
Daras.id, Bandung — Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pejuang bangsa, tetapi juga ruang refleksi bagi generasi muda dalam menafsirkan ulang makna perjuangan.
Bagi sebagian anak muda, kepahlawanan hari ini tak lagi sekadar tentang kisah masa lalu, melainkan tentang keberanian menegakkan kebenaran, bersuara, dan berbuat nyata di tengah tantangan zaman.
DARAS menghimpun pandangan dari dua sosok muda — Ahsan Rojaq Abdillah, Presiden Mahasiswa BEM IAI Persis Bandung, dan Ovick, vokalis band Rozenski — yang memaknai Hari Pahlawan dari dua ruang perjuangan berbeda: kampus dan panggung musik.
Refleksi Ahsan Rojaq Abdillah dari Kampus IAI Persis Bandung
Bagi Ahsan Rojaq Abdillah, makna 10 November tidak berhenti pada seremoni atau simbol penghormatan belaka.
“Ia hadir dalam rangka refleksi atas perjuangan dan keteguhan rakyat yang melawan penjajahan. Perjuangan itu tidak lahir di ruang hampa, tetapi dibayar dengan darah, air mata, hingga nyawa,” ujar Ahsan.
Sebagai aktivis mahasiswa, Ahsan memandang Hari Pahlawan sebagai momentum untuk menegaskan kembali makna perjuangan di masa kini.
“Tetap berpihak pada kebenaran dan menyadarkan mahasiswa akan perannya di tengah masyarakat adalah perjuangan yang layak dijalani, sekalipun terdapat hambatan,” katanya.
Menurutnya, semangat kepahlawanan bagi generasi muda dapat diwujudkan dengan menumbuhkan nilai kejujuran dan keberanian dalam mengambil sikap.
“Kewajiban menegakkan kebenaran tidak hanya hadir kepada anggota militer atau pejabat, tetapi juga di setiap ruang di mana kebenaran dikucilkan. Di sanalah peran kita semua untuk tetap teguh bersama kebenaran,” tegasnya.
BEM IAI Persis Bandung, lanjut Ahsan, berupaya menumbuhkan semangat kepahlawanan melalui gerakan berbasis nilai dan pembentukan karakter mahasiswa.
“Kami berupaya membimbing mahasiswa untuk menjadi insan yang memiliki semangat positif, inisiatif, dan konstruktif dalam menghadapi persoalan di sekitarnya,” ungkapnya.
Ketika ditanya tentang figur pahlawan masa kini, Ahsan menyebut beberapa tokoh yang menginspirasi dirinya.
“Ada B.J. Habibie, M. Natsir, H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan banyak lagi. Dari generasi sekarang, saya juga terinspirasi oleh Ferry Irwandi dengan Malaka Project-nya,” ujarnya.
Pandangan Ovick Rozenski dari Panggung Musik
Berbeda dengan Ahsan, Ovick, vokalis band Rozenski, menyoroti sisi lain dari narasi kepahlawanan nasional.
“Saya masih ragu kalau ditanya soal Hari Pahlawan, sebab saya tidak tahu pahlawan mana yang paling benar. Saya rasa pahlawan yang diceritakan sejak SD sampai sekarang cacat sejarah. Ada rekayasa sejarah,” ujarnya.
Bagi Ovick, Hari Pahlawan sejatinya adalah tanggal-tanggal di mana tokoh-tokoh perlawanan sosial gugur di tanah air.
“Hari Pahlawan sebenarnya adalah tanggal kematian Tan Malaka yang ditembak mati di negeri sendiri. Hari pahlawan yang sesungguhnya juga tanggal kematiannya Marsinah, Widji Tukul, Munir, Kancil, dan para ibu-ibu Pasar Banjaran yang rela menghadang saat pasar mereka diruntuhkan,” katanya.
Ia melihat hubungan erat antara musik dan semangat kepahlawanan.
“Musik dan sejarah kepahlawanan yang saya sebutkan tadi adalah lekatan yang harus disuarakan, karena itu pahlawan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Menurut Ovick, bentuk kepahlawanan yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian berkata benar.
“Yang dibutuhkan adalah mereka yang berani berkata benar, seperti kebenaran ayah dan ibu saat berikhtiar untuk anak-anak agar hidup lebih layak,” ujarnya.
Ketika ditanya tentang figur pahlawan masa kini, Ovick menyebut beberapa nama yang menginspirasinya.
“Zack de la Rocha, James Walsh, Chico Mendes, Munir, ibu saya, dan almarhum ayah saya,” sebutnya.
Meski kritis terhadap narasi sejarah resmi, Ovick tetap optimistis bahwa generasi muda masih punya semangat kepahlawanan.
“Pasti bisa, selama kehidupannya diisi dengan nilai positif, berani mengungkap kebenaran atas dirinya sendiri, berani membangun relasi dengan siapa pun, dan berani mengenal Tuhannya tanpa lupa salat lima waktu bagi yang Muslim,” katanya.
Kepahlawanan dalam Suara dan Sikap
Dari ruang kampus hingga panggung musik, dua anak muda ini menunjukkan bahwa makna kepahlawanan terus berevolusi. Bagi Ahsan, kepahlawanan lahir dari kesadaran intelektual dan keberanian berpihak pada nilai. Bagi Ovick, kepahlawanan adalah keberanian menantang kemapanan dan menyuarakan kebenaran.
Keduanya berbeda medan, namun satu semangat: menghidupkan kembali jiwa perjuangan dalam bentuk yang paling manusiawi — berpikir jujur, berbuat benar, dan tidak berhenti peduli.
(San)






