
Oleh Diantika IE
Menikah dan kuliah memang dua hal yang berbeda. Namun mungkin ini akan berbenturan dalam hati seorang anak muda yang kebutuhan akan pendampingan seorang belahan hati dalam perjalanan hidup sudah tumbuh. Akan tetapi keharusan untuk mewujudkan mimpi dan harapan orang tua pun harus ditunaikan dalam waktu yang bersamaan.
Ketika cinta sudah menggema di dalam dada, apa mau dikata? Pekerjaan belum ada, emak dan bapak masih mengirim uang untuk hidup sehari-hari. Alih-alih menafkahi, untuk hidup sendiri pun harus pandai-pandai mawas diri. Setiap hari berpikir, bagaimana caranya agar jangan sampai terus menerus merepotkan orang tua lagi.
Ada pula yang jodohnya sudah tersedia. Dia yang tampan atau si cantik jelita sudah siap dipinang pasrah walau nanti hanya makan nasi sama garam yang ditaburi cinta.
“Biar Aa masih kuliah gak apa-apa nanti kita ikhtiar dan berhemat sama-sama. Bukankah jika menikah rezeki pun bertambah?” katanya. Akhirnya galau menguasai dada.
Menikah adalah perintah bagi sesiapa yang sudah mampu. Sebagai jalan pelindung dari fitnah dunia dan agar tidak sampai mendekati zina. Sedangkan kuliah adalah gerbang awal yang dianggap sebagai kunci kesuksesan. Kekinian, lulus kuliah mendapatkan ijazah, baru bisa dianggap sebagai manusia berguna. Dengan ijazah bisa melamar kerja, berpenghasilan dan bisa menafkahi anak orang. Ya walaupun nyatanya di suatu tempat ada yang bisa mendapatkan pekerjaan mentereng dan gaji melimpah. Syaratnya hanya perlu punya orang dalam atau rajin-rajin pencitraan.
Fokus dulu pada kuliah sampai mendapatkan gelar sarjana setidaknya ada tanggung jawab yang selesai. Harapan orang tua terpenuhi ketika anaknya menggunakan toga dan disebut namanya oleh rektor di dalam sebuah sidang senat terbuka. Bangga, tentu saja sangat bangga. Menunda menikah barang sebentar sambil berpuasa kan bisa.
Akan tetapi bagaimana ceritanya ketika yang sudah terlanjur menikah tetapi mimpi kuliah masih ada?
Sekali lagi, kamu selalu memiliki pilihan dalam diri sendiri. Yang bisa kamu ambil berdasarkan kesanggupan. Kalau memang dua-duanya bisa dijalani sama-sama mengapa tidak? Menikah adalah perintah, menuntut ilmu pun demikian, Allah pasti akan memberikan jalan. Untuk nafkah pasti ada, untuk ongkos kuliah juga pasti bisa. Asalkan mau ikhtiar dan tawakal.
Jangan lupa, ada banyak mahasiswa di luar sana yang terjerumus pada zina karena tidak mampu menahan hasrat dunia tetapi pantang menikah sebelum lulus kuliah.
Tidak jarang pula di dalam rumah-rumah yang ramai, ada orang yang sudah berada dalam ikatan pernikahan tetapi masih minim ilmu dan wawasan karena tidak tersentuh pengalaman di bangku perkuliahan.
Anak-anaknya dibiarkan tumbuh tanpa didikan dan pengasuhan seorang ibu yang terpelajar. Karena ia hanya sibuk berdandan, bergaya di depan kamera. Atau belanja online dan ngerumpi dengan tetangga tanpa kontrol diri yang berarti. Sedangkan anak-anak memerlukan ibu yang memiliki pola pikir yang lebih maju dan lebih terpelihara jiwanya.
Sementara itu ayahnya hanya pulang dan pergi bekerja tanpa bisa menularkan nilai positif dan menjadi teladan yang berarti tentang bagaimana menghadapi kehidupan dengan pola pikir yang elegan.
Bayangkan jika kamu adalah ibu yang lulus kuliah. Maka anakmu akan lebih termotivasi dan bangga bahwa ibuku seorang sarjana. Wawasanmu lebih luas, analisamu lebih dalam, dan sikapmu lebih terjaga. Ilmu yang kamu dapatkan menajdi petunjuk setiap tindakan sekaligus menjadi benteng penjaga.
Lantas jika kamu seorang lelaki, kamu akan bisa membusungkan dada karena kamu yakin bahwa kamu punya arti, skil dan pengalaman yang bisa dibanggakan. Soal menghadapi hidup, kamu tak akan lagi merasa gentar.
Orang yang berpendidikan cenderung lebih bijak menghadapi kehidupan dibandingkan mereka yang tidak belajar. Masalah menghantam akan dihadapi dengan bijak. Sedangkan yang tanpa ilmu dan pengalaman, ia menyelesaikannya dengan cara pintas yang tidak lebih dulu dipikirkan dengan matang.
Ingat, mengumpul harta yang banyak harus dijaga baik-baik oleh kita. Tidur tak nyenyak banyak kekhawatiran. Sedangkan menuntut ilmu banyak-banyak, justru ilmulah yang kelak akan menjaga kita selamanya.
Menikah atau kuliah? Atau mungkin keduanya pilihan ada di tanganmu sendiri. Intinya, jadilah madrasah pertama yang berkualitas dan jadilah ayah teladan yang bijak karena pengalaman dan pendidikan. Meskipun kamu harus dihadapkan kepada dua pilihan yang sebernanya tidak saling berhubungan. Pilih salah satu, atau jika sanggup maka ambilah keduanya.
Ingatlah surat Al Insirah,
inna ma‘al-‘usri yusrâ
Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
fa idzâ faraghta fanshab
Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)
Semoga bermanfaat.






