
Oleh Puji Purwati, M.Ag*
Ada panggilan yang terdengar oleh telinga melalui lantunan ayat-ayat-Nya, dan pada saat yang sama terasa nyata menyentuh relung hati yang paling dalam.
Panggilan itu datang setiap tahun, mengetuk kesadaran dan kemauan seorang beriman untuk “merasa” mereka tengah di panggil oleh sang pemilik seruan, Ia adalah panggilan Ramadhan.
Panggilan yang bukan sekadar penanda datangnya sebuah bulan, tetapi undangan untuk kembali. Kembali kepada Allah, kembali kepada diri yang lebih jujur, dan kembali kepada tujuan hidup yang sering terlupakan di tengah kesibukan dunia.
Sering kali, kehidupan membuat kita berjalan tanpa jeda. Hari-hari berlalu tanpa sempat kita bertanya: ke mana sebenarnya arah perjalanan ini?
Ramadhan hadir sebagai ruang perhentian. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menatap diri, dan bertanya dengan jujur: sudah sejauh mana kedekatan kita dengan Allah? Sudah seberapa sering kita mengingat-Nya, bukan hanya dalam doa, tetapi dalam kesadaran hidup sehari-hari?
Ramadhan juga mengajarkan kejujuran yang paling dalam—kejujuran kepada diri sendiri. Tidak ada manusia yang melihat ketika kita berpuasa sendirian, tetapi kita tetap menahan diri.
Di situlah letak pendidikan yang sesungguhnya. Puasa membentuk kesadaran bahwa Allah selalu hadir, bahkan ketika tidak ada siapa pun yang melihat. Kesadaran inilah yang perlahan membangun ketakwaan.
Setiap Ramadhan adalah kesempatan yang tidak pernah benar-benar sama. Ada Ramadhan yang telah berlalu tanpa meninggalkan bekas. Ada Ramadhan yang datang dan pergi tanpa perubahan.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Ramadhan akan datang, tetapi apakah kita benar-benar akan memasukinya. Apakah kita hanya akan melewatinya sebagai rutinitas, atau menjadikannya sebagai ruang untuk memperbaiki diri.
Panggilan Ramadhan adalah panggilan untuk pulang. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran. Pulang dari kesibukan yang melelahkan menuju ketenangan yang menguatkan. Pulang dari hati yang jauh menuju hati yang kembali hidup bersama Allah.
Kini, panggilan itu tiba. Ramadhan telah membuka pintunya. Ia menunggu siapa pun yang bersedia masuk dengan hati yang terbuka.
Karena sesungguhnya, Ramadhan bukan hanya tentang satu bulan yang akan berlalu, tetapi tentang kesempatan untuk menemukan kembali diri kita yang sejati—diri yang lebih dekat kepada Allah, lebih jernih dalam iman, dan lebih kuat dalam menjalani kehidupan.
Bandung, 1 Ramadhan 1447H
*Penulis adalah sekretaris prodi ilmu Al-Qur’an dan Tafsir





