Website Berita dan Opini
Indeks

Pendidikan Adalah Bertani Jiwa

Pendidikan Adalah Bertani Jiwa
Foto Penulis di Acara Sidang Terbuka Promosi Doktor Nurdin Qusyaeri, M.Si (Dokumen Pribadi)

Tulisan Lalan Sahlani

Keterkaitan Bertani dan Pendidikan

Bertani tidak dimulai dengan menabur. Ia dimulai jauh sebelumnya: ketika seorang petani menunduk, meraba tanah, mencium angin, dan bertanya dalam hati, “layakkah lahan ini untuk dititipi hidup?”

Begitu pula pendidikan. Ia bukan memindahkan isi buku ke kepala secepat-cepatnya. Ia adalah menitipkan ruh ke dalam tanah waktu, lalu merawatnya sampai ia sanggup berdiri sendiri dan menaungi orang lain.

Tanah Dahulu, Baru Benih

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita pada fitrah yang rapuh dan jujur:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”
(HR. al-Bukhari no. 1385, Muslim no. 2658)

Tanah itu keluarga, sekolah, pertemanan, dan apa yang kita scroll setiap malam. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menulis dengan gamblang:
“Anak itu seperti tanaman. Jika engkau sirami dengan ilmu dan adab sejak kecil, ia akan tumbuh. Jika engkau abaikan, maka yang akan menumbuhkannya adalah gulma”
[Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maud bi Ahkamil Maulud, hal. 240, Dar ‘Alamul Fawaid, 1427H]

Karena itu sebelum ribut mencari guru terbaik, tanyakan dulu: bagaimana udara di rumah kita? Apakah rumah ini taman yang menumbuhkan rasa aman, atau ladang gersang yang membuat akar enggan menancap?

Mengenal Benih, Bukan Memaksa Padi

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
(QS. At-Tin: 4)

Setiap jiwa datang membawa benihnya sendiri. Ada benih hafalan, ada benih dagang, ada benih yang tumbuhnya pelan seperti bambu. Tugas kita bukan menyeragamkan, tapi mengenali.

Lihat bagaimana Imam Asy-Syafi’i kecil. Ibunya tidak menyuruhnya berdagang meski hidup mereka sempit. Ia justru mengantarnya ke majelis ilmu. “Ibuku yang menanamkanku di majelis,” kenang beliau kelak. Benihnya ilmu, maka itulah yang disiram.

Umar bin Abdul Aziz berpesan kepada muaddib anaknya:
“Dahulukan Al-Qur’an untuk mereka, lalu kisah para nabi dan orang shalih, sebelum engkau sibukkan dengan syair yang bisa merusak hati”
[Diriwayatkan oleh adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamin Nubala’ 5/142, Muassasah Risalah, 1405H]

Baca Juga:  Wanita: Sebuah Simfoni Makna dalam Empat Gerak

Menyiram dengan Sabar, Memangkas dengan Cinta

Allah memerintahkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”
(QS. At-Tahrim: 6)

Menjaga itu kerja harian. Ia tidak viral. Ia adalah mengulang adab yang sama ke-100 kalinya, menegur dengan lembut, dan memberi contoh ketika tidak ada yang melihat.

Imam Malik butuh dua puluh tahun sebelum ia merasa layak duduk mengajar. Ketika ditanya, ia menjawab, ilmu itu harus dimasak dulu di dalam dada. Imam Ahmad pun pernah ditarik ayahnya dari jalanan menuju majelis. Pukulan itu bukan kekerasan, itu adalah pupuk.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, yang intinya: ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Rindang dilihat, tapi tidak ada yang bisa dipetik.

Menyiapkan Imunitas untuk Iklim yang Berubah

Nabi ﷺ mengajarkan tawakal yang hidup:
“Ikatlah untamu, lalu bertawakallah”
(HR. at-Tirmidzi no. 2517, ia berkata: hasan shahih)

Iman yang kuat tapi tidak siap menghadapi dunia akan roboh. Dunia yang cerdas tapi tanpa iman akan sesat.

Karena itu para salaf membekali anak bukan hanya dengan hafalan, tapi dengan perisai. Ibnul Jauzi menulis di Shoidul Khatir:
“Didiklah anakmu untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu. Karena mereka akan hidup di masa yang bukan masamu”
[Ibnul Jauzi, Shoidul Khatir, hal. 391, Darul Qalam, 1412H]

Imunitas itu tiga: kokoh di tauhid agar tidak tumbang oleh syubhat, hidup di akhlak agar tidak hanyut oleh syahwat, dan luas di ilmu agar bisa membedakan mana jalan dan mana jurang. Caranya? Biarkan mereka gagal kecil hari ini, agar tidak gagal besar nanti. Biarkan mereka menyelesaikan konfliknya, menolak ajakan buruknya, dan bangkit dari kecewanya. Itu vaksin.

Baca Juga:  Pentingnya Soft Skill dalam Pendidikan dan Kehidupan Modern

Berbuah, Lalu Menaungi

Tujuan akhir bertani bukan memajang pohon. Tujuan akhirnya panen.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”
(HR. Ahmad 6/118, ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath 6/58, dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ 3289)

Doa para hamba Allah yang lulus ujian selalu sama:
“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”
(QS. Al-Furqan: 74)

Berbuah artinya berubah. Dari yang tadinya menuntut, menjadi memberi. Dari yang tadinya dilayani, menjadi melayani. Ilmu yang tidak mengalir akan busuk. Hati yang tidak menaungi akan mengeras.

Imam Al-Ghazali rahimahullah mengingatkan dengan kalimat yang menampar:
“Anak adalah amanah. Hatinya bersih seperti mutiara. Jika engkau biasakan dengan kebaikan, ia akan tumbuh di atasnya dan engkau serta gurunya akan mendapat pahala. Jika engkau biasakan dengan keburukan, maka engkau akan binasa bersamanya”
[Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin 2/52, Darul Ma’rifah]

Dan ingat janji ini:
“Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya”
(HR. Muslim no. 1631)

Penutup: Urusan Petani dan Urusan Allah

Seorang petani hanya menguasai tiga hal: memilih tanah, menjaga benih, dan setia menyiram. Tentang hujan, tentang musim, tentang buah, itu bukan wilayahnya.

Pendidik pun begitu. Kita tidak bisa memaksa tunas untuk cepat tinggi. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga agar tanahnya tidak tercemar, agar airnya tidak keruh, dan agar kita tidak lelah menjadi peneduh.

Maka mari bertani. Pelan, sabar, dan dengan cinta. Karena suatu hari nanti, tanpa kita duga, benih itu akan berbuah. Dan buahnya akan dimakan oleh kampung, oleh bangsa, bahkan oleh kita di liang lahat.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *