Website Berita dan Opini
Indeks

Tiga Tanda Seseorang yang Hidup di Era Kemajuan Pengetahuan tapi Belum Bijaksana

Era Kemajuan Pengetahuan
Gambar Ilustrasi

Oleh Hendi Rustandi*

Kita hidup di era kemajuan pengetahuan yang luar biasa. Informasi bisa diakses dalam hitungan detik, pendidikan semakin terbuka, dan gelar akademik semakin mudah ditemui. Namun, tingginya pendidikan tidak otomatis membuat seseorang bijaksana.

Tulisan ini sebagai refleksi diri, sebuah pengingat bahwa ketika seseorang sampai pada tangga pendidikan tertinggi, yang harus lebih dahulu ditata adalah hati. Jangan sampai gelar semata dijadikan tujuan, sekadar menambah panjang catatan di papan nama.

Gelar hanya tercatat di ijazah, sedangkan kebijaksanaan tercermin dalam sikap. Seorang doktor sejati bukan diukur dari toga dan sertifikatnya, melainkan dari bagaimana ia bersikap. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hati ia seharusnya.

Baca Juga:  Para Penjilat, Akan Mati Cepat Saat Lidahnya Kering

Tiga Tanda Hidup di Era Pengetahuan tapi Belum Bijaksana

Ada tiga tanda yang menunjukkan seseorang hidup di tengah kemajuan pengetahuan, tetapi belum benar-benar bijaksana.

1. Gelar Tinggi, tetapi Merendahkan Orang Lain

Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin terbuka dan rendah hati. Namun, bila seseorang gemar menyombongkan pendidikannya sambil meremehkan orang lain, itu tanda bahwa ilmunya baru sebatas pengetahuan, belum menjadi kebijaksanaan.

2. Banyak Tahu, tapi Tidak Mampu Menahan Emosi

Pengetahuan memang memperluas wawasan, tetapi kebijaksanaan mengajarkan pengendalian diri. Orang yang pintar berbicara, tetapi mudah tersulut marah atau menyakiti dengan kata-kata, menunjukkan bahwa ilmunya belum membentuk karakter.

3. Mencari Pengakuan, Bukan Memberi Manfaat

Ilmu yang bermanfaat akan menghadirkan kebaikan bagi banyak orang. Sebaliknya, bila pengetahuan hanya dijadikan alat untuk pamer atau mengejar gengsi, maka ia tidak lebih dari tumpukan informasi tanpa makna.

Pengetahuan Perlu Dibingkai Kebijaksanaan

Di era kemajuan pengetahuan seperti sekarang, yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan otak, tetapi juga kelapangan hati. Pendidikan seharusnya membuat seseorang semakin terbuka, sabar, dan peduli pada sesama.

Pada akhirnya, ijazah mungkin bisa membuka pintu karier, tetapi kebijaksanaanlah yang membuka pintu hati orang.

*Penulis: Dosen dan Mahasiswa Doktoral

Editor: San

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *