Sastra  

Berita Buruk Selalu Dikirimkan Negara Setiap Hari

 

Oleh: Nurdin A. Aziz

Berita buruk selalu tiba lebih cepat, bahkan sebelum koran pagi selesai dicetak. Hampir setiap janari, berita duka datang silih berganti. PHK massal, Pertamax dioplos, unjuk rasa dengan nyanyian Indonesia Gelap, efesiensi anggaran dalam bidang pendidikan dan kesehatan, hutan dibabat demi pangan -yang selalu gagal dan berakhir jadi kelapa sawit, rupiah anjlok ke paling dasar, dan lain sebagainya yang jika terus disebutkan semakin menyakitkan.

 

Kami hanya bisa mengeluh. Kabar buruk seakan sudah jadi kebiasaan sehari-hari. Kami mencoba untuk tidak peduli, tapi negara memastikan tidak ada yang benar-benar bisa lari. Di jalan, para polisi berdiri di tikungan dengan mata elang, mengawasi mana kendaraan yang bisa ditilang. Di kantor-kantor pemerintah, antrean mengular panjang, dan di loket-loket, petugas bersikap seolah sedang memberi sedekah, bukan melayani. Pegawai pajak siap menguntit dan memotong apa saja yang kita punya.

 

Di kampung-kampung, kabar buruk datang dengan senyap. Tahu-tahu gas sudah tidak ada di warung-warung, tahu-tahu tagihan listrik jadi lebih mahal, tahu-tahu sayuran yang mereka tanam dihargai murah karena katanya pasar di kota sedang sepi pembeli. Mereka enggan percaya jika semua itu ulah negara yang terlalu memaksakan kehendaknya. Mereka hanya percaya jika manusia yang beriman akan terus diuji dengan berbagai persoalan.

 

Ada hari-hari ketika kabar buruk tiba dalam bentuk surat. Beberapa orang menerima panggilan sidang karena bersuara terlalu keras. Beberapa lainnya menerima tagihan yang membengkak entah dari mana. Yang paling sial adalah mereka yang menerima undangan wajib—entah untuk jadi saksi, tersangka, atau mayat berikutnya di berita.

 

Di desa-desa, petani menggenggam cangkul dengan perasaan waswas. Tanah mereka makin sempit, air makin langka, dan pupuk makin mahal. Negara selalu berkata mereka harus berinovasi, tapi yang mereka lihat hanya korporasi besar yang merampas tanah dengan alasan investasi. Mereka ingin marah, tapi mereka tahu marah hanya akan membuat mereka dihitung sebagai statistik lain di laporan tahunan tentang ketimpangan.

Baca Juga:  Senja di Sudut Luka

 

Di kota-kota, buruh bekerja lebih keras dari mesin. Mereka bangun sebelum matahari dan pulang setelah langit gelap, tapi upah mereka tetap tak cukup untuk sepetak rumah. Sementara itu, para pemilik pabrik bisa mengganti mobil sesuka hati dan menulis esai tentang pentingnya kerja keras di surat kabar.

 

Di media sosial, kabar buruk disertai foto dan video. Ada seorang ibu menangis karena anaknya ditembak polisi, ada seorang bapak tersungkur karena warungnya dirobohkan, ada mahasiswa dipukuli karena membentangkan spanduk. Negara berkata ini hanya segelintir insiden, tapi kami tahu ini bukan insiden—ini pola.

 

Di warung kopi, di perempatan jalan, di lorong-lorong sempit, orang-orang membicarakan kabar buruk dengan nada pasrah. Kami tahu tak ada yang bisa dilakukan selain terus hidup, terus bekerja, dan terus bertahan. Hanya dengan jalan itu, kami masih bisa membacakan berita buruk selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *