Oleh Dede KS*
عَنْ عِيَاضِ بْنِ حِمَارٍ الْمُجَاشِعِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ َإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ رواه مسلم
Iyadh bin Himar RA berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah menurunkan wahyu kepadaku, yaitu hendaklah kalian bersikap tawadhu (merendahkan diri), sehingga tidak ada seorang pun bersikap sombong kepada yang lain dan tidak seorang pun menganiaya yang lain.” (HR. Muslim)
Makna Kosakata
1. تَوَاضَعُوا
Kata تَوَاضَعُوا berarti bersikaplah rendah hati. Bentuk asal katanya adalah التَّوَاضُعُ, yang secara bahasa bermakna التَّذَلُّلُ وَالتَّخَاشُعُ , yaitu merendahkan diri dan bersikap khusyu (rendah hati).
Orang yang tawadhu tidak menempatkan dirinya di atas orang lain, dan tidak merasa lebih mulia karena ilmu, kedudukan, atau hartanya. Sifat ini merupakan lawan dari الكِبْر (kesombongan), yang membuat seseorang menolak kebenaran dan meremehkan sesama.
2. الْبَغْيُ
Kata الْبَغْيُ berasal dari akar بَغَى – يَبْغِي, yang berarti melampaui batas atau berbuat zalim. Orang yang melakukannya disebut بَاغٍ (pelaku kezaliman), sedangkan bentuk jamaknya adalah بُغَاةٌ (para pelaku kezaliman).
3. يَفْخَرُ
Berarti membanggakan diri, yakni seseorang memuji dirinya karena berbagai sifat dan kelebihannya, serta membanggakan diri dengan keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya.
Kandungan Hadits
Dalam kehidupan modern yang sarat dengan kompetisi dan kecenderungan menonjolkan diri, sifat tawadhu terkadang dianggap sebagai simbol kelemahan. Padahal, dalam pandangan Islam, tawadhu adalah suatu kemuliaan. Karena kerendahan hati adalah akhlak para nabi, pewaris ilmu, dan orang-orang saleh yang memahami hakikat dirinya di hadapan Allah.
Sifat ini menjadi penanda kematangan spiritual seorang mukmin, karena ia sadar bahwa semua kelebihan yang dimiliki, baik ilmu, harta, maupun jabatan, bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Makna Tawadhu
Secara bahasa, tawadhu berarti merendahkan diri. Namun dalam terminologi Islam, tawadhu’ tidak berarti merendahkan martabat diri, melainkan sikap menundukkan hati terhadap kebenaran dan tidak memandang diri lebih baik dari orang lain.
التَّوَاضُعُ هُوَ التَّذَلُّلُ وَالِاسْتِسْلَامُ لِلْحَقِّ فِيمَا بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَفِيمَا بَيْنَ النَّاسِ، فَهُوَ أَعَمُّ مِنَ الْخُشُوعِ الَّذِي لَا يَكُونُ إِلَّا لِلَّهِ.
Artinya, tawadhu adalah kerendahan hati dan ketundukan terhadap kebenaran, baik dalam hubungan antara hamba dengan Tuhannya maupun dengan sesama manusia. Dengan demikian, tawadhu’ lebih luas maknanya dibandingkan khusyuk, karena khusyuk hanya terjadi dalam hubungan dengan Allah, sedangkan tawadhu’ juga berlaku dalam interaksi sosial.
Ulama menjelaskan bahwa tawadhu’ memiliki dua dimensi. Pertama, tawadhu’ kepada Allah, yaitu tunduk dan patuh kepada perintah-Nya, mengakui kebesaran-Nya, serta menyadari kelemahan diri. Kedua, tawadhu’ kepada sesama manusia, yaitu berperilaku rendah hati, menghargai orang lain, dan menjauhi sikap angkuh.
Tawadhu Lawan dari Kesombongan dan Pencegah Kedzaliman
Sifat tawadhu merupakan kebalikan dari kibr (kesombongan). Orang yang tawadhu’ tidak memandang dirinya lebih tinggi dari orang lain, tidak pula merasa lebih mulia, pintar, atau berhak diperlakukan istimewa.
Sebaliknya, orang yang sombong melihat dirinya lebih unggul, sehingga terdorong untuk berbuat zalim, merendahkan, atau menindas yang lain. Dari sinilah muncul sifat baghy (kezaliman) dan fakhr (membanggakan diri). Apabila manusia menghiasi diri dengan akhlak tawadhu’, maka tidak akan ada lagi kesombongan dan kezaliman di antara mereka.
Dengan bersikap tawadhu, seorang mukmin menjaga dirinya dari kesombongan (fakhr) dan kedzaliman (baghy). Ia tidak menindas yang lemah, tidak membanggakan diri, dan selalu sadar bahwa semua kelebihan hanyalah karunia dari Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh-Nya kembali.
Dalil-Dalil Al-Qur’an tentang Tawadhu
Al-Qur’an banyak memuji sifat tawadhu’ dan menganjurkan kaum mukmin untuk menghiasinya dalam kehidupan. Allah Ta‘ala berfirman:
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang mukmin yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu‘arā’ [26]: 215)
Ayat ini memerintahkan Nabi Saw. untuk menunjukkan kelembutan dan kerendahan hati kepada para pengikutnya, sebagai teladan bagi umatnya.
Allah juga berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm [53]: 32)
Ayat ini menegur keras orang yang memuji dan meninggikan dirinya sendiri. Hanya Allah yang mengetahui kadar ketakwaan seseorang. Maka, menganggap diri lebih suci dari orang lain adalah bentuk lain dari kesombongan.
Selain itu, Allah juga berfirman:
أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ
“(Mereka) bersikap rendah hati terhadap orang-orang mukmin.” (QS. Al-Mā’idah [5]: 54)
Ayat ini menunjukkan bahwa ciri orang beriman sejati adalah kelembutan hati dan kerendahan diri dalam bergaul dengan sesama mukmin.
Hadis tentang Keutamaan Tawadhu
Rasulullah Saw. bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barang siapa yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim, no. 2588)
Hadis ini menjelaskan bahwa tawadhu’ bukan tanda kelemahan, melainkan sumber kemuliaan. Allah akan meninggikan derajat orang yang rendah hati, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, ia akan dihormati oleh manusia; sedangkan di akhirat, ia akan dimuliakan oleh Allah dengan derajat yang tinggi di sisi-Nya.
Buah dari Sifat Tawadhu
Tawadhu membawa banyak manfaat, baik bagi pribadi maupun masyarakat. Di antara buah dari sifat tawadhu adalah:
a.Dihormati dan dicintai manusia.
Orang yang rendah hati akan disayangi, dipercaya, dan dihormati oleh sesama.
b.Mendapat kemuliaan di sisi Allah.
Tawadhu’ menjadi sebab Allah meninggikan derajat seorang hamba di dunia dan di akhirat.
c.Menumbuhkan keadilan dan kasih sayang.
Dengan tawadhu’, seseorang tidak akan menindas, menghina, atau meremehkan orang lain.
d.Menjauhkan diri dari kezaliman dan permusuhan.
Kesombongan melahirkan permusuhan, sementara tawadhu’ menumbuhkan persaudaraan dan kedamaian.
Peringatan dari Sifat Sombong dan Dzalim
Dalam hadis ini juga terkandung peringatan keras agar manusia tidak bersikap sombong, zalim, atau membanggakan diri. Kesombongan merupakan sifat yang dibenci oleh Allah dan menjadi sebab kehancuran banyak kaum terdahulu.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqmān [31]: 18)
Juga firman-Nya:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا
“Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 37)
Allah juga memperingatkan dalam ayat berikut:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki keangkuhan di bumi dan tidak pula berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 83)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa kesombongan tidak pernah mendatangkan kebaikan. Orang yang sombong pada hakikatnya sedang menutup dirinya dari rahmat Allah, sebab keangkuhan adalah penghalang antara hati manusia dan kebenaran.
Sifat tawadhu adalah cermin dari keimanan yang matang dan akhlak yang luhur. Orang yang rendah hati menyadari bahwa segala kemuliaan hanyalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah hamba yang lemah. Dengan tawadhu’, seseorang tidak akan mudah meremehkan orang lain, tidak pula berbuat zalim.
Sebaliknya, kesombongan adalah sumber kebinasaan. Karena itu, Rasulullah Saw. dan para sahabat mencontohkan sikap rendah hati dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin besar pula tuntutan baginya untuk menjaga kerendahan hati.
Maka, hendaklah setiap Muslim menanamkan dalam dirinya pesan Rasulullah Saw. ini:
إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا
“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati.”
*Penulis adalah Dosen IAI Persis Bandung






