Website Berita dan Opini
Indeks
Sastra  

Saat Kesabaran Menjadi Jejak Terak

Saat kesabaran menjadi jejak terak
Foto x: Seorang perempuan mengeluarkan airmata kepedihan hidup.

Oleh Nurdin Qusyaeri

Tak perlu kita bertukar tempat.

Karena hidup, sejak mula, telah menuliskan panggungnya masing-masing bagi setiap jiwa.

Ada yang diberi cahaya jauh sebelum ia paham arti terang,

ada yang menyeret malam panjang sebelum ia mengenal arti kehilangan.

Dan di antara itu semua—kita hanya manusia yang saling lewat, kadang berteduh, kadang meneduhkan, kadang terlambat, kadang menyia-nyiakan.

Untuk sekarang…

mungkin memang aku yang harus menahan sabar— sabar yang tidak lagi sekadar diam, tetapi sabar yang menggigit, yang menusuk, yang membuat dada sesak karena menghormati seseorang yang bahkan tidak pandai menghormati kehadiranku.

Aku belajar mencintai tanpa dipandang, menghargai tanpa dihargai, menunggu tanpa ditunggu.

Aku belajar bahwa tidak semua rasa harus mendapat balasan, bahwa tidak semua ketulusan mendapat tempat di hati yang kita tuju.

Tapi waktu punya cara membalikkan naskahnya sendiri.

Ada hari ketika yang tak menghargai akhirnya menyesal, ketika yang pernah menyingkirkan akhirnya mencari, ketika yang dulu merasa biasa, akhirnya sadar:

aku bukan tempat singgah—aku adalah rumah yang kau tinggalkan sebelum sempat kau mengerti kehangatannya.

Dan saat kau sadar nanti, ketukanmu mungkin akan menggema pada pintu yang sudah lama tertutup.

Engkau mungkin akan memanggil nama yang dulu kau abaikan, namun gaungnya hanya akan kembali ke dadamu sendiri—

sebab aku sudah pergi, bukan karena aku membenci, tapi karena aku telah selesai menjadi orang yang menunggu.

Aku tidak lagi di sana.

Yang tersisa hanya jejak lembut dari seseorang yang pernah mencintaimu dengan cara yang paling pelan, paling sabar, paling tulus, dan paling kau sia-siakan.

Kelak, ketika kesendirianmu berbicara lebih lantang daripada suaramu, kau akan mengerti bahwa kehilangan terbesar bukanlah kehilangan seseorang, tetapi kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang dulu menangis diam-diam agar tetap bertahan di sisimu.

Dan ketika kau akhirnya sadar—

aku sudah tak ada lagi.

Wallahu’alam

Baca Juga:  Andai Luka Itu Bisa Ditukar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *