
Oleh NurdinQusyaeri
Hari kedua belas. Separuh perjalanan Ramadhan telah kita lewati. Tubuh sudah terbiasa dengan ritme lapar dan haus. Jiwa mulai menikmati keheningan yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk konsumsi. Dan di keheningan itu, sebuah pertanyaan mulai muncul, perlahan tapi mengusik: apa sebenarnya yang sedang kita latih ini?
Para ulama besar menjawab: puasa adalah latihan kematian.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis dengan tegas: “Puasa itu adalah menahan diri dari makan, minum, dan syahwat. Dan semua itu adalah hal-hal yang akan terputus saat kematian. Maka, dengan berpuasa, kita berlatih untuk mati. Kita membiasakan diri dengan kondisi yang akan kita alami di alam kubur.”
Subhanallah, dalam setiap tegukan yang kita tahan, dalam setiap suapan yang kita urungkan, kita sedang bersimulasi: beginilah rasanya ketika nanti tak bisa lagi makan dan minum.
Beliau melanjutkan, “Orang yang berpuasa sejati adalah ia yang berpuasa seolah-olah ia tidak akan berbuka lagi, dan ia berbuka seolah-olah ia tidak akan berpuasa lagi. Antara keduanya, ia selalu dalam keadaan sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja.”
Sebuah pengingat yang begitu dalam. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tapi madrasah kematian yang mengajarkan kita bahwa dunia ini sementara, bahwa kenikmatan hanya sebentar, bahwa perut yang kenyang hari ini bisa jadi akan membusuk di tanah esok hari.
Jalaluddin Rumi, sang penyair cinta, melukiskan ini dengan bahasa yang puitis dan menggetarkan. Dalam Matsnawi -nya ia berkata:
- “Hai jiwa, lihatlah orang yang berpuasa,
- Ia seperti lilin yang meleleh,
- Meleleh karena cinta,
- Bukan karena panas api, tapi karena rindu pada kekasih.
- Tubuhnya kurus, matanya cekung,
- Tapi di dalam dadanya, ada taman yang merekah.
- Ia mati sebelum mati,
- Maka ia hidup setelah mati.”
Rumi mengajarkan konsep moto qobla an tamutu—matilah sebelum kalian mati. Ini adalah hadis yang sangat terkenal di kalangan sufi. Maksudnya, matikanlah nafsu sebelum nafsu mematikanmu.
Kosongkanlah diri dari kecintaan pada dunia sebelum dunia meninggalkanmu. Dan puasa adalah jalan paling utama untuk mencapai kematian sukarela ini.
Syaikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, murid setia Ibnu Taimiyah, dalam kitabnya Zadul Ma’ad menjelaskan hubungan erat antara puasa dan kematian. Beliau berkata, “Puasa mengingatkan manusia pada keadaan orang-orang yang kelaparan di dunia, dan pada keadaan ahli kubur yang terputus dari segala kenikmatan.
Maka orang yang berpuasa, jika ia merenungkan hal ini, akan semakin bersyukur atas nikmat Allah dan semakin bersiap untuk bekal akhirat.”
Di bagian lain, Ibnu Qayyim juga menjelaskan bahwa puasa itu adalah zakatul jasad—penyucian tubuh. Sebagaimana zakat membersihkan harta, puasa membersihkan tubuh dari pengaruh duniawi yang berlebihan. “Tubuh yang terlalu kenyang akan lupa pada Tuhan.
Tapi tubuh yang berlapar akan selalu ingat bahwa suatu saat ia akan menjadi bangkai yang tak bisa makan dan minum.”
Para ulama kita begitu dalam merenungkan hubungan antara puasa dan kematian. Mereka tidak melihat puasa sekadar menahan lapar dan haus, tapi sebagai latihan spiritual yang mempersiapkan manusia menghadapi perjalanan panjang setelah mati.
Setiap rasa lapar yang kita tahan adalah pengingat bahwa kelak kita akan lapar selamanya jika tidak membawa bekal iman. Setiap rasa haus yang kita rasakan adalah simulasi dari dahaga di padang mahsyar yang hanya bisa dipadamkan dengan amal saleh.
Dalam tradisi pesantren, para kiai sering mengajarkan bahwa orang yang berpuasa itu seperti orang yang sedang sakaratul maut menjelang ajal. Napasnya tersengal, tenggorokannya kering, tubuhnya lemas.
Tapi jika ia menjalaninya dengan iman, maka sakaratul maut itu akan terasa ringan. Ia sudah terbiasa “mati” setiap tahun, sehingga ketika maut yang sesungguhnya datang, ia sudah siap.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitabnya Futuhul Ghaib mengatakan, “Wahai anakku, matikanlah dirimu sebelum engkau dimatikan. Kosongkan perutmu dari makanan sebelum engkau dikosongkan dari dunia. Karena jika engkau mati dalam keadaan perut kenyang, engkau akan berat meninggalkan dunia.
Tapi jika engkau mati dalam keadaan lapar karena Allah, engkau akan ringan melompat menuju surga-Nya.”
Imam Nawawi dalam Riyadhush Shalihin membuat bab khusus tentang “Keutamaan Merenungi Kematian dan Mempersiapkan Bekal untuk Akhirat.”
Dalam bab itu, beliau mengutip banyak hadis tentang kematian, dan salah satu amalan yang paling dianjurkan untuk mempersiapkan kematian adalah puasa. Karena puasa memutus keterikatan pada dunia, melatih jiwa untuk hidup sederhana, dan mengingatkan bahwa suatu saat semua kenikmatan dunia akan berakhir.
Di era modern ini, kita terlalu sibuk melupakan kematian. Kita berlomba menumpuk harta, mengejar popularitas, membangun karir, seolah-olah kita akan hidup selamanya. Kita takut membicarakan kematian, menganggapnya tabu, seram, mengerikan.
Padahal, kata Imam Al-Ghazali, orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya.
Beliau mengutip hadis Rasulullah SAW, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya).
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya dengan bekal amal saleh.” (HR. Ibnu Majah).
Puasa adalah latihan mengingat kematian. Setiap kali kita menahan lapar, kita ingat bahwa suatu saat tubuh ini akan menjadi makanan cacing.
Setiap kali kita menahan dahaga, kita ingat bahwa tenggorokan ini akan kering di liang lahat.
Setiap kali kita menahan syahwat, kita ingat bahwa nafsu ini akan padam bersama hancurnya jasad.
Tapi justru dalam mengingat kematian, kita menemukan kehidupan. Orang yang paling takut mati adalah orang yang paling mencintai dunia. Semakin cinta dunia, semakin berat berpisah. Semakin ringan cinta pada dunia, semakin ringan pula melangkah menuju akhirat.
Puasa melatih kita untuk ringan, untuk ikhlas melepas, untuk siap kembali pada Sang Pencipta.
Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam berkata, “Barangsiapa yang hatinya tenggelam dalam kenikmatan dunia, ia akan tenggelam dalam penyesalan di akhirat. Barangsiapa yang hatinya selalu ingat kematian, ia akan hidup dalam ketenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.”
Di hari kedua belas ini, setelah hampir setengah Ramadhan berlalu, coba tanyakan pada diri sendiri:
Sudah siapkah aku mati? Sudah cukupkah bekal yang ku kumpulkan? Sudah seringkali aku melatih diri melepas dunia melalui puasa?
Imam Al-Ghazali memberi kita tiga tingkatan persiapan menghadapi kematian. Pertama, orang awam yang siap mati dengan syahadat dan taubat.
Kedua, orang khawas (khusus) yang siap mati dengan meninggalkan semua kecintaan pada dunia.
Ketiga, orang khawasul khawas (paling khusus) yang bahkan merindukan kematian karena ingin segera bertemu Kekasihnya.
Puasa melatih kita untuk mencapai tingkatan-tingkatan itu. Dari sekadar menahan lapar, lalu meningkat menjadi menahan syahwat, lalu mencapai puncaknya: merindukan pertemuan dengan Allah.
Inilah yang disebut Rasulullah dalam hadis qudsi: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari).
Karena ketika kita sudah tidak lagi terikat pada dunia, yang tersisa hanya Allah.
Maka di hari-hari tersisa Ramadhan ini, jangan biarkan puasa hanya menjadi rutinitas. Jadikan ia latihan kematian. Setiap rasa lapar adalah pengingat, setiap rasa haus adalah teguran, setiap lemas adalah peringatan.
Bahwa suatu saat, kita akan benar-benar mati. Dan hanya mereka yang sering berlatih yang akan siap menghadapi kematian yang sesungguhnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Referensi
- Al-Qur’an dan Terjemahannya
- Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah
- Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, terutama bab “Dzikrul Maut”
- Imam Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Zadul Ma’ad
- Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ad-Da’u wad Dawa’
- Imam Nawawi, Riyadhush Shalihin
- Jalaluddin Rumi, Matsnawi
- Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, Futuhul Ghaib
- Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam





