
Oleh Nurdin Qusyaeri
Hari ketiga belas. Azan Maghrib berkumandang. Saat berbuka, di jutaan meja makan, hidangan telah tersaji: kolak pisang, es buah, gorengan, nasi lengkap dengan lauk pauknya.
Tangan-tangan yang seharian menahan diri kini dengan sigap meraih sendok dan garpu. Ada yang makan dengan tenang, ada yang makan dengan tergesa-gesa, ada yang matanya sudah “berkobar” melihat ayam goreng di ujung meja.
Fenomena ini selalu menarik untuk diamati. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, sebagian orang seperti “kehilangan kendali” saat berbuka.
Mereka makan bukan sekadar untuk mengembalikan energi, tapi untuk “balas dendam” atas seharian menahan diri. Piring penuh nasi, lauk berlapis, minuman manis berganti-ganti. Perut yang kosong seharian dipaksa menerima segala macam makanan dalam waktu singkat.
Ironisnya, inilah yang dikhawatirkan para ulama. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi juga melatih pengendalian diri. Dan pengendalian diri itu tidak berhenti saat maghrib tiba.
Beliau menulis dengan nada prihatin, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ketika berbuka ia makan berlebihan sehingga perutnya penuh seperti tempat sampah. Ia tidak mendapatkan hikmah puasa, hanya berganti dari lapar ke kenyang yang menyiksa.”
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar juga menyoroti fenomena ini dengan tajam. Beliau berkata:
“Niscaya kita pun bertemu orang yang puasa asal perut lapar saja. Dibendungnya selera satu hari penuh, tetapi ketika berbuka puasa dihantamnya mana yang terletak dengan tidak terkendalikan, sehingga belanjanya sebulan puasa sama dengan belanja setahun. Nanti bila tiba waktu beribadat tarawih atau tadarus matanya sudah ngantuk karena terlalu kenyang. Tentu kurang sekali harapan bahwa orang ini akan mendapat faedah takwa dengan puasa semacam itu” .
Hamka lalu mengingatkan sunnah Rasulullah yang begitu sederhana: berbuka dengan secangkir air sejuk dan beberapa butir kurma.
“Artinya ialah supaya dalam membukakan puasa itu kitapun terlatih juga mengendalikan diri, sehingga maksud puasa untuk takwa benar-benar dapat dirasakan,” tulisnya .
Para sufi memiliki pandangan yang lebih dalam lagi. Syaikh Ibnu Arabi, sufi besar dari Andalusia, dalam karyanya menjelaskan bahwa puasa memiliki kaitan erat dengan peniruan sifat-sifat Allah (as-Shamadiyyah). Secara linguistik, as-Shamad di antara maknanya adalah “alladzi laa Jaufa Lahu” (yang tidak memiliki lambung; wadah bagi makanan dan minuman) .
Dalam pandangan Ibnu Arabi, puasa membawa individu menuju penyatuan dengan Allah dengan cara meniru sifat as-Shamadiyyah-Nya, seperti membebaskan diri dari keterikatan dunia material dan tidak bergantung dengan siapa pun selain Allah.
Makanya, ketika berbuka, seorang hakekatnya sedang kembali sejenak pada sifat kemanusiaannya yang butuh makan dan minum. Tapi ia tidak boleh tenggelam dalam kebutuhan itu, karena esensi puasa adalah membebaskan ruh dari belenggu materi.
Imam Al-Ghazali bahkan membagi puasa dalam tiga tingkatan. Pertama, puasa awam, yaitu sekadar menahan lapar dan dahaga. Kedua, puasa orang khusus, yaitu menahan seluruh anggota tubuh dari dosa. Ketiga, puasa khususnya khusus, yaitu puasa hati dari segala keinginan rendah dan pemikiran duniawi .
Nah, orang yang makan berlebihan saat berbuka, menurut kerangka Al-Ghazali, masih berada di tingkatan paling bawah. Ia belum naik ke tingkatan orang khusus, apalagi khususnya khusus. Karena pengendalian dirinya baru berhenti di menahan makan, belum sampai pada menahan syahwat secara keseluruhan—termasuk syahwat perut saat berbuka.
Dalam tradisi pengobatan Islam, Al-Harits bin Kaladah, seorang tabib terkenal Arab dari zaman pra-Islam yang juga dikenal sebagai pendeta Arab, pernah berpesan:
“Janganlah engkau mengisi perutmu sepenuhnya, karena itu akan membuat tubuhmu lemah. Segeralah engkau bergerak, karena itu akan membuat jiwamu sehat, dan bersabarlah dalam kehidupan, karena itu akan membuat akhiratmu bahagia” .
Pesan ini, meskipun dari masa jahiliyah, sejalan dengan ajaran Islam tentang kesederhanaan. Al-Harits menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam konsumsi makanan, tidak mengisi perut hingga penuh, agar tubuh tetap sehat dan kuat .
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, murid setia Ibnu Taimiyah, dalam kitabnya Zadul Ma’ad menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak mencampur berbagai makanan dalam satu waktu. Beliau sendiri jarang makan dua jenis makanan panas dalam satu hidangan. Ini adalah pelajaran berharga tentang pengendalian diri, bahkan saat diperbolehkan.
Para ilmuwan modern juga membenarkan apa yang telah diajarkan para ulama sejak dulu. Dr. Muhammad Saad Ibrahim dalam sebuah tausiyah menjelaskan bahwa makan berlebihan saat berbuka justru membahayakan tubuh. Setelah seharian berpuasa, sistem pencernaan kita butuh penyesuaian.
Jika langsung dijejali makanan berat dan berlebihan, yang terjadi adalah syok pencernaan. Tubuh menjadi lemas, bukan segar. Ibadah malam menjadi berat, bukan ringan.
Dalam perspektif psikologi, perilaku “balas dendam” saat berbuka ini bisa dijelaskan dengan konsep scarcitymindset— pikiran kelangkaan. Ketika sesuatu dirasakan langka atau terlarang, nilainya melambung di mata kita. Makanan yang biasa saja terasa sangat istimewa karena seharian tidak boleh dimakan. Akibatnya, ketika tiba waktunya, kita ingin mengonsumsi sebanyak-banyaknya.
Padahal, jika direnungkan, inilah salah satu ujian terbesar di bulan Ramadhan. Menahan lapar di siang hari itu berat, tapi menahan diri dari makan berlebihan saat berbuka bisa jadi lebih berat. Karena di siang hari, kita dilarang secara syariat. Tapi saat berbuka, semua halal. Yang membatasi hanya kesadaran dan pengendalian diri.
Rasulullah SAW memberi teladan yang sangat indah. Dalam banyak hadis, beliau mengajarkan untuk berbuka dengan kurma atau air, lalu shalat Maghrib terlebih dahulu, baru kemudian makan besar jika masih lapar. Ini adalah strategi cerdas untuk mengendalikan porsi makan. Dengan makan ringan dulu, rasa lapar yang akut bisa diredam. Setelah shalat, barulah makan dengan lebih tenang dan terkendali.
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan hikmah di balik sunnah ini. Pertama, untuk menyegerakan berbuka sebagai bentuk ketaatan. Kedua, agar tidak terlalu lama menahan lapar setelah maghrib. Ketiga, agar makan tidak mengganggu waktu shalat. Dan keempat, agar perut tidak terlalu kenyang sehingga mengganggu kekhusyukan shalat.
Di era modern ini, tantangan berbuka semakin berat. Iklan makanan membanjiri televisi dan media sosial. Promo buy 1 get 1, diskon besar-besaran, paket lengkap untuk berbuka—semua dirancang untuk membuat kita konsumtif. Belum lagi tradisi “buka bersama” yang sering berubah menjadi pesta makan.
Padahal, jika kita mau jujur, esensi berbuka adalah bersyukur. Bersyukur karena bisa menyelesaikan satu hari puasa. Bersyukur karena masih punya makanan untuk dimakan. Bersyukur karena Allah memberi kekuatan menjalankan ibadah.
Seyyed Hossein Nasr, filsuf Muslim kontemporer, pernah mengingatkan bahwa puasa memiliki berbagai manfaat sosial dan individu, tapi yang kerap luput adalah esensi kehambaan yang terlepas dari segala macam analogi dan rasionalisasi. Puasa adalah sebentuk ketaatan kepada perintah Allah, sementara sikap empati, pengendalian diri, dan rasa syukur adalah buahnya .
Maka, ketika berbuka, mari kita renungkan: Apakah kita makan karena lapar, atau karena ingin memuaskan nafsu? Apakah kita minum karena haus, atau karena tergoda iklan? Apakah kita bersyukur dengan tenang, atau sibuk memotret makanan untuk diunggah ke media sosial?
Abu Nawas, dengan kelicikan khasnya, pernah mengomentari orang yang makan berlebihan saat berbuka. Ia bertemu dengan seorang lelaki yang tengah melahap sepiring nasi dengan lauk berlimpah. Perutnya sudah buncit, tapi tangannya masih saja mengambil gorengan.
“Wahai Tuan,” kata Abu Nawas, “bukankah tuan baru saja seharian berpuasa?”
“Iya,” jawab lelaki itu sambil terus mengunyah.
“Lalu mengapa tuan makan seperti orang yang baru pulang dari neraka? Puasa itu melatih kita mengendalikan diri. Kalau setelah puasa malah tidak bisa mengendalikan diri, apa bedanya dengan orang yang tidak puasa?”
Lelaki itu tersedak. Abu Nawas tersenyum dan pergi.
Kisah ini mungkin rekaan, tapi pesannya nyata: puasa tidak berhenti di maghrib. Ia terus berlanjut dalam bentuk pengendalian diri, bahkan saat segala sesuatu telah halal.
Di hari ketiga belas ini, setelah hampir separuh Ramadhan berlalu, mari kita evaluasi cara kita berbuka. Apakah kita termasuk orang yang makan sekadarnya, atau yang makan sekenyang-kenyangnya?
Apakah kita bersyukur dengan tenang, atau sibuk membandingkan hidangan dengan orang lain? Apakah perut kita menjadi lebih sehat, atau justru lebih menderita karena kekenyangan setiap malam?
Buya Hamka mengingatkan bahwa jika kita makan berlebihan saat berbuka, maka “matanya sudah ngantuk karena terlalu kenyang” ketika tiba waktu tarawih . Padahal, malam Ramadhan adalah waktu yang sangat berharga. Sayang sekali jika kita sia-siakan hanya karena perut terlalu penuh.
Maka, mari kita belajar dari teladan Rasulullah. Berbukalah dengan sederhana. Cukupkan diri dengan makanan yang halal lagi baik. Sisakan ruang di perut untuk ibadah malam. Karena tujuan puasa bukan perut kenyang, tapi jiwa yang bertakwa.
Wallahu a’lam bish-shawab.





