
Oleh Dr. Neuis Marpuah, M.Pd*
Guru adalah sosok yang tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan moral siswa.
Namun, seiring waktu, penghormatan terhadap profesi guru tampak mulai memudar. Jika dulu guru dikenal dengan julukan “di gugu dan ditiru,” kini nilai-nilai itu seakan memudar.
Tulisan ini akan membahas tanggung jawab dan kode etik guru, serta mengapa peran guru di masa kini berbeda dibandingkan masa lalu.
Tanggung Jawab Guru dalam Pendidikan
Guru memiliki tanggung jawab yang luas, tidak hanya terkait akademik, tetapi juga dalam membentuk manusia seutuhnya. Berikut adalah tanggung jawab utama guru:
1. Pembentukan Karakter
Guru adalah pembimbing moral. Mereka berperan dalam menanamkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat pada siswa.
Dalam konteks pendidikan agama, guru menjadi teladan bagaimana hidup sesuai dengan ajaran agama.
2. Pendidikan Holistik
Guru bertanggung jawab untuk mendidik siswa dalam aspek intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.
Hal ini mencakup bagaimana siswa dapat berkembang sebagai individu yang berintegritas dan bertanggung jawab.
3. Komunikasi Positif
Guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman, mendukung, dan komunikatif. Sikap ini akan membantu siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar lebih baik.

Kode Etik Guru
Kode etik guru adalah pedoman moral yang mengatur sikap dan perilaku guru dalam menjalankan tugasnya. Beberapa poin penting dari kode etik ini adalah:
1. Profesionalisme
Guru harus memiliki kompetensi yang memadai, selalu memperbarui pengetahuan, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
2. Keadilan
Guru wajib memperlakukan semua siswa dengan adil tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya mereka.
3. Kehormatan dan Keteladanan
Guru harus menjaga sikap, tutur kata, dan tindakan yang menjadi contoh baik bagi siswa. Keteladanan adalah esensi utama dalam membentuk siswa yang berkarakter.
Mengapa Guru Masa Kini Berbeda dengan Guru Masa Lalu?
Perbedaan antara guru dulu dan sekarang menjadi salah satu sorotan dalam dunia pendidikan.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi perubahan ini:
1. Penghormatan Sosial yang Berkurang
Dahulu, guru adalah figur sentral dalam masyarakat. Mereka dihormati sebagai sumber ilmu pengetahuan dan penjaga nilai-nilai moral.
Namun, perubahan sosial, seperti pengaruh media dan teknologi, telah mengurangi penghormatan masyarakat terhadap guru.
2. Komunikasi dengan Siswa
Dulu: Bahasa yang digunakan guru lebih sopan dan sarat penghormatan. Panggilan seperti anaking atau istilah dalam Al-Qur’an yaa bunayya mencerminkan kasih sayang dan kedekatan antara guru dan siswa.
Sekarang: Sebagian guru menggunakan bahasa informal, seperti “kamu,” yang sering kali terdengar kurang hangat dan tidak mencerminkan hubungan yang penuh penghargaan.
3. Kedisiplinan dan Ketegasan
Dahulu, guru memiliki otoritas yang kuat dalam menegakkan disiplin, sering kali didukung oleh nilai-nilai budaya. Kini, keterbatasan aturan dan tekanan dari orang tua membuat guru kehilangan sebagian dari otoritas tersebut.
Mengembalikan Wibawa Guru dalam Pendidikan
Untuk mengembalikan penghormatan terhadap guru, beberapa langkah strategis dapat dilakukan:
1. Pelatihan Etika dan Komunikasi
Guru perlu diberikan pelatihan khusus untuk memperbaiki cara berkomunikasi dengan siswa. Bahasa yang sopan dan penuh penghargaan harus menjadi standar.
2. Memperkuat Peran Guru sebagai Orang Tua di Sekolah
Guru perlu dipandang sebagai pembimbing yang memiliki hubungan emosional dengan siswa, sebagaimana orang tua di rumah. Hubungan ini akan menciptakan suasana yang hangat dan penuh kasih sayang.
3. Peningkatan Kesejahteraan Guru
Dengan kesejahteraan yang baik, guru akan merasa dihargai sehingga lebih termotivasi untuk menjalankan tugasnya dengan dedikasi penuh.
4. Sinergi dengan Orang Tua
Kerjasama antara guru dan orang tua sangat penting untuk menciptakan dukungan holistik bagi siswa, baik di sekolah maupun di rumah.
Natijah
Guru adalah pilar utama dalam dunia pendidikan. Meskipun tantangan zaman terus berubah, tanggung jawab dan kode etik guru tetap menjadi landasan yang tidak tergantikan.
Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur profesi guru, masyarakat dapat membangun sistem pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter siswa yang unggul.
Penghormatan terhadap guru harus dimulai dari guru itu sendiri, dengan menjadi panutan dan menjalankan tugasnya dengan profesionalisme, keadilan, dan keteladanan.
Dengan demikian, nilai “di gugu dan ditiru” dapat kembali menjadi ciri khas seorang guru sejati.
*Penulis Dosen Pendidikan Agama Islam IAI PERSIS Bandung.





