Website Berita dan Opini
Indeks
Agama  

Krisis Makna Hidup di Tengah Kegelisahan Zaman

Krisis Makna Kehidupan di Tengah Kegelisahan Zaman
Ilustrasi AI

 

Oleh  Nurdin Qusyaeri

KHUTBAH JUMAT

Khutbah Pertama

الحمد لله…

Amma ba’du.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan bukan sekedar banyaknya ibadah yang kita lakukan, namun sejauh mana hati ini tetap teguh ketika Allah menguji kita dengan berbagai persoalan kehidupan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Jika kita bertanya, penyakit apa yang paling banyak menghinggapi manusia hari ini, mungkin jawabannya bukan lagi kemiskinan, bukan pula kelaparan. Penyakit terbesar manusia modern adalah kegelisahan.

Ironisnya, kegelisahan itu hadir di tengah kehidupan yang serba maju. Rumah semakin megah, kendaraan semakin mewah, teknologi semakin canggih, komunikasi semakin mudah, namun hati manusia justru semakin rapuh. Banyak orang yang tertawa di hadapan kamera, tetapi menangis ketika sendirian. Banyak yang tampak sukses di media sosial, tetapi diam-diam kehilangan semangat menjalani hidup.

Mengapa semua itu terjadi?

Karena manusia modern sering kali berhasil membangun dunia di sekelilingnya, tetapi lupa membangun ketenangan dalam dirinya.

Allah SWT. telah mengingatkan bahwa hati manusia memiliki satu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh harta, jabatan, atau popularitas.

«”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

(QS. ar-Ra’d [13]: 28).»

Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang yang berzikir akan terbebas dari masalah. Yang dijanjikan Allah adalah ketenangan hati, meskipun persoalan hidup belum selesai.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sesungguhnya yang membuat manusia gelisah sering kali bukan karena beratnya ujian, melainkan karena salah menempatkan tempat bergantung.

Ada orang yang menggantungkan kebahagiaannya pada kekayaan. Ketika hartanya berkurang, ia merasa hidupnya runtuh.

Ada yang menggantungkan harga dirinya pada jabatannya. Ketika jabatan itu hilang, hilang pula rasa percaya dirinya.

Baca Juga:  Main Gadget: Nikmat Waktu atau Penyesalan di Hari Akhir?

Ada pula yang menggantungkan seluruh harapannya kepada manusia. Ketika manusia mengecewakannya, seolah-olah dunia telah berakhir.

Padahal seorang mukmin mengajarkan untuk menggantungkan seluruh urusannya hanya kepada Allah.

Perhatikan doa yang diabadikan Allah dalam kisah seorang mukmin dari keluarga Fir’aun:

«فَسَتَذْكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمْ ۚ وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ»

“Kelak kamu akan mengingat apa yang aku katakan kepada kalian. Dan aku menyerahkan segala urusanku kepada Allah. Sungguh Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.”

(QS. Ghafir [40]: 44).

Perhatikan kalimat yang begitu indah itu.

“Wa ufawwidu amrī ilallāh.”

Aku serahkan seluruh urusanku kepada Allah.

Bukan berarti berhenti berusaha. Bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Tetapi setelah semua daya dikerahkan, hati tetap tenang karena menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam genggaman Allah.

Sebab Munculnya Kegelisahan

Betapa banyak kegelisahan yang muncul karena kita ingin mengendalikan sesuatu yang memang bukan kuasa kita.

Kita ingin mengendalikan masa depan.

Kita ingin mengendalikan hati manusia.

Kita ingin mengendalikan hasil usaha.

Padahal yang diminta Allah bukan mengendalikan hasil, melainkan menyempurnakan ikhtiar dan memperkuat tawakal.

Ma’asyiral Muslimin,

Lihatlah para nabi. Mereka adalah manusia pilihan Allah, tetapi tidak ada pun hidup tanpa ujian.

Nabi Ya’qub menangis bertahun-tahun kehilangan putra tercintanya.

Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan keluarganya di lembah yang tandus.

Nabi Musa dikejar Fir’aun hingga berada di tepi laut.

Nabi Yunus terkurung dalam perut ikan di tengah lautan yang gelap.

Namun tidak ada satu pun di antara mereka yang kehilangan harapan kepada Allah.

Karena mereka sadar, demi Allah bersama mereka, tidak ada ujian yang sia-sia dan tidak ada kesulitan yang berlangsung selamanya.

Baca Juga:  Sujud: Ketika Manusia Paling Rendah, Justru Di Situlah Ia Dipulihkan

Saudara-saudaraku,

Boleh jadi hari ini ada di antara kita yang sedang diuji dengan sakit. Ada yang sedang diuji dengan kesulitan ekonomi. Ada yang sedang menunggu pekerjaan. Ada yang sedang menghadapi konflik keluarga. Ada pula yang memendam kesedihan yang tidak diketahui siapa pun.

Ketahuilah, Allah tidak pernah menjanjikan hidup tanpa ujian. Tetapi Allah menjanjikan bahwa siapa pun yang bersandar kepada-Nya tidak akan dibiarkan sendirian.

Oleh karena itu, jangan biarkan hati kita bergantung pada dunia yang selalu berubah. Sandarkanlah hati hanya kepada Allah Yang Maha Kekal.

Jika hari ini masih terasa berat, ucapkanlah dengan penuh keyakinan:

“Wa ufawwidu amrī ilallāh.”

Ya Allah, aku telah berusaha semampuku. Kini seluruh urusanku kuserahkan kepada-Mu.

Kalimat itu bukan tanda kelemahan, tetapi puncak kekuatan seorang mukmin. Sebab hanya orang yang benar-benar mengenal Allah yang mampu menyerahkan seluruh urusannya kepada-Nya dengan hati yang lapang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *