
Oleh Iim Marlina
Kesombongan sering kali kita pandang sebagai sifat yang jelas terlihat: seseorang yang berbicara merendahkan orang lain, berjalan dengan dagu terangkat, atau memamerkan harta.
Namun, kesombongan sejati sering kali jauh lebih halus, bahkan nyaris tak terasa. Ia bisa menyelinap lewat sebuah senyuman, ucapan ringan, atau rasa bangga yang tak terkendali.
Kisah nyata ini adalah tentang seorang Jurnalis berusia 67 tahun sebut saja namanya Pak Andi.
Sejak muda, pak Andi memegang teguh satu prinsip: kesombongan adalah penyakit hati. Ia membenci sifat angkuh, takabur, dan egois. Menurutnya, sifat itu bukan hanya merusak hubungan antar manusia, tapi juga mampu menghapus amal kebaikan.
Ia bukan hanya menjauhi sifat itu dalam dirinya, tapi “Segala sesuatu yang kita lakukan adalah karena izin Allah. Jangan sekali-kali merasa lebih dari orang lain.
Namun, ia lupa satu hal: manusia, sekuat apa pun ia menjaga hati, tetaplah makhluk yang bisa khilaf.
Pada suatu hari, Bapak Andi menjadi narasumber di sebuah acara podcast. Ia hadir dengan penuh semangat, membagikan pengalaman dan pandangannya kepada para pendengar.
Di sela sela dari perbincangan tersebut pak andi mengatakan tentang pengalaman hidupnya dan mengatakan walaupun dia sudah pensiun dia masih tetap bisa berkarya.
Sang reporter pun merasa kagum atas apa yang diraihnya lalu berkata, “Wah, Pak Andi ini luar biasa. Umur sudah 67 tahun, tapi aktivitasnya, mobilitasnya, dan kreativitasnya seperti anak muda.”
Ucapan itu membuatnya tersenyum bangga Tanpa sadar, ia membalas,
“Aktivitas, mobilitas, dan kreativitas saya seperti anak muda.”
Sekilas terdengar biasa. Namun di dalam hati, ada rasa hangat yang membuncah—bukan rasa syukur, melainkan rasa bangga. Hatinya melambung, dan ada bisikan halus yang berkata, “Kamu memang lebih baik dari mereka.”
Itulah momen di mana ia mulai lupa. Lupa bahwa semua kekuatan hanyalah titipan Allah.
Lupa bahwa nikmat bisa diambil kapan saja. Lupa bahwa manusia sejatinya tak punya kuasa apa pun.
Malam pun tiba ketika ia sedang berjalan di trotoar dekat rumah. Udara malam terasa biasa saja. Lampu jalan redup, tapi cukup untuk menerangi langkahnya.
Dari kejauhan, terdengar bunyi roda berdecit. Sebuah gerobak nasi goreng melaju cepat, mungkin karena si penjual terburu-buru. Dalam hitungan detik, tabrakan tak terhindarkan.
“BRUK!”
Rasa sakit menyambar kaki kirinya, seperti disayat dari dalam.
Tubuhnya terhuyung.
Lututnya melemas. Ia tidak bisa bangkit, menahan nyeri yang menjalar. Orang-orang berlari menolongnya.
Sesampainya di tempat perawatan, dokter memeriksa. Hasilnya membuat dadanya sesak:
karena ia tak bisa berjalan untuk waktu yang cukup lama dan kursi roda menjadi temannya.
Malam itu, di ruang yang remang, ia duduk termenung di kursi roda. Ingatannya melayang
pada ucapannya, Kata-kata yang awalnya ia banggakan, kini terasa seperti duri yang menusuk. Air matanya jatuh.
“Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lalai ini. Engkau yang memberi kekuatan, dan Engkau
pula yang berhak mengambilnya.”
Ia teringat akan Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.”
(HR. Muslim no. 91)
Hatinya bergetar. Ia sadar, kesombongan tidak selalu terlihat jelas. Kadang ia datang dalam bentuk halus, bahkan dibungkus dalam kalimat yang tampak biasa.
Pelajaran yang Terpatri
Malam demi malam, ia bermuhasabah. Ia merenungkan betapa rapuhnya manusia, betapa cepatnya Allah menguji, dan betapa adilnya ujian itu datang.
Rasulullahصلى الله عليه وسلم bersabda:
“Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim no. 2588)
Bapak Andi akhirnya menyadari satu hal penting: pujian adalah ujian. Kadang ujian itu lebih berat dari celaan, karena pujian bisa meninabobokan hati, membuat kita lupa siapa pemilik semua nikmat.
Kini, ia melihat kursi roda bukan sekedar alat bantu. Bagi Bapak Andi, kursi roda adalah guru. Guru yang mengajarkan rendah hati. Guru yang mengingatkan bahwa semua hanyalah titipan, dan setiap nikmat bisa hilang kapan saja.
Kini ia mengajarkan satu pesan sederhana namun dalam:
“Rendah hati bukan pilihan… tapi kewajiban.”
Sebab segala sesuatu yang kita lakukan hanyalah karena kehendak Allah. Dan hanya Allah yang berhak meninggikan atau merendahkan manusia.
Wallahu ‘alam







Tulisan yang sangat menggugah, ditambah pilihan diksi nya yang tepat sasaran seperti puisi yang mengalir melenakan pembacanya,
Terima kasih penulis bravo