
Oleh: Bramantyo S.
Dia tahu sejak awal, cinta ini bukan untuknya.
Lelaki yang dia kasihi sudah terikat,
mengikat hatinya pada orang lain.
Namun cinta tak pernah bertanya,
tak pernah meminta izin sebelum merasuk ke jiwa.
Dia mencintai dalam diam,
dan ketika akhirnya harus pergi,
ia meninggalkan dengan hati yang terbelah,
separuh tertinggal bersama bayangan lelaki yang tak bisa dimilikinya.
Mencoba merangkai hidup dengan seseorang yang baru,
ia memilih dengan sederhana: asal ada, asal jadi. Asal punya.
Dia pikir, pernikahan hanyalah soal kebersamaan,
soal berbagi kehidupan sehari-hari.
Namun, setiap kali matanya terbuka,
setiap kali langkahnya menapak,
selalu ada bayangan lelaki itu di belakang pikirannya.
Setiap malam, ia tidur dengan kelelahan,
bukan karena hari yang panjang,
tapi karena pikirannya tak pernah bebas dari kenangan.
Baginya, cinta sejati tak bisa bersatu,
dan kebahagiaan yang ia cari
terkubur di antara keputusan yang dipaksakan.
“Kalau cinta tak bisa bersatu,” katanya pada dirinya sendiri,
“berpura-puralah bahagia.”
Namun berpura-pura tak pernah cukup.
Kebahagiaan yang ia harapkan tak pernah datang,
karena bayang-bayang masa lalu terus membuntuti,
menghantui langkahnya.
Dalam keputusasaan,
dia mulai membenci lelaki yang dulu sangat dicintainya.
Dia pikir, kebencian adalah jawabannya,
jalan untuk menghapus jejak cinta yang pernah ada.
Namun kebencian tak memberi kedamaian,
malah menyiksa jiwanya lebih dalam.
Setiap kali ia mencoba melupakan,
setiap kali ia berusaha menghapus,
kenangan itu justru semakin kuat,
mengakar dalam hatinya yang terluka.
Apakah kebencian membawa damai?
Tidak.
Sebaliknya, kebencian menjadi api yang membara,
membakar tenang yang ia rindukan.
Bayang-bayang itu tak pernah hilang,
meski ia berlari, meski ia bersembunyi.
Di balik kebenciannya,
ada cinta yang tak mampu padam,
cinta yang tak bisa dimiliki.
Dan kini, ia hanya bisa terdiam,
terperangkap di antara dua dunia—
dunia yang dia pilih karena kewajiban,
dan dunia yang ia tinggalkan karena cinta.
Bayang-bayang itu,
meski ia benci,
tetap tinggal di sana,
seperti jejak kaki di pasir pantai,
terhapus ombak namun tak pernah benar-benar hilang.
#blep






