India Tolak Tekanan AS Soal Minyak Rusia, Tarif Tak Bikin Takut

India menolak desakan Amerika Serikat terkait minyak Rusia, dengan menyatakan bahwa tarif yang dikenakan tidak menjadi penghalang.

India tolak tekanan AS
Presiden AS Donald Trump dan PM India Narendra Modi (Foto: timesofindia.com)

Daras.id — Hubungan dagang antara India dan Amerika Serikat tengah mengalami ketegangan baru setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif 25% terhadap berbagai produk impor dari India. Salah satu alasan utama di balik kebijakan ini adalah sikap India yang tetap melanjutkan impor minyak mentah dari Rusia. Namun, berbeda dengan negara-negara berkembang lain yang memilih diam atau tunduk, India justru menunjukkan posisi tegas: kedaulatan energi tidak bisa didikte.

Ketegangan ini bukan hanya soal angka tarif dan neraca dagang. Ini soal kedaulatan, geopolitik energi, dan arah masa depan hubungan Global South dengan kekuatan ekonomi besar dunia. India, dengan segala kerumitannya, sedang menunjukkan kepada dunia bagaimana negara berkembang bisa mengambil posisi independen dalam percaturan global.

Tarif sebagai Alat Tekanan Politik

Langkah Trump mengenakan tarif 25% diumumkan pada 30 Juli 2025, dengan dalih bahwa India memberlakukan tarif tinggi terhadap produk AS dan tetap menjalin hubungan energi dan militer dengan Rusia. Dalam logika Washington, tarif bukan sekadar alat ekonomi, melainkan juga instrumen geopolitik. Siapa yang tidak sejalan, harus “dihukum” dengan beban perdagangan tambahan.

Namun, India tidak bergeming. Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, dalam pernyataan publiknya menegaskan bahwa pemerintah akan mengevaluasi dampak tarif tersebut secara hati-hati dan tidak akan gegabah tunduk di bawah tekanan. “India tidak akan tunduk. Kami akan menjaga kepentingan nasional dan keamanan energi,” ujarnya.

Di sinilah kita bisa melihat bahwa tarif telah menjadi alat kekuasaan, bukan semata kebijakan ekonomi. Dalam konteks ini, India tidak hanya melawan tarif—India sedang menolak didikte.

Baca Juga:  Retorika Nasionalisme Ekonomi Prabowo di Balik Kesepakatan Tarif dengan Trump

Minyak Rusia dan Kedaulatan Energi India

Setelah invasi Rusia ke Ukraina, banyak negara menekan India untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Namun kenyataannya, India justru memperbesar porsi impor minyak dari Rusia hingga mencapai 35–40% dari total konsumsi nasional. Ini bukan sekadar keputusan bisnis. Ini keputusan strategis.

India mendapatkan minyak Rusia dengan harga diskon, yang membantu menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri. Untuk negara dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa dan pertumbuhan industri yang agresif, menjaga pasokan energi adalah urusan hidup-mati. Ketika tekanan datang dari Barat, India memilih rasionalitas ekonomi dibanding tunduk pada tekanan moral yang tidak merata.

Fakta bahwa Amerika sendiri masih mengimpor uranium dari Rusia, meskipun membatasi ekspor energi Rusia ke negara lain, memperlihatkan standar ganda yang nyata. Dalam kerangka itu, keputusan India untuk terus menjalin kerja sama energi dengan Rusia bisa dibaca sebagai bentuk penolakan terhadap hipokrisi global.

Tegangan Ekonomi, Respon Politik

Menariknya, tidak ada perintah resmi dari pemerintah India kepada perusahaan migas untuk menghentikan pembelian minyak Rusia. Namun, sejumlah BUMN seperti Indian Oil Corporation Limited (IOCL) dan Bharat Petroleum Corporation Limited (BPCL) mulai menghentikan pembelian spot, meski masih menjalankan kontrak jangka panjang. Perusahaan swasta seperti Reliance dan Nayara tetap melanjutkan pembelian minyak Rusia seperti biasa.

Sikap ini menunjukkan bahwa India memainkan dua tangan: tetap menjaga relasi formal dengan AS sambil mempertahankan sumber energi murah dari Rusia. Ini diplomasi realis, bukan idealis. Tidak gegabah, tapi juga tidak tunduk.

Pemerintah India juga menyatakan bahwa mereka tidak akan membuat komitmen sepihak untuk memangkas tarif di sektor-sektor sensitif seperti pertanian, susu, dan bahan pangan. Dalam negosiasi dagang dengan AS, India menolak memberikan konsesi tanpa kepastian imbal balik yang setara. Ini pendekatan yang kontras dengan banyak negara berkembang lain yang kerap terjebak dalam jebakan konsesi sepihak demi mendapat label “mitra strategis” dari Washington.

Baca Juga:  Trump Ancam BRICS: Negara Pendukung "Kebijakan Anti-Amerika" Bakal Kena Tarif Tambahan

Pelajaran untuk Negara Berkembang Lain

Sikap India ini penting, bukan hanya untuk India sendiri, tapi juga bagi negara-negara berkembang lain termasuk Indonesia. Di tengah dunia yang makin multipolar, ketegasan untuk mengambil posisi yang rasional dan berdaulat adalah keharusan.

Indonesia, misalnya, yang juga menjadi pasar besar dan memiliki sumber daya alam melimpah, sering kali terlalu berhati-hati dalam menanggapi tekanan ekonomi atau geopolitik. Kita bisa belajar dari India: bahwa bersikap tegas tidak selalu berarti konfrontatif. Kadang, itu berarti berdiri teguh pada kepentingan nasional dan tidak cepat panik menghadapi tekanan negara besar.

India telah menunjukkan bahwa tidak semua tekanan harus dilayani dengan kepatuhan. Justru dengan ketegasan, peluang baru bisa terbuka. Ketika AS menaikkan tarif, India justru memperluas relasi perdagangan dengan Asia Tengah, Timur Tengah, dan bahkan Afrika. Inilah strategi diversifikasi dan dekolonisasi ekonomi yang nyata.

India Tak Takut

India, dalam konteks ini, bukan sedang menentang AS secara frontal. India sedang mengatakan bahwa hubungan internasional tidak bisa dibangun di atas ancaman. Tarif, sanksi, dan tekanan ekonomi bukanlah cara yang sehat untuk menjalin kemitraan global. Dunia telah berubah. Negara-negara berkembang tidak lagi bisa diperlakukan sebagai pion dalam permainan kekuasaan.

Sikap India adalah pengingat bahwa keberanian politik bisa datang dari perhitungan rasional, bukan retorika. Dan bahwa dalam dunia yang penuh tekanan, mempertahankan otonomi ekonomi dan energi adalah bentuk keberanian yang sejati.

(San)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *