Website Berita dan Opini
Indeks

Tragedi Kelaparan di Gaza: Anak-Anak Meninggal Karena Malnutrisi di Tengah Blokade

Korban kelaparan di Gaza terus bertambah. Dalam 24 jam terakhir, 15 orang dilaporkan meninggal, sebagian besar anak-anak. Krisis kemanusiaan ini semakin memburuk di tengah blokade dan hancurnya sistem kesehatan.

Kelaparan di Gaza
Ibu Palestina Alaa Al-Najjar berduka atas bayinya yang berusia tiga bulan Yehia, yang meninggal karena kekurangan gizi. (Hatem Khaled/REUTERS)

Daras.id – Gaza kembali menjadi panggung penderitaan paling memilukan di abad ini. Dalam 24 jam terakhir, setidaknya 15 warga Gaza meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi parah. Di antara mereka terdapat bayi berusia enam minggu serta anak-anak yang belum sempat mengenal dunia lebih dalam.

Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa korban meninggal akibat kekurangan makanan dan nutrisi tidak hanya tersebar di wilayah utara, yang selama ini paling terdampak oleh blokade, tetapi kini mulai menyebar ke wilayah tengah dan selatan Gaza, termasuk daerah Khan Younis dan Rafah. Sejak awal tahun 2025, jumlah korban kelaparan di Gaza telah melampaui 100 orang, dan lebih dari 80 di antaranya adalah anak-anak.

“Kematian karena kelaparan bukan sekadar statistik. Itu adalah kematian yang perlahan, menyakitkan, dan tidak seharusnya terjadi di zaman ini,” ujar seorang dokter di Rumah Sakit Al-Shifa kepada Reuters.

Baca Juga:  Gaza Alami "Genosida Paling Kejam dalam Sejarah Modern", PBB Desak Israel Akhiri Pendudukan

Anak-anak Meninggal dalam Pelukan Ibu Mereka

Salah satu kisah memilukan datang dari Gaza Tengah. Seorang bayi bernama Yousef, baru berusia enam minggu, dilaporkan meninggal karena tubuhnya tidak mampu lagi menerima susu formula yang terbatas. Ibunya, yang juga mengalami malnutrisi berat, tak mampu menyusui.

Dari sumber Al Jazeera, seorang anak laki-laki berusia 13 tahun meninggal di rumahnya di Jabaliya karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah. Tidak ada tenaga medis yang bisa menolong karena rumah sakit penuh dan tak memiliki stok obat atau suplemen gizi dasar.

Kondisi ini diperparah dengan pemadaman listrik total, runtuhnya sistem sanitasi, dan kelangkaan air bersih. Organisasi internasional menyebut bahwa Gaza kini berada di ambang kelaparan massal (famine), dengan indikator WHO dan IPC (Integrated Food Security Phase Classification) menunjukkan peningkatan ke fase 5—fase bencana.

Blokade dan Serangan Udara Memperparah Krisis

Sejak konflik antara Israel dan Hamas pecah kembali pada Oktober 2023, Gaza mengalami blokade total dari semua sisi. Bantuan kemanusiaan masuk sangat terbatas dan sering kali terhambat oleh pemeriksaan ketat militer Israel. Serangan udara yang masih terus terjadi juga menyebabkan banyak fasilitas pertanian dan logistik hancur total.

“Kami telah kehilangan lebih dari 70% kemampuan distribusi makanan. Petani tidak bisa panen, truk tidak bisa bergerak, dan dapur umum kehabisan bahan makanan,” ungkap seorang relawan UNRWA kepada Reuters.

Banyak keluarga di Gaza kini hanya bisa makan satu kali sehari—jika beruntung. Sebagian lainnya mengandalkan tepung basi dan air garam untuk bertahan hidup. Beberapa rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan anak-anak yang menangis kelaparan sambil memegang perut kosong mereka.

Baca Juga:  Israel Nyatakan Akan Kendalikan Seluruh Wilayah Gaza

Reaksi Internasional: PBB dan Lembaga Kemanusiaan Mendesak Tindakan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Sekjen António Guterres telah menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini dan menyebutnya sebagai “bencana kemanusiaan yang disengaja.” UNICEF dan World Food Programme (WFP) juga mengeluarkan pernyataan mendesak agar koridor kemanusiaan dibuka tanpa syarat.

Namun, upaya diplomatik sejauh ini belum membuahkan hasil. Pemerintah Israel tetap bersikeras bahwa distribusi bantuan harus melalui kontrol penuh demi alasan keamanan, sementara kelompok militan di Gaza juga kerap mempersulit jalur bantuan dari pihak luar.

Kelaparan di Gaza
Kerumunan warga Palestina berbaris di Kota Gaza untuk menerima makanan yang didistribusikan oleh sebuah badan amal. (Ali Jadallah/Anadolu)

Tanggung Jawab Global yang Terabaikan

Banyak pengamat menilai bahwa tragedi ini adalah cerminan kegagalan komunitas internasional dalam mencegah bencana kemanusiaan yang sudah bisa diprediksi. Sejak awal 2024, para analis telah memperingatkan potensi kelaparan massal jika blokade tidak dicabut. Namun, dunia tampak pasif.

“Jika kelaparan digunakan sebagai senjata perang, itu adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan Konvensi Jenewa,” kata Sarah Leah Whitson, direktur Democracy for the Arab World Now (DAWN), kepada Al Jazeera.

Masa Depan yang Makin Gelap untuk Anak-anak Gaza

Laporan kesehatan terbaru dari UNICEF menunjukkan bahwa lebih dari 300.000 anak-anak di Gaza kini dalam kondisi gizi buruk, dan sekitar 28.000 di antaranya berada di tingkat yang paling parah (severe acute malnutrition).

Dengan sistem kesehatan yang runtuh, anak-anak ini memiliki kemungkinan besar untuk menyusul korban sebelumnya, jika tidak ada perubahan kebijakan drastis dalam waktu dekat.

Tragedi kelaparan di Gaza bukan sekadar efek samping dari konflik, tetapi sebuah bencana terstruktur yang terus dibiarkan terjadi oleh dunia internasional. Anak-anak, yang seharusnya dilindungi oleh hukum dan nurani kemanusiaan, justru menjadi korban paling tak berdaya.

Saat dunia menyibukkan diri dengan negosiasi politik, jasad-jasad kecil yang kurus kering terus bertambah di sudut-sudut rumah sakit dan pengungsian. Gaza tidak sedang menunggu belas kasih—ia sedang menanti keadilan dan tanggung jawab global.

(Daras.id, Newsroom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *