
Internasional, daras.id – Langit Teheran berubah mencekam pada Jumat dini hari. Sirine meraung, ledakan terdengar bersahutan, dan cahaya rudal membelah gelapnya malam. Untuk pertama kalinya sejak konflik bayangan Iran-Israel merebak lebih dari satu dekade lalu, serangan langsung besar-besaran diluncurkan oleh Israel ke jantung wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran.
Operasi ini diberi nama “Operation Rising Lion”, dan melibatkan lebih dari 200 pesawat jet tempur serta ratusan munisi presisi. Targetnya bukan hanya fasilitas nuklir yang selama ini jadi sorotan dunia, tetapi juga pangkalan militer utama, laboratorium pengayaan uranium, dan kediaman sejumlah pejabat tinggi Garda Revolusi Iran (IRGC).
“Serangan ini adalah tindakan pertahanan terhadap ancaman eksistensial. Kami tidak ingin perang, tapi kami tidak akan ragu menanggapi ancaman apa pun,” ujar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam konferensi pers di Yerusalem, seperti dikutip dari Time Magazine.
Korban di Pucuk Komando Iran
Media Iran melaporkan bahwa dua tokoh penting militer—Jenderal Hossein Salami, Komandan IRGC, dan Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran—dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Selain itu, sedikitnya enam ilmuwan nuklir juga menjadi korban.
Iran langsung membalas. Lebih dari 100 drone bersenjata diluncurkan ke wilayah udara Israel. Beberapa berhasil ditembak jatuh, namun sisanya memicu alarm darurat di Tel Aviv, Haifa, dan wilayah selatan Israel.
Geopolitik Mengguncang Dunia
Ketegangan ini tak hanya menjadi konflik dua negara. Dunia merespons dengan kekhawatiran mendalam.
“Iran membuat perhitungan yang salah. Israel menunjukkan bahwa batas kesabarannya telah habis,” ujar Daniel B. Shapiro, mantan Duta Besar AS untuk Israel, dalam wawancara dengan Atlantic Council.
“Serangan ini dirancang bukan hanya untuk menghantam fasilitas nuklir Iran, tetapi juga mencegah Iran membalas secara signifikan,” tambah Shalom Lipner, analis kebijakan Timur Tengah di lembaga yang sama.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak terlibat langsung, namun mendukung hak Israel untuk membela diri. Ia juga menyebut bahwa masih ada ruang bagi diplomasi jika Iran menghentikan program nuklirnya.
Dunia Ekonomi Terguncang
Serangan ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak melonjak hingga 14%, dan bursa saham di Asia serta Amerika melemah signifikan.
“Pasar merespons bukan hanya karena gangguan pasokan energi, tetapi karena ketidakpastian jangka panjang di Timur Tengah,” tulis MarketWatch dalam laporannya hari ini.
Respons Dunia
PBB menyerukan penahanan diri dan memperingatkan bahwa eskalasi ini bisa meluas menjadi konflik regional. Arab Saudi dan Turki mengecam serangan Israel, sementara Prancis dan Jerman menyerukan gencatan senjata segera.
Konflik ini membuka babak baru ketegangan Timur Tengah, yang tidak hanya mempertaruhkan keamanan regional, tetapi juga kestabilan global.





