
Oleh Parihah*
Pandemi COVID-19 telah menyisakan banyak kisah: kesedihan, kehilangan, keterbatasan. Namun di balik semua itu, tidak sedikit juga kisah yang menyiratkan hikmah dan kebaikan. Salah satunya datang dari Komplek Bahagia Permai, Margacinta—tempat sekelompok ibu-ibu menemukan cahaya dan ketenangan lewat Tadarus Online, sebuah kegiatan yang lahir dari keterpaksaan dan keterbatasan, namun kini tumbuh menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Awal Mula Tadarus Online
Semua bermula pada awal tahun 2020, ketika lockdown membatasi kegiatan keagamaan di masjid. Para ibu yang biasa bertadarus bersama pun terpaksa menghentikan rutinitas tersebut.
Namun dalam keterbatasan itu, muncul inisiatif dari Ibu Hajjah Etty Sumiati, seorang sahabat sekaligus penggerak komunitas yang mengusulkan ide sederhana: mengadakan tadarus secara online.
Awalnya hanya beberapa orang yang bergabung. Namun seiring waktu, jumlah peserta terus bertambah hingga kini, di tahun 2025, mencapai lebih dari 20 orang yang aktif mengikuti tadarus setiap hari.
Kegiatan ini berlangsung Senin hingga Jumat, selepas salat subuh, sekitar pukul 05.30 hingga 07.00 pagi.
Lebih dari Sekadar Membaca
Tak sekadar membaca Al-Qur’an bersama, kegiatan ini berkembang menjadi ruang belajar yang mendalam. Dengan menghadirkan beberapa mentor, para peserta:
- Memperbaiki bacaan
- Menghafal surat-surat pendek dari Juz 30 dan surat-surat pilihan
- Mempelajari ilmu tajwid
- Makharijul huruf
- I’rab
- Sesekali membahas tafsir Al-Qur’an yang membuka wawasan spiritual
Semangat ini selaras dengan firman Allah dalam Surat Al-Insyirah ayat 5–6:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”
Ayat ini menjadi napas bagi perjalanan Tadarus Online: lahir dari kesulitan, namun membawa kemudahan tak ternilai—ukhuwah, ilmu, dan keberkahan.
Selain menjadi sarana kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kecintaan mereka pada Al-Qur’an. Sebagaimana janji Allah dalam Surat Fatir:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS. Fatir: 29)
Setiap pagi yang diawali dengan lantunan ayat suci menjadi fondasi bagi hari yang lebih bermakna dan penuh keberkahan. Mereka tak hanya memperbaiki bacaan, tetapi juga memperbaiki diri, memperkuat ruhani, dan menanamkan harapan akan surga yang dijanjikan.
Bertetangga di Dunia, Bertetangga di Surga
Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata kosong, tapi mengandung harapan dan doa. Harapan agar hubungan baik yang terjalin di dunia, terutama antar-tetangga yang saling peduli, menghormati, dan mencintai karena Allah, tidak hanya berhenti di dunia, tetapi berlanjut hingga ke akhirat, di surga yang kekal abadi.
Meski kegiatan ini terlihat sederhana, keistiqamahan para peserta sungguh luar biasa. Mereka mengamalkan pesan Allah dalam Surat Fussilat:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan pula bersedih hati, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu’.” (QS. Fussilat: 30)
Bukankah amalan yang paling Allah cintai adalah amalan yang istiqamah (kontinu) meskipun sedikit?
Kini, meski pandemi telah berlalu, semangat yang lahir dari masa sulit itu terus menyala. Sebuah bukti bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada peluang untuk bertumbuh dan menemukan nikmat yang tak terduga.
Wallahu’alam
*Penulis Mahasiswi KPI IAI Persis Bandung







Subhanallah kegiatan yg positif bgt semoga bisa jadi contoh buat banyak orang😍