Website Berita dan Opini
Indeks

G7 Terbelah di Tengah Bara Timur Tengah dan Ukraina

KTT G7 2025 di Kanada diwarnai perpecahan pandangan soal konflik Israel–Iran, dukungan terhadap Ukraina, dan usulan kontroversial kembalinya Rusia ke forum elit ini.

G7 Terbelah
KTT G7 2025 di Kanada (The Guardian)

Internasional, daras.idKTT G7 yang digelar di Kananaskis, Kanada, berlangsung di tengah meningkatnya konflik global. Ketegangan antara Israel-Iran dan stagnasi perang di Ukraina membayangi pertemuan para pemimpin negara-negara maju ini. Alih-alih menunjukkan persatuan, G7 tahun ini justru gagal mencapai komunike bersama dan memunculkan perbedaan tajam antar anggotanya. Inilah kali pertama sejak satu dekade terakhir, G7 terbelah secara terbuka di panggung dunia.

“Kami tidak mencapai konsensus untuk komunike bersama,” ujar Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dalam pernyataan penutupnya, seperti dilaporkan El País (18/6). “Namun kami sepakat bahwa dunia membutuhkan lebih banyak diplomasi, bukan lebih banyak peluru.”

Amerika Keluar dari Meja, Timur Tengah Membara

Presiden Trump meninggalkan pertemuan satu hari lebih awal, dengan alasan “krisis keamanan nasional” menyusul laporan eskalasi terbaru antara Israel dan Iran. Ketegangan meningkat setelah serangan rudal lintas batas dan manuver militer yang semakin agresif dari kedua belah pihak.

Dalam konferensi pers dadakan sebelum meninggalkan Kanada, Trump menyatakan, “Iran akan menyesal telah melibatkan kami. Ini bukan lagi soal diplomasi. Ini soal penyerahan tanpa syarat.”

Baca Juga:  Infografis Konflik Iran-Israel: Pandangan Analis Internasional terhadap Eskalasi Timur Tengah

Sementara itu, para pemimpin Eropa tampak frustrasi dengan pendekatan agresif Washington. Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan bahwa Eropa tidak akan mendukung intervensi militer sepihak tanpa mandat internasional. “Kami tidak bisa membiarkan perang lain dimulai di wilayah yang sudah penuh luka,” katanya.

Zelenskiy Pulang dengan Tangan Kosong

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy yang datang dengan harapan akan membawa pulang paket bantuan baru dan janji persenjataan tambahan, malah harus kecewa. Meski Kanada menjanjikan bantuan sebesar C$2 miliar, tidak ada komitmen senjata baru dari Amerika Serikat.

“Kami pulang tanpa hasil, karena solidaritas di meja ini telah runtuh,” ujar Zelenskiy, seperti dikutip Reuters.

Menurut laporan Reuters, Trump menolak permintaan pertemuan langsung dengan Zelenskiy. Sebuah isyarat politik bahwa arah hubungan Amerika-Ukraina mungkin akan berubah drastis dalam beberapa bulan ke depan. Situasi ini memperkuat kesan bahwa G7 terbelah, bukan hanya soal Israel dan Iran, tetapi juga dalam menyikapi kelanjutan konflik di Eropa Timur.

Palestina: Dibicarakan, tapi Tidak Ditegaskan

Meski konflik Israel–Iran mendominasi agenda G7, nasib rakyat Palestina hanya disebut sepintas. Dalam dokumen hasil pertemuan, para pemimpin G7 menyerukan penghentian permusuhan dan akses bantuan kemanusiaan ke Gaza. Namun tak satu pun menyebutkan secara eksplisit dukungan terhadap pembentukan negara Palestina atau solusi dua negara.

“Kami menyerukan penghentian kekerasan dan akses tanpa hambatan untuk bantuan kemanusiaan di Gaza,” demikian kutipan dari ringkasan ketua pertemuan. (Sumber: El País)

Sebaliknya, G7 secara tegas menyatakan bahwa Israel berhak membela diri, dan menyalahkan Iran serta kelompok seperti Hizbullah dan Hamas sebagai pengacau stabilitas regional.

“Kami menentang segala bentuk dukungan terhadap kelompok militan yang merongrong stabilitas kawasan, termasuk Hizbullah dan Hamas.” Seperti dikutip Financial Times.

Baca Juga:  Medan Perang Baru Kekuasaan Global: Siapa yang Untung, Siapa yang Tumbang?

Bayang-Bayang Putin dan Wacana Rusia Masuk G7

Sebagai catatan tambahan yang mengundang kontroversi, Trump kembali mengangkat ide lama: mengembalikan Rusia ke dalam G7. “Kita harus mengundang mereka ke meja ini, karena tanpa Rusia, G7 tak bisa menyelesaikan apa pun,” ucapnya.

Namun suara dari Eropa langsung menolak. “Rusia adalah pihak agresor, bukan mitra,” tegas Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Wacana ini memperjelas bahwa G7 terbelah tidak hanya dalam menanggapi krisis yang sedang berlangsung, tetapi juga dalam menentukan siapa yang layak duduk di meja kekuasaan global.

Dunia yang Retak

KTT G7 kali ini bukan hanya gagal menyampaikan komunike bersama, tetapi juga menjadi simbol fragmentasi geopolitik Barat. Di saat dunia memerlukan kepemimpinan kolektif untuk mengatasi perang, krisis migran, dan ketidakpastian iklim, pertemuan di pegunungan Kananaskis justru mencerminkan dunia yang semakin retak.

Apakah ini tanda bahwa tatanan global yang lama tengah runtuh? Atau sekadar masa transisi menuju keseimbangan kekuatan baru?

Pertanyaan itu kini menggantung di udara, seiring kepulangan para pemimpin dunia—masing-masing dengan agendanya sendiri, dan dunia menunggu jawabannya.

G7 Terbelah
Infografis G7 (daras.id)

(Daras.id Newsroom)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *