Website Berita dan Opini
Indeks

Amanah yang Tertunaikan: Keteladanan Umar bin Abdul Aziz dalam Menjaga Janji dan Kekuasaan

Akhirnya Masing-Masing
Foto: Penulis ustadz Iwan Ridwan

Oleh Ustadz Iwan Ridwan (UIR)*

Keumuman manusia, tatkala ketiadaan atau kelemahan suka berangan-angan dan berjanji setinggi langit untuk mendapatkan respon positif dari orang yang diajak bicaranya.

Kholifah tabiin Umar bin Abdul Aziz tatkala sedang menjabat gubernur madinah pernah berkata: “Wahai Dukain, sesungguhnya aku memiliki ambisi besar, bila kau mendengar aku lebih jaya daripada keadaanku sekarang, datanglah, aku akan memberikan hadiah”. Dukain berkata: Datangkanlah saksi untuk janji anda itu. Beliau menjawab : Alloh SWT adalah Saksi yang paling baik, Dukain berkata: Saya ingin Saksi dari makhluk-Nya. Beliau berkata: Baiklah kedua orang ini menjadi Saksinya, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khothob dan Abu Yahya pembatunya. Dukain menoleh dan berkenalan dengan kedua saksi tersebut.

Hari bergulir begitu cepat, ketika Dukain berada di gurun Falaj Yaman, tiba-tiba tersiar kabar wafatnya Amirul mukminin Sulaiman bin Abdul Malik, dan Kholifah yang mengantikannya Umar bin Abdul Aziz.

Demi mendengar berita itu, aku berangkat ke Syam, untuk berdiskusi dengan gubernur menuju Madinah yang sekarang telah menjadi Kholifah.

Dukain terus berjalan menuju kediaman kholifah Umar bin Abdul Aziz, ternyata beliau sedang berada diserambi, dikerumuni anak-anak yatim, para janda dan orang teraniaya. Ketika aku merasa tidak bisa menerobos pertemuan itu, aku berteriak :

Wahai Umar nan bijak dan dermawan,

Umar nan sarat dengan pemberian.

Aku orang Qothn dari suku Darim.

Menagih hutang saudara yang dermawan.

Ketika itu, Abu Yahya mendengar teriakan itu, lalu menoleh ke Amirul mukminin dan berkata: Wahai Amirul mukminin saya adalah saksi dari orang dusun tersebut. Beliau berkata: Aku tau itu, dan berkata: mendekatlah kemari wahai Dukain, aku akan menunaikan janjiku. Aku sekarang telah mendapatkan yang tertinggi di dunia, yaitu Kholifah, maka hatiku menginginkan sesuatu yang tertinggi di akherat yaitu surga dan berusaha meraih kejayaan berupa ridha Alloh SWT. Bila para raja menggunakan kerajaannya sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia, maka aku menjadikannya sebagai jalan untuk mencapai kehormatan di akherat. Wahai Dukain, saya tidak pernah menggelapkan harta muslimin meskipun satu dinar atau satu dirham pun sejak berkuasa di sini, Yang saya miliki tidak lebih dari 1.000 dirham saja. Engkau boleh mengambil sebagiannya dan menyerahkan sebagiannya untukku.

Baca Juga:  Kebangkitan Nasional & Pemuda Pilihan: Belajar dari Mus’ab bin Umair

Umar bin Abdul Aziz tidak pernah menggunakan satu dinar atau satu dirham pun dari kas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, seluruh inventaris tatkala Beliau menjadi Gubernur Madinah, diserahkan kepada kas negara setelah jadi kholifah. karena menyakini Jabatannya akan dipinta pertanggung jawaban di akherat, untuk mencapai kehormatan di akherat Umar bin Abdul Aziz berbuat adil (memberikan seluruh haknya kepada orang yang berhaknya) dan berbuat ihsan.Kisah inspiratif Umar bin Abdul Aziz tentang amanah, janji, dan kekuasaan. Teladan pemimpin adil yang menjadikan jabatannya sebagai jalan menuju ridha Allah dan kemuliaan akhirat.

(Resume Shuwarun min hayati di Tabiin hal 281-286)


* penulis adalah aktivis Pimpinan Daerah PERSIS Kabupaten Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *