Website Berita dan Opini
Indeks

Senja di Sudut Luka

Senja di Sudut Luka
Dokpri: Senja dari upuk Cinunuk Cileunyi kabupaten Bandung tahun 2045.

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Di sudut senja yang kian renta, aku terdiam dalam nestapa. Di hadapanku, matahari perlahan merebahkan diri di pelukan cakrawala, seolah-olah memamerkan keindahan terakhir sebelum tenggelam dalam gelap.

Namun, bagiku, senja ini adalah pengingat getir bahwa tak semua keindahan dapat abadi, tak semua cerita punya akhir yang bahagia.

Kau pergi, seperti matahari yang hilang tanpa janji, meninggalkan langit dengan warna yang tak lagi sama.

Jingga di langit itu, yang dulu pernah kucintai, kini hanya semburat luka yang terlukis di kanvas waktu.

Kata-katamu yang terakhir, sejuk seperti embun pagi namun tajam seperti belati, terus bergema, mengoyak-ngoyak jiwa yang tak mampu melupakan.

Angin sore menyusup di sela-sela keheningan, membawa bisikan rindu yang nyaris memudar.

Ia menari di antara dedaunan, membawa serta aroma kenangan—kenangan yang dulu hangat, namun kini seperti abu dari api yang telah padam.

Aku dan kamu, kini hanya sepotong kisah yang telah hilang dalam labirin waktu, tak berjejak, hanya bayang-bayang samar di sudut memori.

Senja ini mengajarkanku bahwa cinta adalah perjalanan, bukan tujuan. Mungkin kau adalah senja yang selalu kucintai, tapi tak pernah bisa kumiliki selamanya.

Seperti senja yang indah namun fana, kau datang untuk memberi pelajaran, bukan untuk tinggal.

Aku ingin percaya, bahwa luka ini bukan akhir. Bahwa di balik kerapuhan ini, ada kekuatan yang akan tumbuh.

Namun, malam yang menjelang selalu mengingatkanku pada kesepian yang tak kunjung pergi.

Kau adalah puisi yang tak selesai kutulis, nada yang tak sempat kupetik, sebuah cerita yang akhirnya menjadi duka.

Biarlah, jika luka ini harus menjadi ceritaku. Biarlah aku mengenangnya bukan sebagai sebuah penderitaan, tetapi sebagai bukti bahwa hatiku pernah hidup, pernah mencintai.

Baca Juga:  Nothing Lasts Forever

Senja mungkin tak pernah bertahan lama, tapi keindahannya akan terus menjadi bagian dari langit, seperti kau yang akan selalu menjadi bagian dari hatiku.

Dan kini, di sudut senja yang hampir mati, aku berdiri. Sebab meskipun malam datang, aku tahu, selalu ada fajar di balik gelap yang menyelimuti. Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *