita atas meninggalnya Acil Bimbo. Semoga almarhum husnul khotimal dan keluarga diberikan ketabahan.”

Duka juga datang dari sahabat-sahabat musisi: Melly Goeslaw, Armand Maulana, hingga Iis Dahlia. Semua sepakat: kepergian Acil adalah kehilangan yang tak tergantikan.

Baca Juga:  Talk Show “Keluarga Ahli Surga” Sukses Digelar: Sambut Muscagab VII PC Persis Pasirjambu 2025

Warisan yang Tak Mati

Kini, Acil memang sudah tiada. Namun warisan yang ditinggalkannya terus hidup. Lagu-lagu religius Bimbo akan selalu hadir setiap Ramadan. Karya-karya sosialnya tetap menjadi pengingat agar bangsa ini tidak kehilangan nurani. Dan bagi warga Bandung, Acil adalah ikon kota: sederhana, hangat, sekaligus visioner.

Ia meninggalkan bukan hanya keluarga—anak, cucu, dan cicit—tetapi juga jutaan orang yang pernah disentuh oleh suaranya. Dari generasi 70-an hingga Gen Z yang mengenalnya lewat cucunya, Acil adalah jembatan lintas waktu.

Pamungkas

Dalam sebuah kesempatan, Acil pernah berkata, “Kami hanya bernyanyi, tapi kalau lagu-lagu kami bisa jadi doa, semoga itu menjadi amal.”

Kini, doa itu kembali pada dirinya. Bandung boleh berduka, Indonesia boleh merasa kehilangan. Namun harmoni yang pernah dinyanyikan Acil Bimbo akan terus abadi, menjadi gema panjang yang tak pernah benar-benar berakhir.

(Dinur, DARAS.ID)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *