
Oleh Noor Waidah Arifin*
Hidup di dunia ini pada hakikatnya tidak pernah terlepas dari ujian dan tantangan. Tiada satu pun manusia yang luput dari permasalahan, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan tetangga, di sekolah, tempat kerja, maupun di manapun ia berada. Masalah adalah keniscayaan yang justru menjadi bukti bahwa manusia hidup, tumbuh, dan diuji untuk naik ke tingkatan yang lebih baik.
Namun demikian, seringkali kita terjebak dalam lingkaran masalah tanpa tahu cara bijak untuk keluar darinya. Dalam Islam, terdapat resep jitu untuk menenangkan hati, menguatkan jiwa, sekaligus meraih pertolongan dari Allah SWT. Resep ini dikenal dengan istilah Tiga IS, yaitu: Istighfar, Istianah, dan Istiqamah. Ketiganya menjadi kunci spiritual yang menuntun manusia keluar dari gelapnya permasalahan menuju terang petunjuk Ilahi.
1. Istighfar: Memohon Ampunan Allah SWT
Istighfar adalah langkah pertama yang dapat kita lakukan ketika dihadapkan pada kesulitan hidup. Dengan beristighfar, kita mengakui kelemahan diri sebagai manusia yang penuh dosa dan salah. Ucapan Astaghfirullaahal ‘Azhim berarti “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.”
Istighfar dapat diucapkan kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa pun. Tidak ada waktu khusus untuk memohon ampunan, meskipun dianjurkan untuk memperbanyaknya setelah shalat, di waktu sahur, atau di sela aktivitas sehari-hari.
Allah SWT berfirman dalam QS Hud ayat 3:
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang memiliki keutamaan.”
Ayat ini menjadi bukti bahwa istighfar bukan sekadar bacaan, melainkan jembatan menuju ampunan, jalan pembuka rezeki, dan peneduh hati. Dengan beristighfar, kita membersihkan diri dari beban dosa dan menyiapkan ruang hati untuk rahmat Allah SWT.
2. Istianah: Memohon Pertolongan Hanya Kepada Allah SWT
Langkah berikutnya adalah Istianah—memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT. Dalam Islam, pertolongan sejati tidak datang dari manusia, benda, atau makhluk lainnya. Segala daya dan upaya pada hakikatnya bersumber dari kehendak-Nya.
Firman Allah dalam QS Al-Fatihah ayat 5 menegaskan:
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”
Ayat ini menjadi fondasi tauhid bahwa seorang Muslim wajib bergantung sepenuhnya kepada Allah SWT. Manusia hanya bisa berusaha, tetapi hasilnya mutlak di tangan-Nya. Maka, saat menghadapi persoalan yang terasa buntu, kembalikan semuanya kepada Allah. Bukan memohon pada benda keramat, batu besar, gunung, atau pohon beringin, melainkan berserah diri sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa.
3. Istiqamah: Keteguhan Hati dan Konsistensi
Istiqamah adalah keteguhan hati untuk tetap berada di jalan kebenaran meskipun rintangan menghadang. Dalam hal ibadah, istiqamah berarti teguh beribadah hanya kepada Allah SWT, tidak terpengaruh oleh godaan, rayuan, atau tekanan lingkungan. Dalam urusan muamalah, istiqamah berarti konsisten mencintai, menyayangi, dan berbuat baik meski ada tantangan dan godaan.
Jangan sampai komitmen kita bersyarat. Ibarat pepatah, “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang,” ini bukanlah prinsip istiqamah. Istiqamah menuntut konsistensi, tidak mudah goyah, fokus pada kebaikan, dan tidak berubah hanya karena situasi.
Allah SWT berfirman dalam QS Yunus ayat 89:
“Allah berfirman: ‘Sungguh, telah diperkenankan permohonan kamu berdua. Maka tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus (istiqamah) dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.”
Ayat ini menegaskan bahwa istiqamah menjadi syarat untuk tetap mendapat bimbingan setelah petunjuk itu hadir.
Penutup
Hidup adalah perjalanan penuh ujian. Namun, dengan membiasakan diri mengamalkan Tiga IS—Istighfar, Istianah, dan Istiqamah—insyaAllah setiap masalah akan menemukan jalan keluarnya.
Bukan karena kita kuat, tetapi karena kita bersandar pada Yang Maha Kuat. Bukan karena kita suci, tetapi karena kita senantiasa memohon ampun dan pertolongan-Nya. Dan bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita berusaha teguh di jalan-Nya meski berkali-kali jatuh.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang selalu istighfar, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, dan istiqamah dalam kebaikan. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*Penulis adalah mahasiswa KPI B VI IAI Persis Bandung
Editor: Redaksi DARAS.ID





