Website Berita dan Opini
Indeks

Cinta yang Tak Lahir dari Rahim

Cinta yang Tak Lahir dari Rahim
ilustrasi kumparan:gambar Asiyah pakai cadar

 

Oleh Yuyun Asymiawati

Kalau ibu itu harus melahirkanmu, maka Asiyah bukan ibu.

Tapi kalau ibu itu adalah tempat pertama kamu merasa aman di dunia yang mengancammu, maka Asiyah adalah surga kecil itu.

Kisah ini bukan tentang cinta yang disambut. Tapi tentang cinta yang diselamatkan, ditanamkan, dan dibela… bahkan saat cinta itu bisa membuatmu kehilangan segalanya.

Di Mesir, di tengah gemuruh kekuasaan Firaun yang mengklaim dirinya tuhan, seorang bayi hanyut di sungai. Ditaruh dalam kotak, dilepaskan oleh ibunya, bukan karena ia tak sayang, tapi karena ia terlalu sayang untuk membiarkannya dibunuh oleh rezim.

Air Sungai Nil membawa bayi itu ke halaman istana.

Dan di sanalah, hati seorang perempuan yang biasanya hanya menerima perintah, justru membuat keputusan yang mengubah sejarah.

“Asiyah” nama itu lembut, tapi langkahnya tajam. Ia bukan wanita biasa. Ia ratu. Istri Firaun. Ia punya segalanya, kemewahan, pelayan, bahkan kekuasaan atas orang lain.

Tapi ketika ia melihat bayi itu, hatinya runtuh. Bayi itu menangis. Tubuh kecilnya menggigil. Ia belum tahu dunia ini keras. Tapi Asiyah tahu. Dan ia tak ingin dunia melukai bayi itu, seperti dunia pernah melukainya secara diam-diam.

Jangan kau bunuh dia,” ucap Asiyah pada Firaun. “Bisa jadi dia membawa manfaat bagi kita, atau kita angkat dia sebagai anak.”

(QS. Al-Qashash: 9)

Firaun mendengus. Tapi kekuatan cinta seorang ibu lebih menakutkan dari amarah seorang raja. Dan bayi itu selamat.

Musa tumbuh dalam istana kekuasaan, tapi juga dalam dekapan kasih seorang ibu angkat yang tidak pernah menyebut dirinya “ibu”.

Asiyah tahu, Musa bukan anak kandungnya. Tapi Asiyah tidak butuh pengakuan untuk mencintai.

Baca Juga:  Menjaga Semangat Ramadhan di Syawal dan Bulan Lainnya

Ia membesarkan Musa. Menggendongnya. Mencarikan ibu susu, yang ternyata adalah ibu kandung Musa sendiri, karena Allah Maha Mengatur.

Asiyah tahu suaminya sedang menumpahkan darah. Tapi ia justru menyelamatkan kehidupan.

Ketika Musa tumbuh dan akhirnya pergi dari istana, hidupnya berubah. Dan ketika ia kembali sebagai nabi, menyeru kebenaran kepada Firaun, Asiyah diam-diam beriman.

Dan di situlah puncak cinta seorang ibu:

Bukan hanya menyelamatkan anak, tapi juga menyelamatkan dirinya sendiri dengan memilih kebenaran.

Asiyah disiksa. Dipukul. Dihina. Tapi ia tetap beriman. Ia tidak takut mati. Ia sudah pernah hidup di surga dunia palsu, dan ia tidak ingin kembali ke sana.

Ia hanya berkata:

Ya Tuhanku, bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga, dan selamatkan aku dari Firaun dan perbuatannya.”

(QS. At-Tahrim: 11)

Cinta Asiyah kepada Musa adalah bentuk tertinggi dari keibuan.

Ia tidak melahirkan Musa dari rahimnya, tapi dari keberanian hatinya.

Ia tidak menyusuinya, tapi ia menyelamatkannya.

Di zaman ini, kita sering lupa: bahwa menjadi orang tua bukan tentang genetik, tapi tentang keberanian mencintai, mendidik, dan melindungi.

Banyak anak merasa yatim padahal orang tuanya masih hidup. Bahkan Sayyidina Ali berkata: “Bukanlah anak yatim itu yang telah mati ayahnya. Tapi anak yatim adalah anak yang kehilangan bimbingan, meski ayahnya masih hidup.” Banyak anak merasa dibuang, meski tinggal di rumah megah.

Asiyah tidak peduli darah siapa yang mengalir di tubuh Musa.

Ia hanya peduli, apakah Musa aman? Apakah ia bisa tumbuh?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Banyak lelaki yang mencapai kesempurnaan iman, tetapi tidak ada dari kalangan wanita kecuali: Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.”

(HR. Bukhari, no. 3769)

Baca Juga:  Refleksi 17 Agustus: Apa Arti Kemerdekaan bagi Kita Hari Ini?

Artinya: Asiyah bukan hanya ibu angkat Nabi Musa, tapi juga panutan seluruh perempuan beriman, karena keberaniannya membesarkan Musa dalam rumah Firaun, dan pilihannya pada surga dibanding dunia.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *