
Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID
Ada hari dalam hidup mahasiswa yang tak bisa dihindari.
Bukan wisuda, bukan seminar proposal.
Tapi hari ketika ia duduk sendiri di depan dua manusia yang tampaknya biasa…
Padahal mereka punya kuasa untuk membatalkan gelar yang sudah dikejar empat tahun:
Penguji I dan Penguji II.
Mereka Tak Bertaring, Tapi Tajam
Penguji I tak pernah marah. Tapi pertanyaannya bisa membuatmu meragukan semua keputusan hidupmu.
“Kenapa Anda pakai teori itu? Apa nggak salah pilih teori?”
Seketika kau sadar:
Mungkin, bukan cuma teori yang salah. Tapi mungkin… hidupmu juga.
Penguji II lebih teknis. Ia akan bertanya dengan sangat wajar,
“Validitas datanya gimana?”
“Ini wawancara atau khayalan?”
Dan mahasiswa hanya bisa menjawab sambil senyum:
“Data ini saya kumpulkan dengan keringat dan… sedikit air mata.”
Kursi Sidang: Kursi Paling Sepi di Dunia
Duduk di kursi itu rasanya seperti duduk di depan meja tilang,
tapi hakimnya hafal APA Style dan bisa membedakan antara epistemologi dan metodologi.
Salah sebut “subjek” jadi “objek” saja, bisa langsung dilabeli:
“Kurang memahami konsep dasar.”
Padahal kamu sudah menghindari warung, bioskop, bahkan undangan mantan, hanya demi menyelesaikan skripsi itu.
Tapi Tunggu Dulu…
Sidang ini bukan untuk mempermalukan.
Ini ujian terakhir sebelum kamu memakai toga dengan bangga dan dahi sedikit mengkilap karena keringat revisi.
Dosen penguji bukan ingin menjatuhkanmu.
Mereka hanya ingin tahu:
“Apakah kamu benar-benar memahami apa yang kamu tulis?”
atau hanya sekadar copas dari skripsi kakak tingkat yang sekarang sudah kerja di dinas tapi belum bahagia?
Panduan Bertahan Hidup
- Jawab secukupnya, jangan ceramah. Ingat, yang ceramah itu ustadz, bukan mahasiswa sidang.
- Kalau tidak tahu, bilang tidak tahu. Jangan nebak. Ini bukan kuis berhadiah motor.
- Kalau ditekan, tarik napas. Jangan lawan. Penguji adalah makhluk akademik, bukan debat warung kopi.
Akhirnya…
Sidang Munaqosah itu seperti cinta:
Kalau kamu jujur, paham, dan bertanggung jawab—maka kamu akan lulus.
Tapi kalau kamu penuh tipu daya dan plagiat,
maka siap-siap dihukum revisi dengan deadline sebelum matahari terbenam bulan depan.
Nah, bagi tuan-puan yang belum Munaqosah, maka bersiaplah:
- Berpakaian rapi. Jangan lupa gosok gigi.
- Bawa skripsi.
- Bawa hati yang ikhlas.
- Dan jangan lupa,
- bawa pulpen—untuk menandatangani berita acara… atau untuk mencatat kata-kata terakhir dosenmu sebelum revisi.
“Ilmu bukan soal seberapa banyak kau hafal, tapi seberapa jujur kau berpikir.”
Wallahu’alam.
*Catatan dari ruang sidang, Penuh Harap dan Doa.






MasyaaAlloh pa warek…kata kata yang amat dalam dan bermanfaat dunia akhirat , tidak tercinta sedikitnya dalam makna kata di pikiran saya ,dengan hati yang amat dalam salut sekali dengan makna kata ya bapa tulis ini ,semoga jadi cerminan bagi saya dan menjadi amalan yang di terima aamiinbyra