
Oleh Nurdin Qusyaeri
Di sebuah dusun kecil bernama Sukamaju, tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan Desa Sukamulya, Kecamatan Pakenjeng, Garut, seorang guru bernama AM (nama samaran) menjalani hari-harinya dengan semangat yang tak pernah padam.
Meski kehidupannya penuh keterbatasan, ia tetap berdiri di depan kelas, menjadi pelita bagi anak-anak desa yang bercita-cita tinggi.
AM adalah seorang Sarjana Pendidikan Agama Islam, lulusan sebuah perguruan tinggi Islam swasta di Garut. Perjalanan mengajarnya dimulai dari sekolah swasta pada 2012. Empat tahun dihabiskan di sana, sebelum akhirnya ia mengabdi di SDN Sukamulya I sejak 2016 sampai sekarang.
Sudah lebih dari delapan tahun ia setia mengajar di sekolah negeri kecil itu, menjadikan total pengabdiannya sebagai guru mencapai 12 tahun setengah.
Setiap pekan, AM menghabiskan lima hari penuh di sekolah, mengajar selama 7,5 jam per hari. Di ruang kelas sederhana itu, ia mengajarkan ilmu dan nilai-nilai kehidupan, meski dirinya sendiri kerap kali dirundung masalah ekonomi.
Honor yang diterimanya hanya Rp350.000 per bulan—itu pun baru cair setiap tiga bulan sekali.
Uang sejumlah itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya, seorang suami yang bekerja sebagai buruh dan dua anak yang sedang tumbuh.
Sebenarnya, AM tak tinggal diam. Beberapa kali ia mencoba mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), berharap nasib baik berpihak. Namun, keberuntungan seolah masih enggan menghampirinya. Dan ketika kabar bahwa guru PNS akan mendapatkan tunjangan Rp2 juta dari menteri baru berembus, hati AM serasa tersayat.
“Hati kecil saya kadang berontak,” lirihnya.
“Kenapa kok tidak adil? Tunjangan dan sertifikasi guru hanya untuk mereka yang sudah PNS, sementara kami, guru honorer, yang gaji bulanan cuma Rp350 ribu—dan itupun dibayar setiap tiga bulan—tak pernah diperhatikan. Mana letak keadilan itu?”
Pertanyaan itu terus bergema di benaknya. Sampai kapan guru honorer harus hidup dalam himpitan ekonomi? Sampai kapan sebutan “Umar Bakri” melekat pada kehidupan guru-guru Indonesia yang penuh perjuangan ini?
AM hanya bisa berharap, meski dengan getir, bahwa suatu hari pengabdian guru honorer akan dihargai setara dengan pengorbanan mereka.
AM adalah potret dari ribuan guru honorer di Indonesia yang hidup dalam keterbatasan, tetapi tetap menjaga asa. Ia melanjutkan langkahnya dengan keyakinan bahwa tugasnya adalah ibadah, tugasnya adalah pengabdian dan setiap peluhnya akan berbuah pahala.
Di balik senyumnya yang sederhana, ada doa-doa yang ia panjatkan setiap malam: semoga anak-anaknya kelak memiliki hidup yang lebih baik. Semoga murid-muridnya dapat menggapai cita-cita yang lebih tinggi.
Dan semoga pemerintah suatu hari benar-benar memahami arti perjuangan para guru honorer yang setia mengabdi di pelosok negeri ini.
AM adalah nama samaran, tetapi kisahnya nyata, menggugah, dan menyisakan tanya besar, sampai kapan ketidakadilan ini akan berakhir?
Wallahu’alam.





