Website Berita dan Opini
Indeks

Puasa dan Alienasi: Merasa Asing di Dunia Sendiri

Puasa dan Alienasi: Terasing di Tengah keramaian
Ilustrasi dibuat Meta AI

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Hari ketujuh belas. Di luar sana, orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang sibuk belanja, sibuk nonton, sibuk nongkrong di kafe, sibuk scroll media sosial. Di tengah keramaian itu, kadang kita merasa sendiri. Merasa tidak terhubung. Merasa asing meskipun dikelilingi ribuan orang.

Inilah yang disebut alienasi. Sebuah kata besar yang sering didengar, tapi jarang dipahami. Alienasi adalah kondisi ketika seseorang merasa terputus dari dirinya sendiri, dari orang lain, dari alam, bahkan dari Tuhan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menggambarkan kondisi ini dengan bahasa yang indah. Beliau berkata, “Hati manusia itu seperti cermin. Debu dunia bisa menutupinya sehingga ia tidak lagi memantulkan cahaya kebenaran. Orang yang hatinya tertutup debu akan merasa asing dengan Tuhannya, meskipun ia rajin beribadah. Ia akan merasa kosong meskipun dunianya penuh.”

Puasa hadir untuk membersihkan debu-debu itu. Untuk mengembalikan koneksi yang putus. Untuk membuat kita merasa “rumah” kembali setelah sekian lama “tersesat”.

Alienasi Manusia Modern

Para filsuf modern banyak membicarakan alienasi. Karl Marx bicara tentang alienasi pekerja yang terputus dari hasil kerjanya. Emile Durkheim bicara tentang anomie—kekosongan norma yang membuat manusia kehilangan pegangan. Erich Fromm bicara tentang alienasi manusia modern yang lari dari kebebasan karena takut bertanggung jawab.

Tapi ada satu alienasi yang paling dalam: alienasi spiritual. Manusia modern kehilangan koneksi dengan Tuhannya. Mereka sibuk dengan dunia, lupa pada Pencipta dunia. Mereka sibuk memenuhi hasrat, lupa pada Pemberi hasrat. Mereka sibuk mencintai ciptaan, lupa pada Sang Pencipta.

Seyyed Hossein Nasr dalam The Heart of Islam menjelaskan bahwa krisis terbesar manusia modern adalah krisis spiritual. Ia menulis, “Manusia modern kehilangan kemampuan untuk melihat Yang Sakral di balik realitas material. Ia hanya melihat permukaan, bukan kedalaman. Ia merasa asing di dunia karena ia telah memutus hubungan dengan Sumber dari segala yang ada.”

Di bulan Ramadhan, puasa mengajak kita keluar dari alienasi ini. Dengan menahan lapar dan haus, kita diingatkan bahwa kita bukan makhluk independen. Kita butuh makan, butuh minum, butuh rahmat Allah setiap saat. Kesadaran akan ketergantungan ini adalah awal dari koneksi.

Puasa: Kembali pada Fitrah

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fitrah adalah kondisi asal manusia: suci, bersih, dan terhubung dengan Tuhannya. Tapi kehidupan dengan segala kompleksitasnya sering membuat fitrah itu tertutup. Kita menjadi asing dengan diri kita sendiri. Kita lupa siapa kita, dari mana kita datang, dan mau ke mana kita pergi.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa adalah jalan kembali ke fitrah. Dengan mengosongkan perut, kita mengosongkan diri dari pengaruh dunia yang menutupi hati. Dengan menahan syahwat, kita melatih jiwa untuk tidak tenggelam dalam materialisme. Dengan merasakan lapar, kita diingatkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan butuh pertolongan Allah.

Beliau menulis, “Orang yang berpuasa sejati adalah ia yang keluar dari puasanya dalam keadaan lebih dekat dengan Allah daripada sebelumnya. Ia tidak lagi merasa asing dengan Tuhannya, karena ia telah merasakan keintiman bersama-Nya di saat-saat lapar dan dahaga.”

Alienasi dan Konsumerisme

Salah satu penyebab utama alienasi modern adalah konsumerisme. Kita sibuk membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan, untuk mengesankan orang-orang yang tidak kita kenal. Kita tenggelam dalam budaya “aku adalah apa yang aku miliki”, bukan “aku adalah apa yang aku lakukan” atau “aku adalah siapa diriku di hadapan Tuhan”.

Erich Fromm dalam bukunya To Have or To Be membedakan dua mode eksistensi manusia: mode having (memiliki) dan mode being (menjadi). Manusia modern cenderung hidup dalam mode having. Mereka mengidentifikasi diri dengan apa yang mereka miliki: rumah, mobil, pakaian, jabatan, popularitas. Akibatnya, ketika kehilangan semua itu, mereka kehilangan diri mereka sendiri.

Baca Juga:  Cerita KKN di Kampung Cinarusa Mandalawangi Nagreg: Antara Ladang, Harapan, dan Kehidupan

Puasa mengajak kita keluar dari mode having menuju mode being. Selama seharian, kita tidak memiliki apa-apa: tidak makan, tidak minum, tidak melakukan hubungan suami-istri. Kita hanya “menjadi” diri kita sendiri di hadapan Allah. Tidak ada topeng, tidak ada pencitraan, tidak ada kepura-puraan.

Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi berkata:

“Kosongkan dirimu dari harta dan pujian,

Seperti bejana kosong yang siap diisi air jernih.

Manusia modern penuh dengan barang, tapi kosong dari makna.

Berpuasalah, agar kau terisi dengan cahaya Illahi.”

Orang Asing yang Dirindukan

Sabda Rasulullah SAW:

“Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

Hadis ini sering diartikan bahwa orang-orang saleh akan merasa asing di tengah masyarakat yang rusak. Tapi ada makna lebih dalam: orang yang benar-benar beriman akan merasa asing di dunia ini, karena ia tahu bahwa kampung halamannya yang sejati adalah akhirat.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Latha’if Al-Ma’arif menjelaskan bahwa orang yang berpuasa adalah “orang asing” di tengah dunia yang sibuk dengan makan dan minum. Ketika orang lain sibuk menikmati hidangan, ia menahan diri. Ketika orang lain sibuk dengan syahwat, ia beribadah. Ia merasa asing, tapi keasingannya itu justru yang akan menyelamatkannya.

Ibnu Rajab mengutip perkataan seorang salaf: “Berbahagialah orang yang asing. Mereka adalah orang-orang saleh di tengah orang-orang jahat. Orang yang membenci mereka lebih banyak daripada yang mencintai mereka.” Tapi justru di situlah letak kemuliaan: mereka tidak larut dalam arus, mereka memilih jalan yang berbeda karena Allah.

Di bulan Ramadhan, kita semua dilatih menjadi “orang asing”. Kita makan di waktu yang berbeda, tidur di waktu yang berbeda, beribadah lebih banyak daripada biasanya. Kita keluar dari rutinitas duniawi untuk masuk dalam ritme Ilahi. Dan dalam keasingan itu, kita justru menemukan jati diri kita yang sejati.

Kembali Terhubung

Alienasi adalah keterputusan. Puasa adalah koneksi ulang.

Pertama, puasa mengembalikan koneksi kita dengan diri sendiri. Di tengah hiruk-pikuk dunia, kita jarang punya waktu untuk merenung, untuk berdialog dengan diri sendiri, untuk bertanya:

siapa aku? Untuk apa aku hidup? Mau ke mana aku setelah mati? Puasa memberi ruang hening untuk refleksi itu.

Kedua, puasa mengembalikan koneksi kita dengan sesama. Dengan merasakan lapar, kita teringat pada saudara-saudara kita yang setiap hari kelaparan. Dengan menahan haus, kita teringat pada mereka yang kesulitan air bersih. Empati ini melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan koneksi.

Ketiga, puasa mengembalikan koneksi kita dengan alam. Saat menahan diri dari konsumsi berlebihan, kita ikut menjaga keseimbangan alam. Kita tidak serakah mengambil sumber daya, kita belajar hidup sederhana dan bersyukur.

Keempat, dan yang terpenting, puasa mengembalikan koneksi kita dengan Allah. Dengan menahan lapar karena-Nya, dengan menahan haus karena-Nya, dengan bangun malam untuk beribadah kepada-Nya, kita membangun hubungan yang intim dengan Sang Pencipta. Kita tidak lagi merasa asing di dunia ini, karena kita tahu bahwa kita punya Rumah yang menanti di akhirat.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa orang yang mencapai ma’rifatullah (mengenal Allah) tidak akan pernah merasa asing di mana pun. Karena ia selalu bersama Allah, dan Allah selalu bersamanya. Di mana pun ia berada, ia merasa di rumah, karena Tuan Rumah alam semesta selalu menyertainya.

Puasa sebagai Terapi Alienasi

Dalam psikologi modern, terapi untuk alienasi adalah mindfulness—kesadaran penuh akan momen saat ini. Orang yang mindful tidak larut dalam penyesalan masa lalu atau kecemasan masa depan. Ia hadir sepenuhnya di sini dan sekarang.

Puasa adalah mindfulness dalam bentuknya yang paling sempurna. Setiap kali kita merasa lapar, kita sadar bahwa kita sedang berpuasa. Setiap kali kita menahan amarah, kita sadar bahwa kita sedang berpuasa. Setiap kali kita menjauhi maksiat, kita sadar bahwa kita sedang berpuasa. Kita hadir sepenuhnya dalam ibadah ini, sepenuhnya dalam pengabdian kepada Allah.

Baca Juga:  Hikmah di Balik Ujian: Belajar dari Pohon Bongsai dan Kopi Pahit

Viktor Frankl, pendiri logoterapi, mengatakan bahwa manusia bisa bertahan dalam penderitaan apa pun jika ia menemukan makna di balik penderitaan itu. Puasa mengajarkan kita makna di balik lapar: bahwa kita ini makhluk lemah yang butuh Tuhan, bahwa kita harus bersyukur atas nikmat yang sering kita lupakan, bahwa kita harus peduli pada mereka yang kekurangan.

Dengan menemukan makna ini, kita tidak lagi merasa lapar sebagai penderitaan, tapi sebagai jalan menuju kedamaian. Kita tidak lagi merasa asing di dunia, tapi merasa menjadi bagian dari rencana besar Allah.

Alienasi Gaya Sunda

Abu Nawas, dengan caranya yang khas, pernah ditanya seseorang, “Abu Nawas, aku merasa asing di dunia ini. Aku tidak kerasan dengan kehidupan modern. Semua serba palsu, serba pencitraan. Apa yang harus aku lakukan?”

Abu Nawas menjawab, “Kamu alienasi? Coba ceritakan.”

Orang itu bercerita panjang lebar tentang kegelisahannya. Abu Nawas mendengarkan dengan sabar. Setelah selesai, Abu Nawas berkata:

“Kamu tahu? Rasulullah bersabda bahwa Islam akan kembali asing. Jadi, kalau kamu merasa asing, itu tandanya kamu sedang berada di jalan yang benar. Tapi jangan terlalu asing juga, nanti dikira orang gila.”

Orang itu tertawa. Abu Nawas melanjutkan, “Alienasi itu bukan berarti kamu harus lari dari dunia. Tapi kamu harus bisa hidup di dunia tanpa tenggelam di dalamnya. Puasa mengajarkan itu. Kamu lapar, tapi kamu tetap bekerja. Kamu haus, tapi kamu tetap tersenyum. Kamu lelah, tapi kamu tetap beribadah. Itulah seni menjadi asing di tengah keramaian.”

Refleksi di Hari Ketujuh Belas

Hari ketujuh belas. Separuh lebih Ramadhan telah berlalu. Mungkin kita masih merasa asing dengan diri sendiri. Mungkin kita masih merasa terputus dengan Tuhan. Mungkin kita masih merasa hampa di tengah hiruk-pikuk dunia.

Tapi ingatlah, alienasi adalah alarm. Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara kita hidup. Bahwa kita terlalu tenggelam dalam dunia hingga lupa pada Tuhan. Bahwa kita terlalu sibuk dengan konsumsi hingga lupa pada esensi.

Puasa adalah jawaban atas alarm itu. Ia mengajak kita berhenti sejenak, merenung, dan kembali terhubung. Ia mengosongkan perut agar hati bisa terisi. Ia melemahkan fisik agar ruh bisa kuat. Ia membuat kita asing di dunia agar kita bisa akrab dengan Tuhan.

Jalaluddin Rumi berkata:

“Jangan sedih jika kau merasa asing di dunia ini.

Karena kau memang bukan dari sini.

Kau berasal dari Tuhan, dan akan kembali kepada-Nya.

Maka jadilah asing dengan cara yang benar:

Asing dengan dosa, tapi akrab dengan cinta.

Asing dengan kemewahan, tapi akrab dengan kesederhanaan.

Asing dengan kemunafikan, tapi akrab dengan keikhlasan.”

Pamungkas

Alienasi bisa menjadi kutukan, tapi bisa juga menjadi berkah. Ia menjadi kutukan jika membuat kita putus asa dan terpuruk. Ia menjadi berkah jika membuat kita sadar dan kembali pada jalan yang benar.

Puasa mengubah alienasi dari kutukan menjadi berkah. Ia menggunakan rasa asing untuk mengingatkan kita pada rumah sejati. Ia menggunakan rasa lapar untuk mengingatkan kita pada ketergantungan mutlak kepada Allah. Ia menggunakan rasa hampa untuk mengingatkan kita bahwa hanya Dia yang bisa memenuhi kekosongan hati.

Maka, jika hari ini Anda merasa asing, jangan bersedih. Mungkin itu tanda bahwa fitrah Anda masih hidup. Mungkin itu tanda bahwa hati Anda masih peka. Manfaatkan keasingan itu untuk mendekat pada Yang Maha Dekat.

Karena pada akhirnya, orang yang paling asing di dunia ini adalah mereka yang paling akrab dengan Tuhan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *