Website Berita dan Opini
Indeks

Setiap Orang Itu Punya Judul Masalah Masing-masing

Setiap orang itu punya judul masalah masing-masing
Dokpri: Hamparan kebun yang nampak i dah di daerah atas Cinunuk Cileunyi kabupaten Bandung

 

Oleh Nurdin Qusyaeri*

Dalam kehidupan ini, setiap orang adalah buku yang sedang ditulis. Setiap babnya memuat perjuangan, harapan, dan tantangan yang tak pernah sama.

Ada yang jalannya mulus terang benderang, ada pula yang terjal harus berjuang meniti gelap. Begitulah kehidupan, setiap orang punya judul masalahnya masing-masing.

Ada seorang suami yang shaleh, yang hidupnya penuh pengabdian, doa dan ketaatan. Namun, ia diuji dengan istri yang tidak taat kepada Allah, dan tidak taat kepadanya. Ia berdiri kokoh dalam sabarnya, meski hatinya sering kali teriris oleh ketidakpatuhan yang menggores jiwanya.

Di sisi lain, ada istri yang shalihah, yang setiap langkahnya penuh ketaatan. Namun, ia harus berbagi hidup dengan suami yang tenggelam dalam kelalaian, suka mabuk-mabuk, menghabiskan waktu dengan wanita lain, tidak mesra apalagi romantis, KDRT, gak punya pekerjaan yang layak, tanpa visi, tanpa mimpi. Namun istri itu tetap tegak dalam doanya, menanti perubahan yang mungkin tak kunjung datang.

Ada pula orang tua yang tak pernah lelah memberikan kasih, mengabdikan hidupnya demi anak-anaknya. Namun, balasannya adalah anak-anak yang lebih memilih tawuran daripada pendidikan, gadget daripada Al-Qur’an, dan malas sujud di hadapan Rabbnya. Orang tua itu menangis dalam malam-malam panjangnya, berharap pintu hati anaknya terbuka.

Sebaliknya, ada anak yang begitu tunduk kepada orang tuanya, begitu patuh dan penuh cinta. Tapi mereka miskin harta, hingga tak mampu memberikan apa-apa selain doa. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berusaha sekuat tenaga, berharap ridha Allah turun bersama usaha kecil mereka.

Lain cerita dengan anak-anak yang memiliki segala kemewahan dunia—rumah megah, kendaraan mahal, rekening berlimpah. Namun, hati mereka kosong dari ketaatan. Orang tua mereka hanya bisa mengelus dada, merindukan anak-anak yang tak sekadar kaya harta, tetapi juga kaya iman.

Baca Juga:  Bulan Ramadhan Sebagai Momen Peningkatan Kualitas Hidup

Ada pula di keluarga itu yang setiap hari ditimpa dengan kesulitan ekonomi. Untuk memikirkan makan sore dan esok hari saja sudah begitu membebani. Namun dibalik itu dia keluarga yang punya nilai ketaatan dan ketundukan yang hebat sehingga kesusahannya tidak membuatnya aral. Begitupun sebaliknya.

Dalam sejarah, kisah-kisah ini pun tercermin dengan sangat nyata.

Ada istri yang taat kepada Allah dan suaminya, seperti Asiyah, istri Fir’aun, yang tetap beriman meski berada di sisi seorang tiran yang mengaku sebagai Tuhan. Namun, ada pula istri yang membangkang, seperti istri Nabi Nuh yang menolak seruan suaminya hingga akhirnya binasa.

Ada bapak yang taat kepada Allah, seperti Nabi Nuh, tetapi anaknya, Kan’an, memilih membangkang hingga tenggelam dalam banjir besar. Sebaliknya, ada anak yang shaleh, yaitu Nabi Ibrahim, yang teguh dalam tauhid, meski harus menghadapi bapaknya, Azar, seorang penyembah berhala.

Namun, ada pula keluarga yang seluruh anggotanya diberkahi dengan keshalihan: Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Mereka adalah simbol keluarga yang berjalan di rel-Nya, penuh ketaatan, kesabaran, dan pengorbanan, menjadi teladan hingga akhir zaman.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Hidup memang tak pernah lepas dari ujian. Kita tidak bisa memilih apa judul masalah yang akan kita sandang, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita berjalan di atasnya. Jalan yang terbaik adalah tetap berada di rel-Nya: taat kepada Allah, bersyukur atas nikmat, berusaha semaksimal mungkin, lalu menyerahkan hasil kepada-Nya.

Taat adalah bukti iman, syukur adalah bukti penghargaan atas karunia-Nya, ikhtiar adalah wujud perjuangan, dan tawakal adalah tanda kepercayaan penuh kepada Sang Penguasa Langit dan Bumi. Kita mungkin tak bisa mengubah seketika masalah yang kita hadapi, tapi kita bisa mengubah cara kita memandangnya.

Baca Juga:  Untukmu yang Terlihat Kuat

Karena pada akhirnya, setiap masalah bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan. Setiap air mata adalah tinta yang akan menggoreskan babak baru dalam buku kehidupan kita. Dan di akhir cerita, siapa pun yang tetap berada di rel-Nya, akan menemukan kebahagiaan sejati—di dunia maupun di akhirat.

Jadi, jangan bandingkan masalahmu dengan orang lain. Setiap orang punya judul masalahnya masing-masing. Yang terpenting adalah bagaimana kita menuliskan cerita kita dengan keimanan, kesabaran, dan harapan kepada-Nya. Karena buku kehidupan ini, pada akhirnya, hanya akan selesai ditutup oleh-Nya. Wallahu’alam

 

*Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI PERSIS Bandung.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *