Website Berita dan Opini
Indeks

Botram Pasca-UAS: Ritual Syahdu Generasi Analog yang Penuh Filosofi

Botram Pasca-UAS: Ritual Syahdu Generasi Analog yang Penuh Filosofi
Foto panitia: Peserta Botram KPI-B bersama dosen-dosen KPI dan Pimpinan IAI PERSIS Bandung.

Oleh Yuyun Asymiawati*

Di balik tumpukan soal UAS, print tugas terakhir di menit-menit menjelang deadline, dan dosen yang berwajah datar tapi penuh makna, tersembunyi satu ritual sakral yang selalu dinanti oleh kami, mahasiswa KPI Tamhid: Botram Pasca-UAS.

Berawal dari ajakan botram kakak tingkat kami di semester lalu. Tapi lama-lama, tradisi ini jadi seperti pengumuman kenaikan BBM tengah malam, nggak ada surat edaran, tapi semua langsung paham dan ikut jalan.

Ya, botram. Sebuah kata ajaib yang kalau dicium aromanya bisa langsung bikin lupa nilai UAS. Bukan sekadar makan bareng, tapi ini adalah upacara adat tak tertulis yang diwariskan secara estafet oleh generasi analog kepada kami, dan kami adalah generasi transisi yang masih bisa mengetik cepat tapi tetap ingat cara menanak nasi pakai dandang.

Baca Juga:  Botram: Ritual Kebersamaan Tanpa Sekat di Kelas KPI B 23

Entah siapa yang memulai tradisi ini. Tidak ada naskah kuno atau kitab suci yang menjelaskan asal-usulnya. Tiba-tiba saja, setelah UAS, perut kami seolah diberi alarm alami: “Waktunya botram, kawan!” Dan begitulah, tanpa rapat BEM, tanpa surat edaran rektorat, botram tetap terjadi. Sakral. Otomatis. Dan selalu sukses.

Generasi analog memang dikenal paling survival soal urusan perut. Jangan remehkan mahasiswa yang kelihatannya cuma bawa notes dan pulpen. Karena bisa jadi di dalam tas mereka tersimpan tumpeng mini, sambal terasi, sampai cobek portabel. Kami sudah sangat siap menghadapi hidup, bahkan tanpa microwave, tanpa magic com, tanpa blender.

Tapi botram kami bukan sekadar soal lauk dan nasi hangat yang asapnya seperti pelukan ibu. Ada nilai-nilai luhur yang terbungkus rapi dalam besek dan daun pisang. Kami selalu menyisihkan sebagian menu spesial untuk dosen, bukan karena takut nilai jelek, tapi karena kami paham, perut kenyang dosen bisa mempengaruhi suasana hati saat berdiskusi dengan kami yang kadang jadi ngelantur.

Lebih dari itu, botram adalah bentuk sedekah. Kami percaya, membuat orang lain kenyang dan bahagia adalah amal jariyah paling instan. Tak perlu nunggu transferan donatur internasional, cukup pepes ayam, semur jengkol, sambel lalapan dan bagikan dengan ikhlas.

Botram juga menjadi titik temu antara mahasiswa dan dosen, bukan lagi dalam suasana serius seperti di kelas, tapi dalam tawa, obrolan random, dan candaan receh yang bikin lupa skripsi. Di momen ini, kami tidak hanya membicarakan teori komunikasi atau etika jurnalistik, tapi juga soal sambal mana yang paling pedas atau kenangan kuliah zaman dulu. Di sanalah, silaturahmi mengalir tanpa PowerPoint, tanpa whiteboard. Hanya nasi hangat, sambal, dan hati yang terbuka.

Seperti yang pernah disampaikan Pak Nurdin Qusyaeri sambil tertawa kecil saat menyantap pepes dan lalapan khas botram terakhir,

“Next botrannya di rumah Bu Yuyun … hahah.”

“… insyaa Allah, siap laksanakan.” Sambil tersenyum aku berfikir, next menu apa lagi yah.

Kutipan sederhana tapi penuh makna: dosen pun tahu bahwa botram bukan sekadar makan, tapi pengalaman batin yang mengikat relasi dan menumbuhkan rasa kekeluargaan.

Karena buat kami, kuliah itu bukan cuma soal datang-pulang, absen masuk, lalu nunggu nilai. Tapi juga tentang membangun komunikasi yang nyata, menjalin relasi yang tulus, dan menjadikan ruang akademik sebagai tempat berkeluarga. Kalau hanya sekadar gelar, mungkin bisa dicari di tempat lain. Tapi di kampus ini IAI Persis Bandung prodi KPI, kehangatan ini, hanya bisa ditemukan di antara uap nasi dan gelak tawa selepas UAS.

Begitulah kami, KPI Tamhid 24. Ya hanya kami.. karena KPI Tamhid 23 tidak bisa bergabung, kesibukan mereka yang sebentar lagi menghadapi sidang munaqasah, lebih penting dan tentu membuat pening. Dan kami selalu punya alasan untuk mengadakan botram.

Dan selama masih ada dapur, wajan, dan keinginan untuk berbagi, botram akan terus hidup. Bukan sebagai kebiasaan, tapi sebagai budaya. Sebuah pernyataan sikap: bahwa kami adalah generasi transisi antara analog dan digital yang masih percaya, perut kenyang adalah awal dari segala komunikasi yang efektif.

Terima kasih untuk semua dosen yang bukan hanya mengajar, tapi juga mendengar. Terima kasih untuk teman-teman seperjuangan yang tetap bertahan. Semester 7, mari kita hadapi.

*Penulis adalah mahasiswi KPI-B semester VI 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *