Website Berita dan Opini
Indeks

Wisuda: Saat Toga Terbang, Realita Mendarat

Wisuda: Saat toga terbang, realita mendarat
Foto penulis dibuat nenk Gemini

 

Oleh Hendi Rustandi*

Wisuda selalu terlihat seperti adegan puncak film; semua berjalan pelan, musik penuh haru, bunga beterbangan, dan kamera-kamera ponsel menatap penuh harapan.

Tapi begitu acara selesai dan para wisudawan pulang membawa map berisi ijazah yang tintanya belum benar-benar kering, tibalah saat ketika realita muncul perlahan, seperti tokoh antagonis yang dari tadi diam saja di balik pintu.

Realita itu bernama kesadaran.

Tiga kesadaran yang datang tidak diundang, tapi mustahil diabaikan.

Kesadaran pertama biasanya muncul saat pintu rumah dibuka. Bukan karena toa masjid, bukan pula karena suara motor lewat, tapi karena satu kalimat sakti dari keluarga besar:

“Sudah dapat kerja belum?”

Pertanyaan sederhana yang langsung membuat toga terasa lebih berat daripada saat dipakai. Di momen itu, para sarjana baru akhirnya sadar bahwa menjadi manusia dewasa berarti: harus mencari makan.

Kalau makhluk purba berburu rusa, sarjana modern berburu lowongan kerja. Dan perburuannya dimulai bukan dengan tombak, tetapi dengan file PDF berjudul “CV_Final_BeneranFinal_Fix.pdf”.

Kesadaran kedua menyusul ketika seseorang mulai mengisi CV itu. Ada hening panjang saat menatap kolom “Keahlian”. Dalam hening itu ada gumaman lirih:

“Empat tahun kuliah… saya bisa apa, ya?”

Tiba-tiba semua mata kuliah terasa seperti bayangan. Statistik tinggal trauma angka. Metodologi hanya tinggal judul. Dan skill praktik entah hilang kemana, mungkin tenggelam di lautan tugas-tugas semester empat. Rasanya seperti telah mengarungi empat tahun perjalanan, tapi lupa mengikat ilmu-ilu penting ke ransel.

Namun kesadaran paling kuat justru muncul belakangan, saat sarjana baru mulai melihat dunia lebih luas dari gedung kampus. Ternyata S1 itu bukan puncak gunung, baru undakan pertama tangga. Dunia kerja hari ini punya nada bicara yang tegas:

Baca Juga:  Rihlah Dakwah Zona II: Menguatkan Semangat Menjadi Persistri Hebat di Masjid Al-Fathu Soreang

“Selamat sarjana, tapi levelmu baru pemanasan.”

Di sinilah muncul kesadaran bahwa mungkin, mau tidak mau, harus melanjutkan kuliah. Harus menambah ilmu. Harus menaikkan kualifikasi. Bukan untuk mengejar gelar yang panjang, tapi untuk bertahan di dunia yang gesit dan berubah cepat.

Dan menariknya, bukan hanya industri yang menunggu mereka. Ada ruang-ruang lain yang lebih hangat, lebih dekat, lebih bernilai.

Coba bayangkan ini:

Di sebuah gang kecil, ada majelis taklim yang jamaahnya duduk rapi tiap ba’da Maghrib. Mereka menunggu sosok muda yang bisa menjelaskan agama dengan cara yang bersih, jernih, dan cerdas, bukan hanya mengulang pesan lama tanpa makna segar.

Di sebuah madrasah, para santri menatap kursi kosong guru baru yang belum terisi. Mereka menanti seseorang yang bisa menghubungkan tradisi dengan dunia modern tanpa merusak keduanya.

Di desa-desa, dalam komunitas, forum RT, atau ruang-ruang diskusi kecil, banyak yang merindukan hadirnya sarjana yang membawa cahaya ilmu untuk masyarakat.

Mereka semua menunggu.

Menunggu kiprah.

Menunggu kontribusi.

Menunggu seseorang yang tidak hanya punya ijazah, tapi juga kesiapan.

Dan untuk memenuhi panggilan itu, untuk hadir sebagai sarjana yang benar-benar bermanfaat, ilmu harus terus tumbuh. Kualifikasi harus naik. Keahlian harus ditajamkan. Karena kiprah besar tidak lahir dari perayaan toga, tetapi dari perjalanan panjang setelah itu.

Wisuda bukan perayaan akhir.

Ia hanya lampu hijau di garis start.

Setelah musik berhenti dan kamera dimatikan, perjalanan baru dimulai.

Dan dunia mulai dari perusahaan hingga majelis taklim kecil di ujung kampung, sedang menunggu langkah pertamamu sebagai sarjana.

 

*Penulis Ketua Prodi KPI IAI Persis Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *