Website Berita dan Opini
Indeks

Pelajaran Penting dari Kejadian Aksi 25 Agustus sampai 1 September 2025

 

Aksi 25 Agustus sampai 1 September 2025
Ilustrasi

Oleh Nurdin Abdul Aziz

Sejarah tidak pernah datang sebagai cerita dongeng yang penuh dengan kebetulan manis. Ia selalu hadir sebagai ruang penuh luka, suara yang serak, dan langkah-langkah kaki yang menolak untuk menyerah. Dari rentetan aksi yang bergemuruh antara 25 Agustus sampai 1 September 2025, kita melihat bagaimana sebuah bangsa sedang belajar, meski dengan caranya yang getir.

Aksi itu bukan sekadar barisan massa di jalan. Ia adalah ruang kuliah terbuka, di mana rakyat menjadi dosen, jalanan jadi papan tulis, dan pekikan tuntutan menjadi materi utama. Apa yang kita lihat? Bahwa ketidakadilan bukan sekadar wacana; ia hadir di wajah petani yang terinjak, di napas buruh yang sesak, dan di tubuh mahasiswa yang dipaksa tunduk.

Baca Juga:  Dalang, Delpedro, dan Ferry antara Imajinasi dan Represi

Pelajaran pertama: rakyat tidak pernah diam.

Seringkali, kita ditipu oleh narasi bahwa rakyat mudah lupa, pasrah, atau bisa dibungkam dengan janji-janji kosong. Nyatanya, dari Jakarta hingga pelosok kampung, rakyat punya ingatan yang panjang. Ingatan itu tak bisa ditukar dengan sembako, tak bisa dibeli dengan spanduk, apalagi dipadamkan dengan gas air mata.

Pelajaran kedua: solidaritas masih hidup.

Kita melihat petani berjalan bersama mahasiswa, buruh menggandeng aktivis lingkungan, bahkan pedagang kecil ikut menyumbang makanan untuk massa aksi. Di tengah zaman yang penuh fragmentasi dan algoritma media sosial yang memecah belah, kita menemukan kembali bahwa persaudaraan sejati lahir bukan dari kesamaan kelas sosial, melainkan dari kesamaan luka.

Pelajaran ketiga: kekuasaan selalu gelisah ketika rakyat bersatu.

Aparat yang berjaga berlapis, narasi media arus utama yang berusaha meredam, dan elite politik yang mencoba mendistorsi, semuanya adalah tanda ketakutan. Kekuasaan tahu, sekali rakyat menemukan suaranya, ia tak mudah dikembalikan ke dalam kotak sunyi.

Baca Juga:  Demonstrasi Akhir Agustus 2025, Antara Aspirasi dan Kekacauan

Pelajaran terakhir, yang paling pahit: perjuangan bukan sprint, melainkan maraton.

Rentetan aksi kemarin hanyalah satu bab kecil dari buku panjang perlawanan bangsa ini. Ia mungkin akan diwarnai pengkhianatan, infiltrasi, bahkan represi. Tapi justru di situlah ketabahan diuji. Bukan soal siapa yang paling keras berteriak hari ini, tapi siapa yang tetap setia berjuang ketika sorotan kamera sudah padam.

Maka, kejadian aksi 25 Agustus sampai 1 September 2025 tidak boleh sekadar lewat sebagai berita viral. Ia adalah alarm sejarah. Ia adalah cermin yang menatap kita dan bertanya: apakah kita akan kembali lupa, ataukah kita mau menjadikannya bekal untuk melangkah lebih jauh?

Ferry Irwandi pernah menulis, bahwa setiap aksi rakyat adalah doa yang dijawab dengan cara yang keras. Dan dari doa itu, kita belajar, bahwa negeri ini hanya bisa diselamatkan jika rakyatnya tidak pernah berhenti mengingat, merawat solidaritas, dan melawan lupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *