Website Berita dan Opini
Indeks

Kenyang yang Membuat Lupa: Puasa dan Kritik atas Hedonisme

Ketika Kenikmatan Dunia Menjadi Tembok Penjara

Kenyang yang Melupakan: Puasa dan Kritik atas Hedonisme
Ilustrasi meta

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Muqaddimah: Ironi Manusia yang Lupa karena Kenyang

Hari keempat. Tubuh mulai beradaptasi, tapi pikiran justru semakin jernih. Ada keheningan yang berbeda di kepala. Mungkin karena tidak sibuk mencerna makanan, otak punya lebih banyak energi untuk merenung.

Dan di keheningan itu, sebuah pertanyaan muncul: Mengapa justru ketika kita terus-menerus makan, kita lupa pada Tuhan? Mengapa justru di tengah kelimpahan, kita merasa paling hampa?

Sejarah mencatat ironi besar: peradaban yang paling makmur secara materi justru melahirkan manusia-manusia yang paling krisis secara spiritual. Negeri-negeri Skandinavia, dengan jaring pengaman sosial terbaik di dunia, memiliki tingkat depresi dan bunuh diri yang mengkhawatirkan. Jepang, negeri dengan teknologi tercanggih, punya fenomena karoshi (mati karena bekerja berlebihan) dan hikikomori (mengurung diri dari dunia sosial).

Mereka memiliki segalanya—makanan berlimpah, hiburan melimpah, fasilitas melimpah—tapi justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar: makna. Mereka kenyang secara fisik, tapi kelaparan secara spiritual.

Puasa hadir untuk membalik logika ini. Dengan membuat lapar secara fisik, ia justru mengenyangkan secara spiritual. Dengan menahan nikmat dunia, ia justru membuka pintu nikmat akhirat. Ini adalah paradoks yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang merasakan.

Mari kita telusuri, Wak: mengapa lapar justru bisa membuat kita “ingat”, sementara kenyang justru sering membuat kita “lupa”?

Landasan Dalil: Bahaya Kekenyangan

Al-Qur’an tentang Qarun: Hancur karena Kemewahan

Allah SWT berfirman menceritakan kisah Qarun, seorang hartawan dari kaum Musa yang hidup dalam kemewahan luar biasa:

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ‘Mudah-mudahan kita mempunyai kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.'” (QS. Al-Qashash: 79)

Qarun adalah simbol hedonisme. Ia menampakkan kemewahan, memamerkan kekayaan, menikmati hidup tanpa batas. Tapi apa akhirnya? Allah membenamkannya beserta rumahnya ke dalam bumi.

Yang menarik, ayat ini tidak langsung menghukum Qarun. Ia justru mencatat reaksi orang-orang: ada yang tergoda, ada juga yang sadar. Orang-orang berilmu di antara mereka berkata:

وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“Celakalah kamu! Pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh.” (QS. Al-Qashash: 80)

Pesan ayat ini sangat jelas: kenikmatan dunia yang tampak megah itu fana. Ia bisa lenyap seketika. Yang kekal adalah pahala di sisi Allah. Tapi untuk menyadari ini, diperlukan “ilmu” dan “iman”—dua hal yang sulit tumbuh di hati yang terlalu kenyang.

  • Hadis tentang Perut yang Tak Pernah Puas

Rasulullah SAW bersabda dengan nada peringatan:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah apa yang Allah keluarkan untuk kalian berupa perhiasan dunia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para sahabat bertanya, “Apa itu perhiasan dunia, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Keberkahan bumi (kekayaan dan kemakmuran).”

Lalu seorang sahabat bertanya, “Apakah kebaikan akan mendatangkan kejahatan?” Rasulullah diam sejenak—dan dalam keheningan itu, para sahabat bisa merasakan bahwa wahyu sedang turun. Setelah itu beliau bersabda:

إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ، إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ، إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ، إِنَّ كُلَّ مَا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ، إِلَّا آكِلَةَ الْخَضِرِ، فَإِنَّهَا أَكَلَتْ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ، فَاجْتَرَّتْ وَثَلَطَتْ وَبَالَتْ، ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ، إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِي حَقِّهِ، فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ، كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ

“Sesungguhnya kebaikan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya kebaikan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya kebaikan tidak akan mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya semua yang ditumbuhkan oleh musim semi itu bisa membinasakan karena banyaknya atau menyebabkan penyakit, kecuali tumbuhan pemakan daun hijau. Ia makan hingga ketika kedua rusuknya terisi, ia menghadap matahari, lalu memamah biak, buang air besar, buang air kecil, kemudian kembali makan. Sesungguhnya harta ini hijau lagi manis. Barangsiapa mengambilnya dengan hak dan menempatkannya pada tempat yang hak, maka ia sebaik-baik penolong. Dan barangsiapa mengambilnya tanpa hak, ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang.” (HR. Bukhari)

Hadis ini luar biasa kaya makna. Rasulullah menggunakan metafora alam: tumbuhan musim semi yang subur bisa membunuh ternak jika dimakan berlebihan. Tapi ada satu jenis ternak yang selamat: ia makan, lalu ketika kenyang ia berhenti, mencerna, buang kotoran, lalu makan lagi. Ia tidak terus-menerus makan tanpa henti.

Demikian pula manusia. Harta itu baik, tetapi jika diambil tanpa hak dan tanpa kontrol, ia akan membuat manusia seperti “orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang”. Inilah definisi hedonisme: tidak pernah puas, terus ingin lebih, dan pada akhirnya binasa karena keserakahannya sendiri.

Anatomi Hedonisme: Membongkar Ilusi Kebahagiaan

Apa Itu Hedonisme?

Secara filosofis, hedonisme adalah paham yang menjadikan kesenangan (hedone dalam bahasa Yunani) sebagai tujuan tertinggi hidup. “Makan, minum, bersenang-senanglah, karena besok kita mati”—itulah motto hedonis.

Dalam bentuknya yang paling ekstrem, hedonisme berkata: tidak ada nilai di luar kesenangan. Yang baik adalah yang menyenangkan, yang buruk adalah yang menyakitkan. Tuhan, surga, neraka, dosa, pahala—semua itu abstraksi yang tidak relevan selama kita bisa menikmati hidup hari ini.

Masalahnya, kesenangan itu seperti air laut. Semakin banyak diminum, semakin haus rasanya. Hedonis tidak pernah puas. Mereka terus berlari mengejar kesenangan, tetapi kesenangan itu selalu menjauh. Akibatnya, mereka hidup dalam frustrasi permanen.

  • Hedonisme dalam Kemasan Modern

Hedonisme zaman dulu mungkin hanya soal makanan, minuman, dan seks. Tapi hedonisme modern jauh lebih canggih. Ia dikemas dalam industri kreatif, pariwisata, hiburan, media sosial, dan gaya hidup.

Baca Juga:  Ada yang Salah Dengan Shaum Kita?

Lihatlah bagaimana lifestyle menjadi komoditas utama kapitalisme. Orang tidak lagi membeli barang karena butuh, tetapi karena barang itu merepresentasikan “gaya hidup” tertentu. Kopi mahal bukan sekadar kafein, tetapi “gaya hidup urban”. Liburan ke luar negeri bukan sekadar rekreasi, tetapi “gaya hidup eksklusif”. Gym membership bukan sekadar olahraga, tetapi “gaya hidup sehat”.

Akibatnya, orang terjebak dalam konsumsi simbolis. Mereka membeli barang untuk menunjukkan siapa mereka, bukan karena mereka membutuhkannya. Mereka hidup untuk tampil, bukan untuk menjadi. Mereka sibuk membangun citra, tetapi kehilangan jati diri.

Dalam situasi seperti ini, puasa adalah tamparan keras. Ia berkata: berhentilah berpura-pura. Berhentilah mengonsumsi simbol. Kembalilah pada esensi. Lapar ini akan mengingatkanmu bahwa kamu bukanlah apa yang kamu beli, bukan pula apa yang kamu kenakan. Kamu adalah ruh yang suatu saat akan kembali kepada Tuhan.

  • Psikologi di Balik Konsumsi Berlebihan

Para psikolog menemukan bahwa konsumsi berlebihan sering kali merupakan kompensasi atas kekosongan batin. Orang yang tidak bahagia cenderung membeli barang untuk mengisi kekosongan itu. Mereka makan berlebihan karena lapar emosional, bukan lapar fisik. Mereka belanja impulsif karena butuh validasi, bukan butuh barang.

Fenomena ini disebut retail therapy—terapi belanja. Tapi seperti semua terapi palsu, efeknya hanya sementara. Setelah barang dibeli, setelah makanan habis, kekosongan itu kembali lagi, bahkan lebih dalam dari sebelumnya.

Puasa menawarkan terapi yang sebenarnya. Dengan menahan diri dari konsumsi, kita dipaksa menghadapi kekosongan itu secara langsung. Tidak ada pelarian, tidak ada distraksi. Hanya kita dan lapar kita. Dan di ruang hampa itulah, perlahan, kita mulai mendengar suara hati yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk konsumsi.

Lapar yang Melupakan: Makna Filosofis

  • Mengapa Kenyang Membuat Lupa?

Ada hubungan langsung antara kekenyangan dan kelupaan. Secara biologis, ketika perut penuh, darah mengalir deras ke sistem pencernaan, meninggalkan otak dengan pasokan oksigen lebih sedikit. Akibatnya, otak menjadi “lemot”, sulit berpikir jernih, cenderung mengantuk dan malas.

Tapi lebih dari itu, secara spiritual, kekenyangan menciptakan ilusi kemandirian. Ketika perut kenyang, kita merasa “cukup”, merasa “tidak butuh apa-apa lagi”. Perasaan cukup ini berbahaya karena bisa menjurus pada perasaan tidak butuh Tuhan. Kita lupa bahwa di balik setiap suapan ada rezeki dari-Nya, di balik setiap tegukan ada karunia-Nya.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6-7)

Ayat ini sangat terkenal. Thaghya (melampaui batas) terjadi ketika manusia merasa istaghna (serba cukup). Perasaan cukup inilah yang membuat manusia sombong, lupa diri, dan pada akhirnya lupa pada Tuhan.

  • Lapar sebagai Pengingat

Sebaliknya, lapar mengingatkan kita pada ketergantungan. Ketika perut keroncongan, kita sadar bahwa kita ini makhluk lemah yang setiap saat butuh makanan. Ketika dahaga membakar tenggorokan, kita sadar bahwa setetes air pun adalah anugerah yang tak ternilai.

Dalam tradisi tasawuf, lapar adalah “guru” yang mengajarkan kerendahan hati. Al-Ghazali dalam Ihya’ menulis satu bab khusus tentang “Rahasia Lapar”. Beliau berkata bahwa lapar itu:

1. Menjernihkan hati dan membuka pintu ma’rifat. Perut yang penuh itu gelap, hati yang gelap tidak bisa menerima cahaya Ilahi.

2. Melembutkan hati sehingga mudah tersentuh. Orang kenyang hatinya keras, sulit menangis, sulit terharu, sulit merasakan penderitaan orang lain.

3. Menundukkan nafsu yang paling kuat, yaitu nafsu perut. Jika nafsu perut bisa ditundukkan, nafsu-nafsu lain akan lebih mudah dikendalikan.

4. Mengingatkan pada penderitaan orang miskin, sehingga lahir empati dan solidaritas.

5. Mengusir kantuk dan membuat orang bisa bangun malam untuk beribadah. Perut kenyang membuat orang berat bangun, bahkan untuk shalat Subuh sekalipun.

Ibnu Arabi dalam Al-Futuhat Al-Makkiyyah bahkan menyebut lapar sebagai “kunci utama” pembuka pintu-pintu spiritual. Beliau berkata bahwa para wali mencapai maqam tertinggi bukan dengan banyak makan, tetapi dengan sedikit makan. Karena dengan sedikit makan, energi ruh tidak tersedot untuk mencerna makanan, sehingga ia bisa melanglang buana di alam malakut.

Hedonisme dalam Bingkai Sosial Kontemporer

  • Fenomena “Food Porn” dan Budaya Pamer

Salah satu manifestasi hedonisme paling nyata di era digital adalah fenomena food porn. Orang memotret makanan dengan gaya seksi, mengeditnya dengan filter cantik, lalu memamerkannya di media sosial. Makanan tidak lagi dinikmati, tetapi “dikonsumsi” secara visual untuk mendapatkan likes dan komentar.

Fenomena ini absurd. Orang rela antre berjam-jam untuk mencoba makanan viral, bukan karena rasanya yang luar biasa, tetapi karena ingin “bisa cerita” bahwa mereka sudah mencobanya. Mereka membayar mahal untuk makanan yang sama-sama saja, hanya karena kemasannya instagramable. Mereka bahkan rela tidak makan—hanya memotret lalu meninggalkan makanannya—demi konten yang menarik.

Puasa mengkritik semua ini. Dengan berpuasa, kita tidak bisa ikut food porn di siang hari. Kita tidak bisa pamer makanan di jam-jam orang lapar. Kita dipaksa diam, menahan diri, dan merenung: untuk apa semua ini? Untuk apa kita sibuk memamerkan apa yang kita makan, sementara tetangga kita mungkin tidak punya apa-apa untuk dimakan?

  • “Flexing” dan Budaya Pamer Kekayaan

Istilah flexing—pamer kekayaan—menjadi tren di kalangan anak muda. Mobil mewah, tas branded, liburan mahal, semua dipamerkan dengan dalih “motivasi” atau “inspirasi”. Padahal, di balik itu semua, yang terjadi adalah kompetisi gengsi yang tak berujung.

Rasulullah SAW telah memperingatkan fenomena ini 14 abad yang lalu:

إِذَا فُتِحَتْ عَلَيْكُمْ فَارِسُ وَالرُّومُ، أَيُّ قَوْمٍ أَنْتُمْ؟ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ: نَقُولُ كَمَا أَمَرَنَا اللَّهُ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوَغَيْرَ ذَلِكَ؟ تَتَنَافَسُونَ، ثُمَّ تَحَاسَدُونَ، ثُمَّ تَتَدَابَرُونَ، ثُمَّ تَتَبَاغَضُونَ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، ثُمَّ تَنْطَلِقُونَ فِي مَسَاكِينِ الْمُهَاجِرِينَ، فَتَجْعَلُونَ بَعْضَهُمْ عَلَى رِقَابِ بَعْضٍ

“Jika Persia dan Romawi telah ditaklukkan untuk kalian, bagaimana jadinya kalian?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Kami akan berkata sebagaimana Allah perintahkan.” Rasulullah bersabda, “Atau selain itu? Kalian akan saling berlomba, lalu saling hasad, lalu saling membelakangi, lalu saling membenci—atau seperti itu—lalu kalian akan pergi ke tempat orang-orang miskin Muhajirin, lalu kalian menjadikan sebagian mereka di atas pundak sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

Subhanallah. Ini adalah prediksi persis tentang masyarakat konsumeris. Ketika kekayaan melimpah, yang terjadi bukan syukur, tetapi kompetisi: tanafus (saling berlomba), tahasad (saling hasad), tadabur (saling membelakangi), tabaghudh (saling membenci). Hedonisme menghancurkan solidaritas sosial.

  • Mall sebagai “Kuil” Modern
Baca Juga:  Nyaba Kapamimpinan

Sosiolog kontemporer menyebut pusat perbelanjaan (mall) sebagai “kuil” modern masyarakat kapitalis. Di sanalah mereka beribadah—ibadah konsumsi. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berjalan dari toko ke toko, membeli barang yang tidak dibutuhkan, hanya untuk merasakan kepuasan sesaat.

Menjelang Lebaran, mall-mall penuh sesak. Orang berdesakan membeli baju baru, sepatu baru, perabot baru, seolah-olah Lebaran adalah ajang pamer kekayaan, bukan hari kemenangan spiritual. Tradisi “lebaran” yang seharusnya menjadi momen kesederhanaan, justru berubah menjadi pesta konsumerisme.

Puasa mengingatkan: hentikan ini semua. Kembalilah pada esensi. Idul Fitri bukan tentang baju baru, tetapi tentang fitrah yang baru. Bukan tentang makanan enak, tetapi tentang hati yang bersih. Bukan tentang pamer rumah baru, tetapi tentang maaf yang tulus.

Puasa sebagai Terapi Anti-Hedonisme

  • Detoksifikasi Fisik dan Spiritual

Para ahli kesehatan sepakat bahwa puasa adalah detoksifikasi terbaik. Dengan berhenti makan selama 13-14 jam, tubuh diberi kesempatan membersihkan diri dari racun-racun yang menumpuk. Sistem pencernaan beristirahat, sel-sel rusak diperbaiki, metabolisme menjadi lebih efisien.

Tapi puasa juga detoksifikasi spiritual. Dengan berhenti dari konsumsi berlebihan, jiwa diberi kesempatan membersihkan diri dari “racun” materialisme. Kecintaan pada dunia dikurangi, kecintaan pada akhirat ditambah. Nafsu yang selama ini menjadi tuan, perlahan ditundukkan menjadi pelayan.

Syekh Ahmad Zarruq, sufi besar dari Maroko, berkata: “Barangsiapa ingin hatinya hidup, hendaklah ia melaparkan perutnya. Barangsiapa ingin mati hatinya, hendaklah ia mengenyangkan perutnya.”

  • Membangun Skala Prioritas

Hedonisme mengaburkan skala prioritas. Yang mendesak dan yang penting menjadi tercampur aduk. Orang sibuk mengejar hal-hal yang mendesak tetapi tidak penting—seperti memenuhi keinginan sesaat—dan melupakan hal-hal yang penting tetapi tidak mendesak—seperti ibadah, keluarga, dan pengembangan diri.

Puasa mengembalikan skala prioritas. Dengan menahan lapar, kita belajar bahwa banyak hal yang selama ini kita anggap “darurat” sebenarnya tidak penting. Kita bisa hidup tanpa ngemil, tanpa kopi, tanpa jajan. Yang benar-benar penting adalah yang kekal: iman, amal, dan hubungan dengan Allah.

  • Melatih Pengendalian Diri

Hedonisme adalah kegagalan pengendalian diri. Orang hedonis tidak bisa berkata “tidak” pada keinginannya. Mereka seperti anak kecil yang menangis minta mainan, tidak peduli apakah mainan itu baik untuknya atau tidak.

Puasa melatih otot pengendalian diri. Setiap hari, selama sebulan penuh, kita berlatih menolak keinginan. Ketika makanan lewat di depan mata, kita berkata “tidak”. Ketika minuman dingin ditawarkan, kita berkata “tidak”. Ketika godaan datang, kita berkata “tidak”. Latihan ini membentuk karakter. Setelah Ramadhan, diharapkan kita menjadi pribadi yang mampu mengendalikan diri, bukan dikendalikan oleh nafsu.

Refleksi di Hari Keempat: Merasa Lapar, Mengingat Tuhan

Hari keempat. Lapar sudah menjadi teman yang akrab. Ia tidak lagi menyerang seperti musuh, tetapi hadir seperti pengingat setia: “Hei, jangan lupa pada Tuhan.”

Di keheningan siang, ketika tidak ada suara kunyahan dan tegukan, suara hati menjadi lebih jelas terdengar. Kita mulai merenungkan hal-hal yang selama ini terabaikan: betapa banyak nikmat yang kita lalaikan, betapa banyak waktu yang kita sia-siakan, betapa banyak dosa yang kita anggap enteng.

Dan di penghujung hari, ketika adzan maghrib berkumandang, seteguk air terasa seperti surga. Kita sadar: inilah nikmat yang selama ini tidak kita syukuri. Setiap hari kita minum tanpa pernah berpikir dari mana air itu datang. Setiap hari kita makan tanpa pernah bertanya siapa yang menyediakan.

Maka, di hari keempat ini, mari kita resapi lapar ini. Ia bukan siksaan, tetapi anugerah. Ia bukan beban, tetapi pengingat. Ia bukan musibah, tetapi madrasah yang mengajarkan kita arti syukur, arti kendali, dan arti kehidupan yang sesungguhnya.

Pamungkas: Antara Kenyang yang Melupakan dan Lapar yang Mengingatkan

Pada akhirnya, kita dihadapkan pada dua pilihan: kenyang yang melupakan atau lapar yang mengingatkan. Kenyang yang menjauhkan dari Tuhan atau lapar yang mendekatkan kepada-Nya.

Hedonisme menawarkan yang pertama: kenyang, puas, nikmat—tapi semu dan sementara.

Puasa menawarkan yang kedua: lapar, haus, lelah—tapi hakiki dan abadi.

Pilihan ada di tangan kita. Tapi ingatlah, kenyang yang melupakan itu berbahaya. Ia bisa menjerumuskan ke dalam kelalaian yang berkepanjangan. Sementara lapar yang mengingatkan itu menyakitkan, tetapi sakitnya hanya sementara, sedangkan ingatannya membekas selamanya.

Sabda Rasulullah SAW:

نِعْمَ الإِدَامُ الْخَلُّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim)

Hadis ini sering diartikan secara harfiah: cuka itu lauk yang enak. Tapi secara filosofis, ada makna lebih dalam: kesederhanaan itu baik. Hidup tidak harus selalu mewah. Cukup dengan yang sedikit, asal berkah. Karena berkah itu lebih berharga daripada kuantitas.

Maka, selamat bermalam di hari keempat. Semoga lapar ini menjadi guru yang bijak, yang mengajarkan kita arti hidup yang sebenarnya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Referensi:

  • Al-Qur’an dan Terjemahannya
  • Hadits Riwayat Bukhari, Muslim
  • Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Bab “Rahasia Lapar”
  • Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim
  • Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyyah
  • Syekh Ahmad Zarruq, Qawa’id al-Tashawwuf
  • Jean Baudrillard, The Consumer Society
  • Zygmunt Bauman, Liquid Modernity.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *