
Oleh Aap Salapudin*
Ketika kita bicara tentang Indonesia maju, maka tidak bisa dilepaskan dari bagaimana desa-desa kita berkembang. Justru dari desa lah pondasi negeri ini dibangun. Dalam konteks ini, pembangunan desa berbasis kearifan lokal menjadi sangat penting. Sebab, desa bukan hanya wilayah administratif, tetapi juga tempat hidupnya nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi penyangga kehidupan sosial masyarakat.
Sayangnya, modernisasi seringkali hadir dengan membawa pola hidup baru yang mengikis nilai-nilai lama. Padahal, kearifan lokal yang tumbuh di desa merupakan modal sosial yang sangat kuat dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan, berakar, dan berkarakter.
Gotong Royong, Bukan Sekadar Tradisi
Di tengah individualisme yang kian merajalela, gotong royong hadir sebagai penawar sekaligus pengingat bahwa hidup tak bisa dijalani sendirian. Tradisi ini tidak sekadar kerja bersama, melainkan ekspresi dari nilai sukarela, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap komunitas. Masyarakat desa yang terbiasa bergotong royong akan memiliki tingkat kepedulian sosial yang tinggi—siap membantu tetangga tanpa diminta, dan hadir dalam suka maupun duka.
Prinsip bengkung ngariung, bongkok ngaronyok mencerminkan bahwa keterlibatan kolektif dalam setiap masalah—baik kecil maupun besar—adalah kekuatan utama masyarakat desa. Inilah modal sosial yang tak ternilai dan harus terus dipelihara dalam arus pembangunan.
Harmoni Sosial yang Menguatkan
Pembangunan fisik tidak akan berarti tanpa pembangunan sosial. Lingkungan desa yang harmonis, di mana setiap individu sigap menolong yang lain saat kesulitan, menciptakan ketenangan batin dan stabilitas sosial. Tradisi runtut raut, rempug jukung sauyunan adalah bentuk konkret dari masyarakat yang saling mendukung, rukun, dan terbuka untuk musyawarah.
Harmonisasi ini bukan hanya nilai budaya, tetapi juga menjadi kebutuhan zaman, khususnya dalam menghadapi tantangan global seperti krisis iklim dan konflik sosial. Desa yang kuat secara sosial akan lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Taat Hukum dan Mengedepankan Mufakat
Kearifan lokal di desa juga mengajarkan pentingnya patuh pada hukum dan menjunjung kepentingan negara. Warga desa diajarkan sejak kecil untuk nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balaréa—menghormati aturan, membela tanah air, dan mendahulukan mufakat.
Nilai-nilai ini merupakan bagian dari pendidikan karakter nonformal yang hidup di tengah masyarakat. Ketika nilai ini diinternalisasi secara kolektif, maka akan lahir masyarakat yang tidak hanya beradab, tetapi juga siap menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa.
Mencegah Konflik, Merawat Damai
Satu hal yang sering luput dalam pembangunan adalah bagaimana menyelesaikan konflik. Di desa, ada tradisi untuk tidak memperbesar persoalan atau menyeret orang lain dalam konflik yang tidak perlu. Ungkapan seperti cai caah ulah disorang mengajarkan etika dalam menghadapi konflik secara dewasa dan damai.
Pembangunan yang mengabaikan aspek sosial seperti ini akan mudah tersandung oleh gesekan antarwarga. Maka, pelestarian nilai etika sosial harus menjadi bagian dari strategi pembangunan desa yang berkelanjutan.
Mengutamakan Kepentingan Umum
Sikap egois dan mementingkan diri sendiri hanya akan menimbulkan perpecahan. Masyarakat desa memahami pentingnya mengutamakan kepentingan bersama. Prinsip seperti ulah ngukur baju sasereg awak mengingatkan agar tidak mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pribadi, apalagi jika menyangkut hajat hidup orang banyak.
Inilah bentuk kesadaran politik yang paling murni—lahir dari pengalaman hidup bersama dalam komunitas kecil namun solid.
Menjaga Reputasi Keluarga dan Komunitas
Dalam kehidupan sosial desa, perilaku satu anggota bisa mencoreng nama baik keluarga bahkan komunitasnya. Oleh karena itu, pendidikan moral dalam keluarga sangat ditekankan. Ungkapan mapay ka puhu leungeun menjadi pengingat bahwa setiap individu membawa tanggung jawab sosial, bukan hanya pribadi.
Kesadaran seperti ini penting untuk diperkuat dalam proses pembangunan desa berbasis kearifan lokal, karena menciptakan tanggung jawab sosial yang melekat sejak dari keluarga.
Dari Kearifan Lokal Menuju Masa Depan yang Maju
Pembangunan desa berbasis kearifan lokal bukanlah wacana romantik masa lalu. Ia justru menjadi solusi konkret di tengah krisis sosial yang kita hadapi saat ini. Di saat banyak masyarakat perkotaan mulai kehilangan rasa kebersamaan, desa-desa kita justru masih menyimpan nilai-nilai hidup yang relevan dan kuat untuk menjawab tantangan zaman.
Dengan menggali, merawat, dan menguatkan kearifan lokal, desa tidak hanya akan menjadi lebih kuat, tetapi juga menjadi pilar utama bagi Indonesia yang benar-benar maju dan beradab.
*Penulis Aktivis 98 Jawa Barat
Editor: San





