
Oleh Maesaroh
Seorang Mantan Buruh Tekstil
Cikampek kota kecil yang tumbuh menjadi simpul industri strategis di jalur Pantura — adalah rumah dari deru mesin-mesin yang tak pernah tidur. Di balik bangunan-bangunan pabrik raksasa, ada kehidupan yang berdenyut dari tangan-tangan kasar para buruh. Saya adalah satu dari mereka.
Hari ini, 1 Mei 2025, bertepatan dengan Hari Buruh Sedunia, saya ingin membuka lembaran yang jarang dibaca orang: kisah nyata di balik mesin tekstil.
Saya memulai perjalanan sebagai buruh di Kanebo Indonesia Textile Mills (KITM) tahun 1998, bertahan hingga 2003. Selama lima tahun itu, saya hidup dalam ritme industri: bangun sebelum fajar, berangkat kerja jam 5 subuh, dan menyatu dalam hiruk-pikuk suara mesin spinning yang memintal kapas menjadi benang.
Di departemen spinning itulah saya bekerja — mengoperasikan mesin pintal, menjaga konsistensi benang, dan memastikan tak satu pun benang putus. Sekilas tampak sederhana, tapi di balik rutinitas itu ada tekanan, bahaya, dan keletihan yang tak terucap.
Industri Tekstil: Jantung Ekonomi, Tapi Mengorbankan Nyawa
Industri tekstil Indonesia adalah tulang punggung ekspor non-migas. Kain-kain dari KITM didistribusikan ke berbagai negara Asia — dari Jepang hingga Korea. Namun, ironisnya, di balik kemajuan industri itu, kesejahteraan buruh justru kerap diabaikan. Kami bekerja 8 hingga 12 jam per hari, berdiri tanpa henti, mengangkat gulungan berat, dan menghirup udara yang penuh serbuk kapas serta aroma bahan kimia.
Belum lagi soal keamanan kerja: mesin yang tajam, suhu ruangan yang tinggi, dan ritme produksi yang menuntut kecepatan, semua menjadi ancaman nyata. Kecelakaan kerja bisa terjadi kapan saja, hanya karena sepersekian detik lengah.
Solidaritas Kelas Pekerja: Cahaya di Tengah Gelap
Tapi justru di tempat yang keras inilah, saya menemukan makna sejati dari solidaritas. Kami, para buruh, saling jaga. Saat satu orang kelelahan, yang lain menggantikan. Saat ada yang sakit, kami patungan untuk bantu berobat.
Saat perusahaan memotong jam lembur karena pesanan menurun, kami bersama menghadap manajer, menuntut keadilan. Di ruang produksi yang panas dan bising, kami belajar tentang arti perjuangan kolektif — sesuatu yang tak diajarkan di bangku sekolah.
Motivasi yang Mengakar dari Rumah
Saya tidak masuk ke dunia pabrik karena mimpi, tapi karena realitas. Latar belakang keluarga saya adalah petani sederhana dari Bandung. Saya anak sulung yang dituntut membantu ekonomi rumah selepas lulus sekolah menengah.
Pilihan saya waktu itu bukan antara bekerja atau kuliah — tapi antara makan atau tidak. Maka, mesin tekstil menjadi jalan yang saya tempuh. Saya ingin membalas jerih payah orang tua yang membesarkan saya dalam keterbatasan.
Tantangan Keseharian: Tubuh, Mental, dan Ketidakpastian
Di luar tantangan fisik yang jelas — berdiri berjam-jam, mengangkat bobot berat, bekerja di bawah tekanan target — kami juga hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian.
Ada bulan-bulan paceklik pesanan, di mana gaji pokok nyaris tak cukup untuk hidup layak. Upah lembur yang biasanya jadi penyangga, mendadak hilang. Tidak ada jaminan kesehatan yang layak, tidak ada ruang pengaduan yang aman, dan sering kali tidak ada serikat buruh yang kuat.
Refleksi Hari Buruh: Antara Pengakuan dan Perjuangan
Hari Buruh bukan sekadar seremoni atau spanduk bertuliskan “Selamat Hari Buruh”. Ini hari pengakuan atas kontribusi nyata kelas pekerja dalam membangun ekonomi bangsa. Kita harus berani bicara soal upah layak, perlindungan kerja, jaminan sosial, hingga akses pendidikan bagi anak-anak buruh. Karena terlalu lama buruh menjadi roda penggerak, tapi tak pernah menjadi penentu arah.
Harapan Saya: Keadilan Sosial di Balik Kain Produksi
Saya menulis ini agar orang-orang yang mengenakan pakaian nyaman setiap hari tahu: ada tangan yang bekerja di baliknya. Tangan yang lelah, tapi tak menyerah.
Industri tekstil Indonesia punya potensi luar biasa, tapi tak akan pernah benar-benar unggul jika buruhnya tidak dihargai. Dukunglah kebijakan yang adil untuk buruh: dari upah minimum yang manusiawi, sistem kerja yang beradab, hingga kesempatan peningkatan keterampilan.
Di balik mesin tekstil, ada cerita. Di balik setiap benang, ada mimpi. Di balik suara deru mesin, ada suara hati yang menuntut keadilan.
Editor Nurdin Qusyaeri
