Website Berita dan Opini
Indeks

Dari Al-Ihsan ke Welas Asih: Pribumisasi Islam dalam Layanan Publik

Pribumisasi Islam
RSUD Al-Ihsan (Foto: Istimewa)

Oleh Herdiana*

Wacana pergantian nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-Ihsan di Baleendah menjadi RSUD Welas Asih oleh Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) telah menimbulkan perbincangan publik yang menarik. Di balik perubahan nama itu, tersembunyi suatu gagasan besar yang sangat relevan dengan wacana Islam Nusantara dan khususnya gagasan pribumisasi Islam. Bukan hanya sekadar perubahan istilah, melainkan sebuah usaha penting membumikan nilai-nilai Alquran ke dalam bahasa rasa masyarakat lokal—sebuah tafsir sosial yang hidup dan dinamis.

Makna ‘Welas Asih’ sebagai Pribumisasi Al-Ihsan

Istilah Al-Ihsan dalam tradisi Islam mengandung makna spiritual yang mendalam: “beribadah seakan-akan engkau melihat Allah, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Di dalam Alquran dan hadis, ihsan adalah puncak akhlak, inti dari kesalehan batin dan tindakan. Maka, ketika kata itu diganti menjadi Welas Asih, kita tidak sedang mengurangi nilainya, justru sedang membumikan makna ihsan ke dalam bahasa jiwa masyarakat Sunda.

‘Welas Asih’ bukanlah kata sembarangan dalam kosmologi masyarakat Sunda. Ia mengandung kehangatan, kedekatan, dan kasih sayang yang melekat kuat dalam budaya masyarakat. Pergeseran istilah ini mengandung makna bahwa pelayanan kesehatan bukan sekadar fungsi administratif, melainkan panggilan welas asih terhadap sesama, yang dalam Islam adalah bagian dari ibadah sosial.

Baca Juga:  Menyulam Kembali Rasa dalam Dakwah dan Pendidikan Pesantren

Pribumisasi Islam: Warisan Intelektual Gus Dur

Gagasan seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Pada dekade 1990-an, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menggagas apa yang disebut sebagai pribumisasi Islam. Gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa Islam bukan agama Arab, tetapi agama universal yang bisa hidup dan berkembang dalam ruang budaya manapun, termasuk Indonesia. Islam tidak perlu menghapus budaya lokal, justru Islam harus menyatu dan mengangkat nilai-nilai luhur budaya setempat.

Dalam kerangka ini, mengubah RSUD ‘Al-Ihsan’ menjadi ‘Welas Asih’ adalah bagian dari tafsir kultural terhadap nilai-nilai Islam, bukan penghapusan keislaman. Ini adalah proses ‘tafsir kearifan lokal’—menghadirkan nilai Qurani dalam bahasa dan simbol yang dapat dipahami dan dirasakan oleh masyarakat setempat.

Alquran dan Pribumisasi: Membaca dengan Rasa Bangsa Sendiri

Pribumisasi Alquran bukan berarti merombak teks, tapi menyerap nilai-nilainya ke dalam realitas budaya. Sebagaimana para Wali Songo yang berdakwah melalui gamelan, wayang, dan tradisi lokal lainnya, hari ini pribumisasi dapat diwujudkan melalui nama-nama lembaga, pendekatan pelayanan, hingga kebijakan publik yang menyatu dengan budaya masyarakat.

Bayangkan jika semua pelayanan publik didesain dengan filosofi ‘welas asih’, bukan sekadar efisiensi administratif. Kita sedang membangun bukan hanya sistem, tetapi jiwa dari pelayanan itu sendiri. Di situlah letak nilai Islam yang mendarah daging, bukan hanya melekat di kulit simbolik.

Melampaui Kosmetik, Menuju Kesadaran Budaya

Gagasan KDM ini bukan sekadar rebranding kosmetik, tetapi sebuah upaya kultural-teologis yang sangat penting: menghadirkan Islam yang membumi, membaur, dan mengayomi, bukan mendominasi dengan simbol bahasa Arab yang justru sering menjauhkan makna dari realitas keseharian umat.

Pribumisasi bukan ancaman bagi keislaman, melainkan cara menyerap Islam ke dalam denyut nadi kehidupan masyarakat, agar agama tidak menjadi asing di tengah bangsa sendiri. Maka dari itu, gagasan ‘RSUD Welas Asih’ perlu disambut sebagai bagian dari transformasi dakwah kultural dan pelayanan publik yang berjiwa Qurani.

*Penulis adalah dosen dan pemerhati komunikasi budaya Islam

Responses (2)

  1. Butuh waktu saja untuk masyarakat mengenal brand yang baru. RS sudah pasti akan lebih mudah dikenal karena setiap hari akan selalu ada pasien dan pengunjung yang datang. Mungkin sebagian orang pada awalnya tidak akan mengenal nama yg baru tapi dunia informasi sekarang akan memudahkan pengenalan nama baru tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *