
Oleh Ustadz Iwan Ridwan
Manusia kerap terjebak dalam logika dan perhitungan matematis saat menghadapi hidup. Segala sesuatu ditimbang dengan rasionalitas semata, hingga akhirnya melahirkan kecemasan dan ketakutan berlebihan. Padahal, hidup tidak selalu harus ditundukkan oleh logika dan angka-angka.
Bukankah sejarah Islam telah berulang kali mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah dan kekuatan fisik? Kita mengenal kisah pasukan kaum Muslimin yang sedikit, namun mampu mengalahkan pasukan musuh yang jauh lebih besar. Semua itu terjadi bukan karena keunggulan strategi semata, melainkan karena pertolongan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Betapa banyak kelompok kecil yang mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Sosok Shilah bin Asyyam al-Adawi
Salah satu bukti nyata dari makna ayat tersebut tercermin dalam kisah Shilah bin Asyyam al-Adawi, seorang tabi’in yang dikenal sebagai ahli ibadah. Ia adalah sosok yang menghidupkan malam dengan sholat dan mengisi siang dengan keberanian di medan jihad—seorang hamba yang seimbang antara ibadah dan perjuangan.
Kabar tentang kesalehan Shilah bin Asyyam membuat Ja’far bin Zaid diliputi rasa penasaran. Benarkah ia adalah sosok yang demikian khusyuk dalam ibadahnya? Untuk menjawab rasa ingin tahunya, Ja’far pun mengisahkan sebuah peristiwa luar biasa yang disaksikannya sendiri.
Malam Sunyi di Tengah Medan Jihad
Usai sebuah pertempuran sengit, pasukan kaum Muslimin beristirahat di sebuah wilayah dalam perjalanan menuju kota Kabul. Malam pun turun perlahan. Setelah menunaikan sholat Isya, para prajurit masuk ke tenda masing-masing untuk melepas lelah.
Shilah bin Asyyam al-Adawi pun masuk ke tendanya, seperti prajurit lainnya. Namun malam itu, Ja’far bin Zaid bertekad untuk tidak tidur. Dalam hatinya ia berkata, “Malam ini aku akan memperhatikan Shilah.”
Ketika malam mencapai pertengahannya, Ja’far melihat Shilah keluar dari tenda. Ia berjalan menembus gelap menuju hutan yang lebat, pepohonannya rimbun, rumputnya tebal dan tajam—tanda wilayah itu lama tak disentuh manusia. Dengan hati-hati, Ja’far mengikutinya dari kejauhan tanpa sepengetahuannya.
Sholat, Singa, dan Ketundukan Makhluk
Di sebuah tempat yang sangat sunyi, Shilah bin Asyyam berhenti. Ia mencari arah kiblat dan mulai menunaikan sholat tahajud dengan penuh kekhusyukan. Ja’far mengamati dari kejauhan, hatinya diliputi kekaguman.
Tak lama kemudian, sesuatu yang mengerikan terjadi. Dari arah timur, seekor singa muncul. Begitu melihat binatang buas itu, Ja’far panik dan segera memanjat pohon untuk menyelamatkan diri.
Namun Shilah bin Asyyam tidak bergeming sedikit pun. Ia tetap larut dalam sholatnya, seolah-olah berada di taman yang damai, bukan di hutan yang berbahaya.
Singa itu berjalan semakin dekat ke arah Shilah. Ja’far bergumam dalam hatinya, “Demi Allah, singa itu akan menerkamnya saat ia bersujud.”
Tetapi apa yang terjadi justru di luar nalar manusia.
Singa itu berhenti. Ia memperhatikan gerakan sholat Shilah bin Asyyam—diam, tunduk, dan tenang. Setelah beberapa saat, singa tersebut berbalik pergi dengan langkah pelan, tanpa auman, tanpa suara, seolah tunduk pada kekhusyukan seorang hamba yang bertawakal penuh kepada Allah.
(Diringkas dari kitab Shuwarun min Hayati at-Tabi’in, hlm. 271–277)
Hikmah Ketakwaan Mengalahkan Ketakutan
Kisah ini mengajarkan bahwa ketakwaan mampu membuka jalan keluar dari kesulitan hidup. Sering kali kesalahan manusia adalah terlalu mengandalkan logika dan perhitungan duniawi, hingga melupakan Allah SWT—Sang Pencipta, Maha Kaya, dan Maha Pemberi rezeki.
Jika ketakwaan benar-benar bersemayam di dalam hati, maka rasa takut terhadap makhluk akan sirna, termasuk ketakutan-ketakutan yang hanya lahir dari imajinasi dan pikiran sendiri.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya.” (QS. At-Talaq: 2–3)
Ketakwaan menjinakkan keganasan, menenangkan kegelisahan, dan menundukkan makhluk.
Karena pada hakikatnya, bukan singa yang paling ditakuti, melainkan hati yang jauh dari Allah.
Wallahu ‘alam.





