
Oleh Hendi Rustandi*
Pagi itu, warga Kiangroke, Banjaran, dikejutkan kabar pilu. Seorang ibu muda ditemukan tewas tergantung di kontrakan kecilnya. Lebih memilukan lagi, dua anaknya yang masih kecil—bocah berusia 9 tahun dan bayi 11 bulan—juga meregang nyawa dengan leher terjerat tali.
Tidak ada tanda keributan. Tidak ada tetangga yang mendengar pertengkaran. Rumah itu terkunci dari dalam, seakan dunia ditutup rapat bersama keputusasaan di dalamnya.
Surat Terakhir: “Cape”
Yang tersisa hanyalah secarik surat. Tulisannya ringkas, namun sarat makna. Kata “cape” berulang kali dituliskan. Ia merasa gagal, merasa tidak sanggup lagi.
Kata sederhana itu kini menjadi saksi betapa berat beban seorang ibu hingga memilih jalan tragis.
Senyum yang Menutupi Luka
Tetangga mengenalnya sebagai sosok biasa, ramah, dan tidak terlihat memiliki masalah rumah tangga. Senja sebelumnya, ia masih sempat berbelanja jajanan sambil tersenyum. Semua tampak baik-baik saja.
Namun siapa sangka, senyum itu hanyalah tirai yang menutupi luka terdalam.
Belajar dari Sebuah Tragedi
Tragedi ini menampar kesadaran kita semua. Betapa sering kita mengabaikan keluhan sederhana: “aku cape.” Kita menanggapinya ringan, padahal bisa jadi itu jeritan jiwa yang sedang menanti uluran tangan.
Kadang, seseorang tidak membutuhkan banyak. Hanya telinga yang mau mendengar, atau pelukan yang mampu menenangkan.
Kini, yang tersisa hanyalah duka. Seorang suami kehilangan istri dan anak-anaknya. Sebuah desa kehilangan warganya. Dan kita semua kehilangan kesempatan untuk mendengar lebih awal jeritan itu.
Doa dan Renungan
Semoga Allah merahmati almarhumah dan kedua anaknya, mengampuni segala khilaf mereka, serta meneguhkan hati keluarga yang ditinggalkan.
Dan semoga kita belajar satu hal penting: jangan pernah menyepelekan kata “cape.” Bisa jadi, itu adalah isyarat terakhir sebelum segalanya terlambat.
*Penulis: Dosen KPI IAI Persis Bandung
Editor: San




