
Oleh Iim Marlina
“Mengapa harus aku? Mengapa ujian ini begitu berat?”
Pertanyaan itu kerap hadir dalam hati kita, seolah menggugat takdir yang tak kunjung berpihak. Tak jarang pula, keluhan pun menyusul ketika beban hidup terasa tak tertanggungkan. Namun, dalam setiap keluhan dan air mata, sesungguhnya ada ruang untuk memahami: bahwa hidup adalah ladang ujian, tempat iman diuji dan keteguhan diuji.
Ada sebuah kisah nyata yang menggambarkan betapa beratnya ujian kehidupan. Seorang ibu bernama Rima, tinggal di kota Bandung bersama suaminya Aldi dan keenam anak mereka. Aldi adalah tulang punggung keluarga, pekerja keras yang tak kenal lelah mencari nafkah.
Namun takdir berkata lain—suatu hari ia jatuh sakit, dan setelah menjalani berbagai perawatan, dokter menyampaikan kabar pahit: Aldi mengidap penyakit liver yang tak ada obatnya.
Hari-hari Rima berubah menjadi malam-malam penuh air mata dan doa. Ketika Aldi akhirnya wafat, Rima harus berdiri sendiri di tengah badai duka. Ia tak hanya kehilangan pendamping hidup, tapi juga harus menghidupi enam anak kecil dan satu bayi yang masih dalam kandungan, yang sudah memasuki bulan kesembilan. Selain itu, masalah ekonomi menghimpitnya seperti jerat yang tak terlepas. Dunia seolah runtuh di hadapannya.
Namun, Rima memilih untuk tidak menyerah. Ia menolak larut dalam keputusasaan. Di tengah luka yang menganga, ia menata harap dan menerima takdir ilahi dengan hati yang lapang. Ia percaya, bahwa Allah SWT tidak pernah salah dalam menakar ujian bagi hamba-Nya. Apa yang diberikan, pasti mampu dipikul. Dan di balik setiap musibah, pasti ada hikmah.
Ujian Adalah Sunatullah
Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menyadarkan kita bahwa ujian adalah keniscayaan. Ia adalah cara Allah menyaring mana hamba yang bersungguh-sungguh dalam keimanannya, dan mana yang mudah goyah saat diuji dunia.
Ujian datang dalam berbagai bentuk:
1. Ketakutan, seperti ancaman, ketidakpastian, atau rasa cemas yang mendalam.
2. Kelaparan, ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi.
3. Kehilangan harta, saat ekonomi runtuh dan kehidupan terguncang.
4. Kehilangan jiwa, seperti Rima, yang kehilangan suami tercinta.
5. Kekurangan buah-buahan, sebagai simbol hilangnya sumber daya atau hasil usaha.
Tapi Allah tidak hanya memberikan ujian, Ia juga menghadirkan kabar gembira: bahwa orang-orang yang bersabar akan mendapat keberkahan, petunjuk, dan rahmat-Nya.
Membangun Kesadaran Spiritualitas di Tengah Ujian
Menghadapi ujian, ada dua pilihan: larut dalam keputusasaan atau bangkit dalam keimanan. Rima adalah potret dari seseorang yang memilih jalan kedua. Ia berdamai dengan realitas pahit, bukan karena pasrah, tetapi karena sadar bahwa semua yang datang dari Allah, akan kembali kepada-Nya.
Sikap ini menunjukkan tingkat kesabaran yang tinggi, sebagaimana ditegaskan dalam hadis:
“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman, seluruh urusannya adalah kebaikan baginya. Bila mendapatkan kesenangan ia bersyukur, itu baik baginya. Bila ditimpa musibah ia bersabar, itu pun baik baginya.”
(HR. Muslim)
Berdamai Bukan Berarti Menyerah
Berdamai dengan ujian bukan berarti menyerah atau berhenti berjuang. Ia adalah bentuk kepasrahan aktif: menyerahkan segala yang tak mampu kita kendalikan kepada Allah, dan tetap berusaha sekuat tenaga untuk bangkit. Dalam sikap seperti itulah, seseorang menemukan kekuatan sejati, kekuatan yang lahir dari iman.
Rima tidak hanya menjadi ibu dari enam anak dan satu bayi—ia menjadi guru kehidupan, yang mengajarkan kita bahwa iman bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk diuji dan dibuktikan.
Karena sejatinya, setiap ujian adalah cara Allah mencintai kita. Maka, bersabarlah. Dan yakinlah: setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.
“Inna ma’al ‘usri yusra…” (QS. Al-Insyirah: 6-7)
*Penulis adalah mahasiswi KPI B Semester VI
Editor Nurdin Qusyaeri





