Sastra  

Kisah Pilu Anak Seorang Pedagang Ketan

Kisah pilu anak seorang pedagang ketan
Foto freepik. Seorang anak sedang menikmati makanannya.

 

Oleh Hendi Rustandi

Desa Cikidang adalah suatu desa penghasil sayuran terkenal yang tanahnya subur. Meski begitu, tidak semua penduduk desa berprofesi sebagai petani, banyak juga yang berdagang seperti halnya orang tua Rudi.

Rudi adalah anak seorang pedagang ketan, yang setiap pagi menjajakan ketan kukus dengan berbagai isian di pasar kecamatan.

Meskipun hidup dalam kesederhanaan, Rudi memiliki impian yang besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, keadaan ekonomi keluarganya yang pas-pasan membuatnya sulit untuk mencapai impian tersebut.

Sejak kecil, Rudi sudah terbiasa dengan ejekan dari teman-temannya.

“Anak pedagang ketaaaan, mana bisa kuliah!” begitu mereka sering berteriak sambil tertawa.Rudi hanya bisa menahan rasa sakit di hatinya.

Ia ingin membuktikan bahwa meskipun berasal dari keluarga sederhana dan sudah tidak memiliki bapak, ia bisa sukses dan berprestasi. Namun, setiap kali ia mendengar ejekan itu, semangatnya seolah pudar.

Meskipun demikian, Rudi tidak menyerah. Ia berusaha keras untuk belajar. Setiap malam, setelah membantu Ibunya menjajakan ketan, ia akan belajar dengan tekun di bawah cahaya lampu minyak.

Rudi sangat mencintai pelajaran, terutama matematika dan bahasa Indonesia. Ia ingin menjadi orang yang berpendidikan, agar bisa mengangkat derajat keluarganya.

Suatu hari, Rudi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ia belajar lebih giat dari sebelumnya, bahkan mengorbankan waktu bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

Ketika hasil ujian diumumkan, Rudi tidak bisa mempercayai matanya. Ia diterima di salah satu universitas negeri yang diimpikannya.

Namun, kebahagiaan itu segera sirna ketika ia menyadari bahwa biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari menjadi beban yang berat bagi keluarganya.

Dengan tekad yang kuat, Rudi memutuskan untuk bekerja sambil kuliah. Ia menjadi marbot masjid, membersihkan tempat ibadah, dan menjaga agar masjid tetap rapi.

Baca Juga:  Senja di Sudut Luka

Setiap bulannya, ia mendapatkan sedikit uang dari sumbangan jamaah yang datang beribadah. Meskipun penghasilannya tidak seberapa, Rudi bersyukur karena itu cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya dan sedikit untuk biaya kuliah.

Selama menjalani kehidupan barunya, Rudi kembali merasakan ejekan teman-temannya. Mereka sering meremehkannya, bahkan saat ia mengisi waktu luangnya dengan belajar.

“Ngapain sih, Rudi? Kamu kan cuma marbot, mana bisa jadi orang sukses!”

Namun, setiap ejekan itu justeru semakin memotivasi Rudi untuk membuktikan bahwa ia bisa lebih dari sekadar anak pedagang ketan.

Waktu berlalu, dan Rudi berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya. Ia meraih gelar dengan predikat memuaskan, sebuah prestasi yang cukup membanggakan.

Rudi merasa bahwa semua usaha dan pengorbanannya selama ini telah terbayar. Ia bertekad untuk segera menikah dan membangun keluarga yang bahagia.

Namun, perjalanan Rudi tidak semulus yang ia bayangkan. Ketika ia mulai melamar gadis-gadis di desanya, tak satu pun dari mereka yang menerima lamarannya. Mereka selalu memiliki alasan:

“Maaf, Rudi. Aku tidak bisa.”

Rudi merasa hatinya hancur. Ia tidak mengerti mengapa statusnya sebagai anak pedagang ketan menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan cinta.

Hari demi hari berlalu, dan Rudi semakin terpuruk. Ia merasa seolah-olah dunia telah menolaknya. Teman-teman yang dulu menghina kini mulai menjauh, dan Rudi merasa kesepian. Ia tidak lagi menjadi marbot masjid, karena rasa putus asa telah menguasai dirinya. Ia memilih untuk mengurung diri di rumah, jauh dari keramaian dan ejekan yang selalu menghantuinya.

Suatu malam, Rudi duduk di tepi jendela sambil memandang bulan yang bersinar terang. Ia teringat akan semua kenangan indah semasa kecil, saat ia masih berjualan ketan bersama ibunya.

Baca Juga:  Palu dan Paku: Renungan tentang Keterbatasan Perspektif

Rudi merasa bahwa hidupnya telah kehilangan arah. Ia tidak tahu harus kemana dan apa yang harus dilakukannya selanjutnya.

Sejak saat itu, Rudi hilang bak ditelan bumi. Tidak ada lagi kabar tentangnya. Teman-temannya yang dulu menghina pun mulai bertanya-tanya,

“Kemana Rudi? Apa yang terjadi padanya?”

Namun, tidak ada yang bisa memberikan jawaban.

Desa itu menjadi sepi tanpa kehadiran Rudi. Orang-orang mulai melupakan sosoknya, meskipun kenangan akan anak si pedagang ketan yang penuh semangat dan cita-cita masih tersimpan di hati mereka.

Rudi, yang dulunya penuh harapan, kini menjadi misteri yang tak terpecahkan.

Kisah Rudi menjadi pelajaran bagi banyak orang. Bahwa terkadang, meskipun kita memiliki impian yang besar, kondisi dan lingkungan sekitar bisa menjadi tantangan tersendiri.

Namun, harapan tidak boleh padam. Rudi mungkin telah hilang, tetapi semangatnya untuk berjuang dan tidak menyerah akan selalu dikenang.

Di suatu tempat yang jauh, Rudi mungkin sedang berusaha menemukan kembali jati dirinya, berharap suatu saat ia bisa bangkit dan membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar anak si pedagang ketan.

*Penulis adalah, muballigh dan dosen KPI IAI PERSIS Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *