Naik Turun Tangga Kehidupan: Cara Menjaga Kaidah Islam di Saat Sukses dan Terpuruk

naik-turun-kehidupan-kaidah-islam-istiqomah
Foto ilustrasi Ai

 

Oleh Jerri Miftahudin Koesnurrijal

Hidup tidak pernah benar-benar datar. Ia seperti tangga—terkadang kita menanjak, penuh harapan dan keberhasilan. Kadang pula menurun, dipenuhi ujian, kehilangan, dan rasa lelah yang tak terucapkan.

Namun dalam Islam, naik dan turun itu bukan sekedar fase. Ia adalah ujian arah hati —apakah kita tetap bersama Allah, atau justru menjauh saat keadaan berubah.

Menjalani “naik turun tangga kehidupan” dengan kaidah Islami berarti mengelola emosi, menjaga sikap, dan tetap berpegang pada iman, baik saat berada di puncak maupun di lembah kehidupan.

Dzikir Sederhana, Makna Luar Biasa

Rasulullah ﷺ mengajarkan sesuatu yang tampak sederhana, namun dalam maknanya sangat dalam.

Saat Menanjak (Naik / Sukses):

Ucapkan Allahu Akbar

→ Mengingatkan bahwa setinggi apapun kita naik, Allah tetap lebih tinggi.

→ Menjaga hati dari kesombongan.

Saat Menurun (Turun / Ujian):

Ucapkan Subhanallah

→ Menyucikan Allah dari prasangka buruk.

→ Menanamkan keyakinan bahwa tidak ada ketetapan-Nya yang sia-sia.

Dua kalimat ini bukan sekadar dzikir. Ia adalah penjaga keseimbangan jiwa.

Kaidah Islami dalam Menghadapi Hidup

Dalam setiap fase, Islam tidak mengajarkan kita untuk tenggelam dalam emosi. Tapi untuk bergerak dengan kesadaran iman:

  • Saat berada di titik terendah → Fokus pada solusi, bukan ratapan
  • Saat diuji → Lapangkan dada dan bertawakal
  • Saat berhasil → Rendahkan hati dan syukur

Karena dalam Islam, masalah bukan untuk ditangisi terlalu lama, tapi untuk berhadapan dengan iman yang hidup.

Perspektif Psikologi Islam: Iman Itu Dinamis

Dalam psikologi Islam, iman itu naik dan turun. Itu wajar.

Namun yang membedakan adalah:

Apakah kita mendapat “pegangan” saat iman itu melemah?

Baca Juga:  Panggilan Memasuki Madrasah Ramadhan

Dzikir, doa, dan kesadaran akan Allah SWT berfungsi sebagai:

  • Penstabil emosi
  • Menjaga pikiran dari overthinking
  • Penguat makna dalam setiap kejadian

Dengan demikian, seseorang tidak akan:

  • Sombong saat di atas
  • Putus asa saat di bawah

Janji Allah untuk Orang yang Istiqomah

Allah berfirman dalam QS. Fusilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sejujurnya orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqomah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah menjanjikanmu.’”

Ayat ini seperti pelukan hangat dari langit.

Bahwa siapa pun yang bertahan dalam iman—di tengah naik dan turunnya hidup— tidak akan dibiarkan sendirian.

Pilihan Hidup yang Tidak Akan Menyesatkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya: Al-Qur’an dan Sunnahku.” (HR.Malik)

Dan sabda beliau yang lain:

احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan menyaksikan-Nya di hadapanmu.” (HR. Tirmidzi)

Artinya jelas—yang perlu kita jaga bukan hanya hidup kita, tapi hubungan kita dengan Allah.

Hikmah di Balik Naik Turun Kehidupan

Jika kaidah Islam tetap terjaga, maka apa pun masalahnya, kita akan mendapatkan:

  1. Ketenangan batin → bukan karena hidup mudah, tapi karena hati terarah
  2. Istiqomah dalam ketaatan → tidak goyah oleh keadaan
  3. Arah hidup yang jelas → tidak tersesat oleh gemerlap dunia
Baca Juga:  Khutbah Idul Adha 1446 H: Menghidupkan Kepasrahan Nabi Ibrahim di Tengah Zaman Gelap

Hidup ini memang tangga.

Dan kita tidak selalu bisa memilih akan berada di anak tangga yang mana.

Tapi kita selalu bisa memilih—

apakah kita naik dengan kesombongan, atau dengan kesadaran…

apakah kita turun dengan keputusasaan, atau dengan keyakinan.

Karena pada akhirnya, bukan tentang seberapa tinggi kita pernah berada, tapi seberapa kuat kita tetap bersama Allah di setiap langkah yang kita pijak.

Doa :

Ya Allah…

tetapkan hati kami dalam keimanan, kuatkan kami dalam setiap ujian, dan jadikan kami hamba yang istiqomah dalam setiap naik dan turunnya kehidupan.

Aamiin.

 

*Penulis: pengisi artikel populer di koran PR, Galamedia, Tabloid Pelajar, Tabloid Islam Bandung dll.

Editor: Popi Sri Mulyani

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *