Website Berita dan Opini
Indeks

Reformasi di Ujung Tanduk: Sebuah Parodi Nasional Tentang KKN (Korupsi, Kopi, Nepotisme)

Reformasi di Ujung Tanduk: Sebuah Parodi Nasional Tentang KKN (Korupsi, Kopi, Nepotisme)
Foto Twitter: Mahasiswa menduduki gedung MPR menuntut penurunan presiden Soeharto pada 1998.

 

Nurdin Qusyaeri, DARAS.ID

Hari ini, 21 Mei 2025.

Kita memperingati 27 tahun Reformasi.

Wahai anak muda, Reformasi itu bukan nama makanan Korea, bukan pula nama skin baru di Mobile Legends. Itu hari di mana rakyat menggulingkan rezim otoriter sambil bilang, β€œπ™€π™ 𝙨π™ͺ𝙙𝙖𝙝 𝙑𝙖𝙝, π™ π™–π™’π™ž π™˜π™–π™₯π™šπ™ .”

Reformasi katanya SAY NO TO KKN. Tapi sepertinya negara salah dengar. Yang mereka tangkap:

β€œSay Now to KKN.”

Tap MPR XI/1998 dan Janji yang Sekarat di Rak Buku

Tahun 1998 kita bikin Tap MPR XI, isinya lantang dan tegas:

Penyelenggara negara harus jujur, adil, terbuka, terpercaya, dan tentu saja, tidak korup.

Tapi hari ini, isi TAP itu seperti pantun galau:

Dulu janji setia, kini tinggal derita.

Dulu bersumpah bersih, sekarang bersih-bersih nama lewat buzzer.

Katanya Presiden dulu pusat kekuasaan. Sekarang?

Kekuasaan menyebar… ke keluarga, menantu, ipar, adik, bahkan teman SD.

Slogan nepotisme dilawan dengan nepotisme versi modern:

β€œBukan nepotisme, ini bentuk cinta keluarga yang produktif.”

Triliunan Lenyap Seperti Cinta di PHP-in

Mari kita buka lembaran akuntansi neraka:

  • Pertamina: Rp 968,5 Triliun

Uangnya kemana? Tak jelas. Yang jelas, bau solar tetap langka.

  • PT Timah: Rp 271 Triliun

Saking besar korupsinya, bisa bikin negara baru bernama Republik Babel Corp.

  • BLBI: Rp 138,4 Triliun

Konsep: Negara kasih pinjaman, tapi kayak mantanβ€”hilang tanpa kabar.

  • Duta Palma: Rp 104 Triliun

Katanya cinta tanah air, tapi tanahnya malah diserobot.

  • Minyak Mentah Pertamina: Rp 193 Triliun

Mungkin karena terlalu mentah, jadi mudah diolah… jadi korupsi.

Kalau dijumlahkan, semua itu bisa buat gratisin WiFi, pendidikan, dan cicilan KPR. Tapi negara lebih milih buat nyicil drama pengadilan.

Baca Juga:  Menguji Keadilan dalam Kasus Tiga Aktivis May Day Bandung

 

Ketika Sistem Pengawasan Lebih Lemah dari Sinyal di Gunung

Sistem pengawasan kita luar biasa.

Luar biasa… lemah,

Luar biasa… tumpul ke atas, tajam ke netizen yang bawel.

Hukum tak lagi jadi panglima, tapi panglima yang sibuk endorse di TikTok.

Ada yang ditangkap, tapi yang dipenjara cuma tukang ngopi tanpa masker.

Budaya Korupsi dan Religi yang Bikin Bingung Malaikat

Indonesia adalah negara dengan umat Muslim terbesar kedua di dunia.

Sayangnya, di daftar negara korup, juga termasuk Top 10.

Ini bukan karena Islamnya salah. Tapi karena manusianya jago akrobat:

β€œDi luar saya anti riba, di dalam rapat saya bagi-bagi fee.”

Korupsi di sini sudah jadi budaya, kayak saweran di kawinan.

“Biar dikit, yang penting dapat bagian.”

Epilog: Lawan Korupsi, Tapi Jangan Lupa Nonton Sinetron

Semua tahu solusi korupsi itu:

  • Perkuat penegakan hukum
  • Libatkan rakyat
  • Ubah budaya/mental
  • Tingkatkan pendidikan

Tapi semua juga tahu:

Solusi itu kadang cuma jadi bahan seminar. Setelah itu, pulang, selfie, lalu diam.

Pamungkas, Sebuah Doa dan Sedikit Harapan

Tuhan…

Jika memang negara ini ditakdirkan terus dikorup,

tolong beri kami kemampuan untuk sabar,

kuota buat marah-marah di Twitter,

dan diskon bulanan buat Indomie.

 

Tapi kalau boleh,

beri kami satu harapan,

bahwa suatu hari nanti,

tulisan ini akan jadi parodi sejarah,

bukan kenyataan yang terus terulang.

 

Selamat Hari Reformasi.

Semoga bangsa ini tidak terus dijadikan bahan stand up comedy oleh takdir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *