Website Berita dan Opini
Indeks

Senayan: Negeri di Balik Cermin

Senayan: Negeri di Balik Cermin
Foto Pojoksatu: Gedung DPR-MPR RI

Oleh Bramantyo H

Di suatu negeri yang dipagari oleh retorika dan dikelilingi oleh parit-parit janji, terdapat sebuah bangunan megah. Namanya Senayan. Di sana, duduk para penghuni yang menyandang gelar mulia: Wakil Rakyat.

Sebuah frasa yang perlahan-lahan terkikis maknanya, menyisakan sebutan kosong yang gemerincing seperti medali di dada seragam yang tak pernah kena lumpur.

Mereka seharusnya menjadi Jembatan Rasa, penyambung getar nurani yang terputus antara rakyat dan kekuasaan. Jembatan yang seharusnya terbuat dari kayu solid empati, dirakit dengan paku-paku keadilan, dan disangga oleh pondasi kesederhanaan.

Namun, jembatan itu kini telah bermutasi. Ia menjadi Tembok Pemisah yang tinggi, berdinding marmer tunjangan, ber-AC, dan dijaga oleh  nama “Hak Istimewa” dan “Kekebalan Hukum”.

Di balik tembok itu, mereka membangun sebuah Negeri di Balik Cermin, di mana logika terbalik, moralitas dipelintir, dan penderitaan adalah konsep abstrak yang hanya ada dalam draf undang-undang yang belum disahkan.

Baca Juga:  Orang yang Tidak Membaca, Tak Punya Masa Depan

Dalam artikel BBC, yang memuat “Tunjangan-tunjangan anggota DPR” merupakan kaca pembesar yang mengungkap absurditas negeri itu. Sebuah satire tragis tanpa akhir.

Di saat rakyat menjerit, “Pak, saya tidak punya rumah!”, gema yang kembali dari balik tembok adalah sebuah senyum simpul dan mantra ajaib: “Tenang, biar saya yang mewakili. Kalau kau tidak punya, cukup aku saja yang punya.”

Ini adalah puncak dari filsafat perwakilan yang bobrok. Mereka bukan lagi wakil rakyat, melainkan aktor yang memainkan peran “wakil rakyat” dalam sebuah drama absurd.

Rakyat hanyalah penonton yang dipungut bayaran dengan pajak, dipaksa menyaksikan para aktor itu melahap semua kue negara sambil berkoar tentang diet.

Lihatlah dialog surreali yang terjadi di dua sisi tembok itu:

Di sisi yang gelap, seorang Warga bersuara lirih, “Anak saya tidak bisa kuliah.” Dari balik tembok, suara gemericing gelas wine menjawab, “Anakku kuliah di London. Jadi, kau sudah kuwakili merasakan pendidikan internasional.”

“Saya lapar,” rintih yang lain. “Tenang, perutku kenyang oleh wagyu. Laparmu telah kusublimasikan menjadi kekenyanganku,” balas suara itu, disertai suapan.

“Saya tak kebagian BLT.” “Ah, itu karena kau dapat yang little. Aku dapat BGT – Bantuan Gede Tunjangan. Negara ini adil: yang kecil dapat bantuan kecil, yang gede dapat bantuan gede.”

Ini bukan lagi kebodohan. Ini adalah ilusi yang terinstitusionalisasi. Tunjangan rumah 50 juta per bulan bukan sekadar kebijakan; ia adalah monumen bagi ketiadaan nurani. Sebuah performance art tentang betapa hilangnya sense of crisis.

Mereka hidup dalam gelembung yang terisolasi secara sensorik. Suara jeritan tidak sampai, karena dindingnya terbuat dari uang tunjangan yang tebal. Bau keringat dan comberan tidak tembus, disaring oleh parfum mobil dan wewangian ruang rapat ber-AC.

Baca Juga:  Melawan Rasa Takut dengan Berserah Diri

Mereka adalah simulacra, bayangan yang lebih nyata daripada aslinya. Mereka berbicara tentang rakyat, tetapi lidahnya telah diasah untuk mencicipi kaviar. Mereka membuat UU, tetapi hidungnya lebih terbiasa mencium bau amplop daripada bau keringat.

Maka, jembatan itu pun akhirnya resmi runtuh. Yang tersisa adalah dua daratan yang semakin menjauh: Daratan Kekuasaan yang semakin megah dan mabuk, dan Daratan Kerakyatan yang semakin tenggelam dalam kesenyapan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Berteriak? Mereka tuli. Menangis? Air mata kita dianggap embun yang mengganggu mobil mereka yang dicuci setiap pagi.

Mungkin yang tersisa adalah puisi. Puisi kemarahan. Puisi yang ditulis bukan dengan tinta, tapi dengan arang dari pembakaran sampah yang mereka tinggalkan. Puisi yang dibacakan bukan di panggung, tapi di tengah antrean minyak goreng, di bawah atap bocor, di dalam hati yang dipenuhi oleh rasa lapar yang tak terwakili.

Karena ketika kata-kata tak lagi didengar, mungkin hanya puisi dan satirelah yang bisa menjadi palu godam terakhir untuk menghancurkan cermin yang memantulkan kebohongan itu, dan memperlihatkan pada mereka wajah mereka yang sesungguhnya:

para pelakon yang telah lupa bahwa panggungnya suatu hari nanti akan rubuh, dan semua penonton akan naik untuk mengambil alih naskah cerita.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *