
Oleh Nurdin Qusyaeri
Saat kegelapan malam, seorang tukang kayu menggenggam palu di tangannya. Cahaya remang dari lentera tua memantulkan kilau besi yang telah berulang kali menemani pekerjaannya.
Bagi tukang kayu itu, setiap kayu yang ia temui seolah berseru minta dipaku. Sebab, bagi tangan yang terbiasa dengan palu, dunia ini tak lebih dari sekumpulan paku yang harus diketuk.
Abraham Maslow, seorang pemikir besar dalam psikologi humanistik, pernah berkata:
“Jika satu-satunya alat yang Anda miliki hanyalah palu, Anda cenderung akan melihat setiap permasalahan sebagai paku.”
Kutipan ini mencerminkan keterbatasan perspektif. Manusia sering kali terjebak dalam pola pikir yang sempit—menggunakan satu cara untuk semua masalah, tanpa menyadari bahwa setiap tantangan memerlukan solusi yang berbeda.
Bayangkan seorang pemimpin yang hanya mengenal cara otoriter. Ketika menghadapi persoalan, ia akan menggunakan kekuasaannya untuk memaksakan kehendak, tanpa mempertimbangkan diplomasi atau kerja sama.
Atau seorang guru yang selalu mengandalkan hukuman atau ancaman dalam mendidik, tanpa memahami bahwa beberapa murid lebih membutuhkan pendekatan kasih sayang yang lembut dan penuh pengertian.
Fleksibilitas berpikir adalah kunci agar kita tidak terperangkap dalam satu pola yang sama. Dunia ini luas, penuh dengan tantangan yang beragam. Tidak semua permasalahan adalah paku yang harus diketuk.
Kadang, ia adalah benang kusut yang harus diurai dengan kesabaran. Kadang, ia adalah tanah kering yang perlu disirami pemahaman.
Lebih dari itu, hidup bukan hanya tentang cara menyelesaikan masalah, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap dalam menjalani kehidupan sosial. Ada orang yang selalu membawa gunting—siap memotong, memisahkan, dan bahkan menggunting dalam lipatan demi kepentingannya sendiri. Mereka yang gemar merusak hubungan, menebar fitnah, dan mengambil kesempatan tanpa memikirkan etika.
Tapi ada pula mereka yang membawa dreuk/hekter—mereka yang memilih untuk menyatukan, merangkul, dan membangun kebersamaan dalam kebaikan.
Maka, jangan hanya membawa palu, karena tidak semua permasalahan adalah paku. Dan jangan hanya membawa gunting, karena hidup bukan hanya tentang memisahkan. Sesekali, gunakanlah dreuk/hekter, agar kita tidak hanya menjadi pemecah, tetapi juga perajut persaudaraan, pertemanan, dan kebaikan.
Sebab, kehidupan adalah seni menemukan alat dan cara yang tepat—bukan hanya untuk menghadapi tantangan, tetapi juga untuk menjaga nilai-nilai yang kita bawa.
Wallahu’alam





