Website Berita dan Opini
Indeks

Lailatul Qadar: Malam yang Menyelimuti Hati dengan Cahaya

 

Oleh Nurdin Qusyaeri

Pada suatu malam yang sunyi, ketika angin berhembus pelan membelai wajah-wajah yang bersujud, sebuah keheningan jatuh dari langit. Malam itu bukan malam biasa. Ia adalah malam yang dicari oleh jiwa-jiwa yang haus akan ampunan, yang merindu dekapan kasih Ilahi. Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Malam Kemuliaan itu, Allah menghamparkan rahmat-Nya begitu luas, menjadikannya malam kemuliaan. Kemuliaan karena pada malam ini, firman-Nya yang agung turun ke bumi, menuntun langkah manusia dari gelap menuju cahaya. Sebuah malam di mana takdir kehidupan manusia diguratkan, dan setiap desah napas menjadi saksi atas ketetapan yang ditulis-Nya.

Namun, bukan sekadar pengetahuan tentang kemuliaannya yang menjadikan malam ini istimewa, melainkan bagaimana hati kita merasakannya. Lailatul Qadar bukanlah malam yang hanya ditunggu dalam lelap mata yang terjaga, tetapi malam yang harus disambut dengan keikhlasan yang memenuhi relung jiwa.

Malam itu adalah saat di mana seorang hamba merundukkan diri sepenuh-penuhnya, mengakui kelemahan, meratap dalam kesunyian, dan berharap dalam pengharapan yang tak bertepi.

Bukankah Rasulullah pernah mengajarkan kepada kita sebuah doa yang begitu singkat, namun menyimpan harapan yang begitu dalam?

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii.”

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Doa yang meluruhkan kesombongan manusia. Doa yang membawa kita untuk memahami bahwa pengampunan Allah lebih luas dari dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Allah bukan sekadar menutupi dosa, tetapi menghapusnya, menghilangkan bekasnya, seakan-akan dosa itu tak pernah ada. Betapa indahnya rahmat-Nya.

Malam itu, para malaikat turun. Mereka menyaksikan amal-amal manusia, mendengar rintihan para pendosa yang menangisi kelalaiannya, dan menyaksikan tangan-tangan yang terbuka memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. Dua amal yang hanya dilakukan manusia di bumi dan tidak pernah dilakukan oleh malaikat di langit: istighfar yang tulus dan berbagi rezeki dengan sesama.

Baca Juga:  Kunci Kebahagiaan Itu, Berdamai dengan Waktu Lalu Menikmati Hidup

Sering kita menyaksikan di sudut-sudut kota, di bawah jembatan yang gelap, di emperan toko yang dingin, masih banyak jiwa-jiwa terjaga tergelapak. Mereka  tidak bisa beribadah, karena perut mereka kosong, karena kehidupan tak memberi mereka ruang untuk beristirahat dengan tenang. Mereka tak sempat tarawih, tak sempat tilawah, bahkan mungkin tak sempat berbuka dengan layak.

Namun, di sisi lain, ada tangan-tangan yang mengulurkan makanan. Ada anak-anak muda yang berkeliling membawa nasi bungkus, mengetuk pintu-pintu kemiskinan dengan kelembutan, menghadirkan senyum pada wajah-wajah yang letih.

Mungkin, Lailatul Qadar bukan hanya tentang ibadah di atas sajadah, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan makna keberkahan dalam kehidupan orang lain.

Mungkin, malam ini bukan hanya tentang doa-doa panjang yang kita lantunkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjadi jawaban atas doa-doa mereka yang kelaparan.

Di balik kebeningan malam ini, ada bisikan lembut dari langit:

“Barang siapa yang bersyukur atas nikmat-Ku, niscaya Aku tambahkan nikmat itu baginya. Namun barang siapa yang kufur, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Maka malam ini, biarlah kita menjadi bagian dari mereka yang bersyukur. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan yang nyata. Biarlah air mata yang jatuh bukan sekadar tangisan penuh penyesalan, tetapi juga air mata yang melahirkan perubahan.

Karena Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang dinanti, tetapi malam yang harus dihidupi.

Wallahu’alam

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *